
“Dia seperti yang mereka katakan, Anjing gila. Tapi bukan sekedar anjing biasa, melainkan seekor Bulldog.”
Stadion menjadi begitu sunyi ketika setiap orang fokus pada pertarungan Gilang dengan tiga siswa sekaligus, Kirana menonton sambil sesekali mengambil koin yang dijatuhkan oleh murid lain saat berkelahi.
Semua murid melihat banyaknya koin yang dijatuhkan oleh tiga siswa mutan yang dikalahkan Gilang. Mereka semua menelan ludah iri, semua orang berpikir jika mereka mendapatkan koin sebanyak itu pasti akan membuat mereka masuk kelas terbaik.
Tapi melihat pertarungan brutal yang baru saja terjadi membuat tidak ada satupun murid yang mau berurusan dengan Gilang.
“Payah!.” maki Gilang, dia kemudian memasukkan seluruh koin miliknya secara instan dengan satu jentikan jari. Melihat koin-koin menghilang membuat banyak murid kecewa.
“Dimana gadis sial itu bersembunyi.” sambil mengendus seperti seekor anjing, Gilang mencari keberadaan Kirana. Dengan penciuman yang tajam membuat Gilang dengan mudah menemukan gadis itu.
“Di situ kau rupanya!” seperti sebelumnya, Gilang dengan lidah menjulur dan air liur menetas berlari kearah Kirana mencoba untuk menerkamnya.
“Sial kenapa dia menuju kemari?.”
“Dia pasti mengincar poin kita!.”
“Tidak aku tidak ingin kehilangan poin dan masuk kelas E.”
“Kalian pergi sana halangi anjing itu, dia pasti datang kearah sini karena poin yang aku miliki.”
Semua murid menjadi histeris saat Gilang berlarian menuju ke arah mereka. Tidak ada yang tahu jika Kirana lah yang menjadi target Gilang.
“Aku tidak akan membiarkanmu merebut poin Adrian!.”
“““Yaa… serang!.”””
Sekelompok pelajar berlari menuju Gilang untuk menghalanginya, tapi bagaikan buldozer tidak ada seorangpun yang mampu menahan Gilang.
Gadis bernama Adrian yang berusaha dilindungi banyak siswa hanya bisa menutup mata pasrah dengan apa pun yang akan Gilang lakukan padanya.
“Eh?.”
Tapi Gilang melewatinya begitu saja.
“Minggir bodoh, aku tidak peduli dengan poin mu. Yang aku perlukan adalah pembalasan dendam karena penghinaan di gerbang pagi tadi.” ucap Gilang yang terus menuju kearah Kirana.
“Wa… wahh tidak kenapa kau kemari? Pergi aku tidak memiliki banyak poin!.”
Sama seperti Adriana, gadis berkacamata dan dua tanduk di kepalanya itu begitu ketakutan ketika giliran berlari kearahnya.
“Uwaaah…”
Bruuk!
Karena terlalu takut Kirana tersandung saat dia melangkah mundur. Melihat itu membuat sebagian besar penonton merasa kasihan pada gadis mutan itu.
__ADS_1
“Hoy! hentikan dia tidak memiliki banyak poin!.”
“B4jingan! Dia hanya mau mempermalukan gadis itu.”
“Cari lawan yang lebih sepadan dasar pecundang!.”
“Itu pasti karena gadis itu seorang mutan seperti tiga siswa yang dia kalahkan.”
Teriakan para senior di kursi penonton tidak sedikitpun membuat Gilang mengurungkan niatnya. Dia terus berlari dengan niat membunuh yang kuat, melihat itu beberapa guru berniat menghentikannya. Tapi semua orang berhenti ketika sebuah tendangan meluncur mulus ke wajah Gilang.
braaak!
“Ghahak!.”
Untuk kesekian kalinya Gilang menyemburkan darah dari mulutnya. Akibat tendangan itu Gilang terpental semakin jauh dari Kirana.
“Kau seorang pria tidak memiliki harga diri. Bagaimana bisa kau berniat menyerang seorang gadis yang sudah tidak dapat berdiri?.”
Datang dengan cahaya, kehadirannya begitu bersinar, dia bagaikan seorang pahlawan.
Leona Wildroar datang untuk menyelamatkan temannya.
“Hiks hiks... Len, syukurlah kau datang!.” Kirana sesunggukan seolah habis menangis.
“Enyah kau, ini masalahku dengan gadis itu!.” dengan penuh amarah Gilang menyerang Leona yang menghalangi usahanya untuk balas dendam. Tapi lagi-lagi datang orang lain yang melindungi Kirana.
