
YGGDARADIL
Di dapur tiga perempuan sedang menikmati sarapan makan sambil menonton acara berita.
[Imbas dari menghilangnya ribuan dungeon yang menjadi pemasok inti monster di seluruh dunia membuat harga inti monster melambung tinggi hingga 25%]
“Hemm… ini sangat kebetulan karena kita mendapatkan banyak inti monster setelah penaklukan dungeon kemarin masih.” Kirana memikirkan pendapatan yang akan dia peroleh setelah menjual ratusan inti monster yang dia miliki. Begitu juga Cecilia dan Regina yang juga mendapatkan panen inti monster, walaupun jumlahnya tidak sebanyak yang didapatkan Kirana.
Inti monster atau disebut juga monster Core adalah kumpulan mana yang berubah menjadi kristal di dalam tubuh monster dungeon. Inti monster akan selalu ditinggalkan saat monster dungeon terbunuh.
Mana yang saat ini telah menggantikan minyak bumi sebagai bahan bakar industri dan kendaraan umum membuat permintaan inti monster begitu tinggi.
[Perusahaan Wildroar menghentikan kerja sama mereka dengan guild Mahakam. Di yakini retaknya hubungan Wildroar dan guild Mahakam disebabkan oleh menghilangnya Great dungeon yang berada di Kalimantan]
“Oh itu yang disebut sebagai butterfly efek.” ucap Kirana yang sadar jika ini akan terjadi. Cecilia dan Regina tidak mengerti apa yang Kirana katakan.
Wildroar tertarik dengan guild Mahakam karena mereka yakin jika guild itu akan menguasai dungeon terbesar di Kalimantan. Tapi setelah dungeon itu menghilang otomatis Wildroar tidak berminat lagi dengan guild Mahakam.
“Tapi bukankah itu terlalu terburu-buru?.” kata Regina yang berpikir jika ada alasan lain perusahaan Wildroar memutuskan hubungan dengan Guild Mahakam begitu cepat.
“Hemm... aku mendengar jika ketua guild Mahakam menyukai gadis-gadis cantik.”
Braaak!
Tiba-tiba Cecilia memukul piringnya menggunakan sendok begitu keras sehingga perhatian Kirana dan Regina beralih padanya. Cecilia sepertinya tahu sesuatu, itu terlihat jelas saat dia begitu marah menatap televisi.
“Ada apa denganmu?.” Regina bertanya.
“Tidak bukan apa-apa, tanganku hingga tergelincir.” balas Cecilia sambil terus menatap televisi yang memperlihatkan pria paruh baya dengan kumis dan jenggot lebat, dia adalah pemimpin dari guild Mahakam.
Setelah sarapan Kirana berniat melakukan meditasi di halaman belakang, dia meminta Regina dan Cecilia tidak mengganggunya.
“Kita akan menjual barang yang didapatkan dari kotak harta dungeon nanti malam. Aku akan meminta bantuan dari anggota lainnya untuk membantu.” ucap Kirana sambil membawa dungeon core di tangannya.
“Anggota lain?.” Cecilia terlihat penasaran.
“Ya, itu adalah rekan-rekan ku.” balas Kirana yang pergi ke halaman belakang dan segera memulai meditasi.
“Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ini.” gumam Kirana yang mulai menghubungkan dirinya pada dungeon core.
***
__ADS_1
Mana yang menjadi bahan bakar sihir dan sumber terbentuknya para manusia mutan, bukan zat yang awalnya ada di dunia. Zat itu berasal dari perbatasan dimensi yang bocor.
Kerusakan pada batas dimensi terjadi karena jumlah dimensi yang terus bertambah sehingga jarak antara dimensi terlalu dekat, hasilnya dimensi saling mempengaruhi satu sama lain hingga terjadi gesekan.
Dari kerusakan itu zat Mana yang menjadi pengisi batas antara dua dimensi (seperti udara dalam ban) bocor keluar.
Menggunakan dungeon core yang tercipta akibat pengendapan mana, Kirana akan memasuki perbatasan dimensi dan mencari semua yang telah dia tinggalkan di kehidupannya yang dahulu.
“Aku harap tebakanku benar jika dunia ini hanyalah sebuah turun dari duniaku sebelumnya,”
Mana dalam jumlah besar mrngalir dari tubuh Kirana kedalam dungeon core.
“Karena jika tidak, akan sangat merepotkan untuk membangun semua yang telah aku buat selama tiga ribu tahun kembali dari awal.”
Bersamaan dengan zat mana, jiwa Kirana pun ikut masuk kedalam dungeon core yang menjadi pintu masuk menuju perbatasan dimensi.
