
...[Jangan lupa tinggalkan komentar dan like setelah membaca]...
________________________________________________
Kabut berwarna merah muda menyelimuti seluruh ruangan bos dungeon, siapapun yang menghirup kabut itu akan terhipnotis lalu menjadi sekutu dari bos dungeon. Tapi sepertinya usaha para Cupid untuk menyelamatkan diri merupakan tindakan yang sia-sia.
Cecilia yang mengenakan masker gas terus melakukan serangan bersama Skeleton Soldier sedangkan Regina memberikan dukungan dari belakang.
Teng!
Sebuah anak panah ditangkis dengan perisai Skeleton Soldier lalu dari belakang Cecilia melompat untuk menyerang salah satu Cupid. Melihat jika rekannya dalam bahaya Cupid lain berusaha menolong tapi Regina menghalangi dengan melempar beragam sihir.
Jraasss!
“Koaaaaahhh...”
Jeritan kematian Cupid menandakan penaklukan dungeon ini akan segera berakhir.
***
“Groooar...”
Wajah Cupid terakhir berubah begitu menyeramkan saat temannya telah terbunuh , dia seolah akan memasuki mode mengamuk.
Tiga petarung yang telah berhasil mengalahkan satu Cupid saat ini bersiap untuk mengalihkan yang terakhir, tapi Kirana tiba-tiba bangkit dari kursi penonton. Ketiganya pun menyadari jika Kirana akan melawan Cupid terakhir seorang diri.
“Aku mulai mengatuk karena ini sudah hampir tengah malam, jadi mari kita taklukkan dungeon ini secepatnya.” ucap Kirana yang mulai melakukan perdagangan.
Groaaar….
Dengan marah malaikat cinta yang sudah berubah menjadi bayi setan dengan kulit merah menembakkan ratusan anak panah kearah Kirana.
“Lamban.” Kirana dengan mudah menangkis anak panah yang menuju kearahnya dengan sebuah tulang berujung runcing. Setelah menangkis semua anak panah, Kirana melempar tulang tadi kearah bayi setan hingga menembus kepalanya.
Dengan kepala tertusuk tulang sepanjang satu meter bayi setan masih melayang menandakan serangan tadi belum cukup untuk membunuhnya.
“Keras kepala, HuH!.” tanpa ampun Kirana melemparkan ratusan duri tulang pada bayi setan.
Bruuk!
Bayi setan itu terjatuh dengan tubuh dipenuhi duri tulang seperti seekor landak. Regina yang melihat makhluk kecil itu sekarat hanya bisa menahan diri untuk tidak menangis.
[Penaklukan dungeon berhasil dilakukan]
Suara terdengar langsung di kepala Kirana dan yang lainnya saat bos terakhir dungeon berhasil dikalahkan.
Di tengah ruangan muncul sebuah lingkaran teleportasi yang akan membawa mereka menuju pintu keluar dungeon, sementara di sisi lain ada dinding terbuka yang merupakan ruangan rahasia tempat dungeon core tersimpan.
***
Di luar dungeon banyak Hunter yang tiba-tiba muncul dari cahaya akibat dikeluarkan secara paksa oleh dungeon.
“Apa yang terjadi? Aku padahal hampir mengalahkan bos lantai 5.”
__ADS_1
“Hampir saja aku mati oleh bos lantai 4.”
“Semua Hunter dikeluarkan secara paksa, mungkinkah ada seseorang yang berhasil mengambil dungeon core?.”
“Haaah… mustahil dungeon ini saja baru satu hari muncul, butuh setidaknya satu Minggu untuk memetakan dan mengetahui kekuatan bos setiap lantai.”
“Ya bagaimana jika yang melakukan penaklukan adalah Hunter tingkat S?.”
“Tapi bukankah Hunter tingkat S yang menjaga kota ini adalah tuan Dayat Watugledek, yang saat ini sedang memeriksa dungeon di Kalimantan?.”
“Benar tidak ada Hunter S di kota ini sekarang, kejadian ini pasti hanya sebuah keanehan.”
“Tidak, ada satu orang yang mungkin bisa menyelesaikan dungeon ini dengan cepat. Kalian mungkin tidak tahu orang itu karena sudah ber jam-jam di dalam dungeon.”
Para Hunter yang berada di dalam dungeon belum tahu tentang insiden besar monster Slime, sehingga mereka tidak percaya jika ada seseorang Hunter mengalahkan monster tingkat A seorang diri.
“Bahkan menyelesaikan tantangan kurang dalam 1 jam? Apa kalian sedang bermimpi atau apa!.” bentak seorang Hunter.
Tapi semua pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi segera terjawab saat Kirana dan yang lainnya muncul di depan pintu masuk dungeon dengan membawa bola sebesar empat puluh centimeter yang memancarkan cahaya terang.
Semua orang terdiam melihat Kirana yang membawa dungeon core. Hingga suara runtuh yang berasal dari menghilangnya dungeon membuat mereka tersadar.
Kericuhan pun segera terjadi.
“Ini nyata dia menyelesaikan tantangan dungeon kurang dari satu jam.”
“Cih, lantai dungeon pasti sedikit karena ini adalah dungeon baru.”
“Aku sudah berada di dalam dungeon sejak pagi tapi baru mencapai lantai 9.”