“Ghoeeek…” terdengar teriakan yang menandakan tubuh tersebut masih hidup. Kemudian Gilang melangkahi tubuh yang Cecilia lempar kearahnya.
“Okey… ini perang berarti.” melihat pemuda itu tidak mengindahkan peringatan darinya, Cecilia segera meluncur kerah Gilang.
Bamm...
Bentrokan antara keduanya terjadi, mereka berusaha saling melancarkan pukulan ke masing-masing lawan. Tapi serangan Gilang yang berfokus pada kekuatan kalah cepat dengan serangan Cecilia yang berfokus pada kecepatan. Namun meski begitu Cecilia tidak merasa sedang di atas awan karena dia melihat Gilang memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.
“Cecil, aku akan membantumu!.”
Melihat jika temannya tidak akan mudah mengalahkan Gilang, Leona memutuskan untuk membantu. Pertarungan antara dua perempuan melawan satu lelaki menjadi tontonan yang sangat menarik perhatian para guru.
“Sepertinya kali ini sekolah kita kedatangan murid-murid yang sangat berbakat.” ucap guru Alkemis, Miss Dean.
“Hemp, yang aku lihat hanya para pengganggu.” balas guru sihir Summon dan Tamer, tuan Antoni.
“Ya ampun Tuan Antoni bagaimana anda bisa berkata seperti itu, wajar bukan jika anak-anak menjadi berisik. Itu karena jiwa mereka masih berapi-api dan penuh rasa petualangan.” ucap wanita dengan penampilan perawat, Suster Siska. Selain seorang perawat di UKS sekolah, suster Siska juga seorang guru yang mengajarkan sihir suci.
“Hem… ini akan menjadi tahun yang merepotkan.” gumam guru olahraga, Miss Laura.
Miss Laura melirik kepala sekolah Tejo Dobeldor yang berada 3 kursi darinya, wanita itu dapat melihat senyum kecil di wajah pria tua itu.
__ADS_1
“Aku berharap dewa bisa menyelamatkan jiwa-jiwa malang ini.” ucap suster Siska dengan suara yang begitu kecil hingga hanya dua orang yang mendengarnya, Miss Laura dan seorang gadis di stadion.
“Yeah, aku juga berharap sama.” balas Miss Laura.
Ada lebih 20 duru dengan keahlian berbeda yang mengajar di sekolah Archata, mereka jarang berkumpul bersama karena berbagai masalah. Tapi hari ini mereka semu datang untuk melihat murid baru yang akan mereka bina.
***
“Pak…Yu...”
Gilang terkapar di atas koin emas miliknya sendiri, pertarungan melawan Cecilia dan Leona membuatnya harus kehilangan semu poin yang sudah dua kumpulkan.
Di nafas terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran, Gilang menatap kearah Kirana. Gadis yang membuatnya sangat marah dan kehilangan kendali itu masih tetap membuatnya sebal di saat-saat terakhir.
“!!!!”
Gilang sungguh terkejut ketika dia melihat Kirana memberinya jari tengah, lalu dengan jari tengah itu Kirana menarik bagian bawah kelopak mata.
“Bwee…” terakhir gadis itu menjulurkan lidah untuk mengejek Gilang.
“Gadis sialan…. Ghuak.” marah pada ledekan yang diberikan oleh Kirana, Gilang mencoba untuk bangkit. Namun sebuah tendangan membunuhnya pingsan.
“Tck, pria yang keras kepala.” tendangan tersebut berasal dari Leona.
“Mungkin aku terlalu banyak memainkan emosinya.” gumam Cecilia pelan hingga Leona tidak mendengarnya.
Pertandingan kembali berlangsung, walaupun mereka sudah dipastikan akan masuk ke kelas A setelah mendapatkan poin yang dijatuhkan oleh Gilang. Tapi Leona dan Cecilia terus berburu poin dari murid lain untuk menentukan siapa yang akan menjadi juara pertama.
Sedangkan Kirana, dia sibuk berbaring di rerumputan sambil memegangi kakinya dengan raut wajah kesakitan. Kirana mencoba berpura-pura sedang terluka.
“Oh ini sangat sakit, seseorang ku mohon tolong aku!.” dia mulai bersandiwara. aktingnya sungguh memukau hingga membuat anak-anak dia sekitarnya kebingungan.
“Mungkin dia kram.” ucap seorang anak.
Tidak lama kemudian dua petugas medis membawa tandu lalu menggotongnya ke ruang UKS.
***
Gerakan Akanbe.
Chapter 30 : Diving.
END.
__ADS_1