Kirana tidak khawatir pada tubuhnya yang telah ia tinggalkan karena sebelumnya dia telah memasang berbagai perlindungan di sekitar rumahnya.
Dengan perlindungan itu bahkan Hunter terkuat di bumi pun tidak akan mampu menerobosnya. Hanya ada Cecilia dan Regina yang saat ini menjaga rumah, Kirana sangat yakin bisa mempercayai mereka untuk melindungi tubuhnya jika sesuatu yang tidak terduga terjadi.
***
Di tempat yang begitu gelap seperti luar angkasa dengan milyaran cahaya seperti bintang, jiwa Kirana melayang di udara. Tatapannya terarah kesekitar menatap cahaya yang tak terhitung jumlahnya.
“Sejak kematian Yagdragoath tempat ini menjadi begitu ramai.”
Cahaya-cahaya itu bukanlah bintang melainkan lubang dimensi penghubung antara dimensi dan perbatasan.
Sejak terbunuhnya Yagdragoath jumlah dimensi yang terlahir semakin tidak terkendali. Kirana membutuhkan waktu lama untuk menemukan dimensi yang dia cari. Hingga akhirnya dia merasa usahanya akan sia-sia.
“Haaah… percuma aku tidak dapat menemukan sebutir debu di tengah gurun pasir. Aku membutuhkan bantuan…”
Kirana kemudian mengalihkan perhatian pada jalur mana yang tersambung ke seluruh lubang dimensi, jalur mana itu berasal dari sebuah pohon raksasa yang besarnya hampir memenuhi seluruh perbatasan dimensi.
Pohon itulah asal dari mana yang akarnya tersambung ke seluruh dimensi yang ada.
World Tree Yggdaradil.
Sedangkan cahaya paling terang yang berada di tengah pohon Yggdaradil adalah jalur menuju tempat tinggal para dewa, Asgard.
“Asgard, aku harap mereka mematuhi kesepakatan setelah aku mengalahkan Yagdragoath.” dengan penuh harapan jiwa Kirana melayang menuju Asgard.
Di tempatnya seorang dewa dengan mata yang memancarkan cahaya keemasan tengah menatap milyaran dimensi, dia dapat melihat apapun yang saat ini sedang terjadi di seluruh dimensi.
__ADS_1
Mata pria itu menyipit saat melihat jiwa Kirana terbang menuju ke arahnya.
“Yo… Hisashiburidesu ne, Heimdall.”
Kirana memberikan salam pada penjaga pintu Asgard seperti seorang teman lama yang baru berjumpa.
{Putri Tengkorak, kau mengunjungi Asgard dengan kondisi seperti itu!. Bukankah kau benar-benar sangat percaya diri setelah apa yang telah kau lakukan?}
Heimdall menatap tajam ke arah jiwa Kirana, jika itu terus berlanjut bisa-bisa jiwa Kirana akan terbakar.
“Waaaa… kenapa kau begitu galak, apa kau tidak senang melihat teman lama?.” Kirana tidak merasa takut sedikitpun pada tatapan Heimdall.
{Kenapa kau bilang? Jangan pura-pura lupa tentang apa yang telah kau lakukan}
“Hemm… memangnya apa?.”
Heimdall benar-benar kesal berhadapan dengan jiwa perempuan di depannya. Hampir dia mengayunkan pedangnya yang dapat membelah dimensi dan menghancurkan jutaan bintang.
Tapi karena tidak ingin terjadi masalah, Heimdall hanya bisa bersabar.
{Haaaah... Aku memiliki waktu untuk dibuang pada manusia sepertimu. Katakan apa tujuanmu datang ke mari!.}
Berhasil menenangkan diri, Heimdall kembali menatap milyaran dimensi.
“Wow kau benar-benar pria yang sibuk Heimdall. Well aku juga tidak mau lama-lama di tempat ini, masih banyak hal yang harus aku lakukan di dimensi tempat aku tinggal saat ini.”
Heimdall melirik ke arah Kirana, seolah dia tahu apa yang diinginkan oleh jiwa itu.
{Kau ingin kordinat dimensi lama mu bukan?.}
“Hahaha… kau benar-benar dewa yang baik Heimdall. Benar bisakah kau menunjukkan kordinat itu sekarang, setelah itu aku akan pergi tanpa ada masalah yang terjadi.”
Heimdall menatap Kirana dengan tajam. Dia memikirkan apa yang akan terjadi jika Putri Tengkorak yang dulu hampir memulai Ragnarok mendapatkan kembali kekuatan aslinya.
***
ASGARD.
Chapter 18 : Mengunjungi Asgard.
END.
__ADS_1
...[Jangan lupa tinggalkan komentar dan like setelah membaca]...