Semua orang segera mengerumuni Kirana dan anggota penakluk dungeon. Kirana yang sudah lelah dan ingin beristirahat terpaksa menunda tidurnya untuk menaikkan popularitas.
‘Pikirkan kedepannya, aku tidak perlu susah payah melakukan banyak hal untuk memperkenalkan guild yang aku buat.’ pikir Kirana.
Bruuk!
Dengan lemas Kirana menjatuhkan dirinya di atas kasur. Tubuhnya perlahan mengecil dan rambutnya mula8 menghitam. Dia kembali ke wujud Kirana 15 tahun.
“Aku tidak menyangka jika akan selama ini.” tatapan lemas Kirana tertuju pada jam weker yang berada di samping tempat tidurnya.
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi.
“Aku tidak mungkin bangun terlalu pagi hari ini, jadi aku akan mematikan jam sial ini.”
Dengan seluruh kesadaran yang dia miliki, Kirana berusaha menggapai jam weker, tapi sebelum tanggal gadis itu sampai...
Bruuk…
Dengan lemas tangan Kirana jatuh ketika pemiliknya tidak kuat menahan kabtuk.
***
Triiiiiiiiiiing.
__ADS_1
Sriiing.
Suara itu kembali membangunkan Kirana, suara yang paling dibencinya.
Dengan mata merah Kirana menatap jam weker yang masih membunyikan suara berisik. Dia ingin segera menariknya namun karena masih mengantuk membuat gadis itu malas untuk bergerak.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang menaiki tangga menuju ke kamarnya. Mendengar langkah kaki itu membuat Kirana bertanya siapa yang saat ini berada dirumahnya.
“Kau sudah bangun?.” suara yang berasal dari balik pintu membuat Kirana tahu jika orang yang berada dirumahnya adal Cecilia.
“Yah… tapi kupikir akan kembali tidur hingga… 9 pagi mungkin.” balas Kirana.
Mendengar jawaban Kirana, Cecilia pun meminta izin untuk masuk. Gadis itu segera mematikan jam weker yang membuat Kirana begitu terganggu.
“Terima… sniffff.” Kirana ingin mengucapkan terimakasih pada Cecilia, tapi dia mencium aroma masakan yang berasal dari pintu kamar yang terbuka.
“Apa yang dibuat kakak mu?.” tanya Kirana.
“Hanya nasi Uduk... jika kau mau aku akan meminta kakak untuk membuatkan untuk mu, kau bisa memakannya setelah bangun tidur.” balas Cecilia.
“Tidak, katakan pada kakak mu jika aku akan ikut sarapan.” Kirana segera bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.
“Tapi sebelumnya kau mengatakan akan tidur sampai jam sembilan.” Cecilia masih berada di kamar Kirana yang sedang mandi.“Itu normal karena ini masih hari libur dan juga tadi malam kia pulang pagi.” lanjut Cecilia.
“Hemm… aku hanya tidak suka makan nasi Uduk dingin.” balas Kirana yang mandi sambil bersenandung.
“O… kee...” alasan yang terlalu sederhana hingga Cecilia tidak memikirkan tentang itu.
Tadi malam saat Kirana akhirnya berhasil meninggalkan para Hunter dan wartawan yang terus melempar pertanyaan padanya, dia dan kedua saudari berniat untuk segera berpisah.
Tapi masalah datang saat Regina dan Cecilia tidak tahu harus pergi kemana. Tempat mereka tinggal saat ini adalah wilayah kumuh, mereka takut jika guild Wongasu mengejar keduanya.
Karena tidak punya pilihan lain Kirana pun akhirnya mengijinkan keduanya sementara tinggal dirumahnya.
“Jadi kau tinggal sendiri?. Apa kau merantau dari kota asal untu masuk ke sekolah Archata?.” Cecilia melihat seluruh isi kamar Kirana, dari seragam sekolah yang tergantung di lemari dia menyimpulkan jika Kirana sudah diterima di sekolah paling elit di kota.
Sementara sebuah foto yang memperlihatkan upacara kelulusan anak-anak SMP dimana salah satunya ada Kirana membuat Cecilia mengetahui kota asal Kirana.
“Kau sangat pandai mencari petunjuk, Huh.” suara Kirana terdengar di dalam kamar mandi.
“Maafkan aku jika kau tidak suka aku melakukan itu.”
“Pffft… itu bukan masalah besar. Aku tidak peduli jika ada yang tahu tentang keluargaku, karena aku pun tidak peduli dengan mereka.”
Kirana kemudian menceritakan kenapa dia memilih untuk pergi ke kota ini dan bersekolah di SMA Archata.
“Aku mendapatkan beasiswa karena penelitian yang aku lakukan menarik perhatian beberapa orang penting. Aku tanpa berpikir segera mengambil kesempatan itu untuk lari dari cengkraman paman ku.”
Cecilia terdiam mendengar cerita Kirana, dia teringat pada dirinya sendiri saat masih berada di panti asuhan lalu perlakuan buruk yang dia terima dari majikan yang telah membelinya.
“Tapi semua sudah berakhir, sekarang aku sudah bisa menentukan apa yang ingin aku lakukan. Tidak ada seseorang pun yang bisa menghalangiku sekarang.” kata Kirana saat iya keluar dari kamar mandi.
***
__ADS_1
Chapter 17 : Penghuni baru Rumah ku.
END.