
Perkuliahan berjalan lancar seperti biasanya dan diakhiri dengan pengumuman ujian yang akan dilakukan minggu depan, dan ada acara liburan bersama setelah berakhirnya ujian.
Semua orang terlihat antusias, tapi bukannya antusias menghadapi ujian, melainkan antusias mengikuti liburan. Tak sedikit dari mereka yang langsung mencari tahu lokasi liburan tahun ini, dan semua orang bersorak-sorai saat tahu lokasi liburan yang bertempat di salah satu pulau milik keluarga Ling, yang terkenal akan keindahannya.
Zou Chen dan ten teman-temannya yang tidak tertarik akan hal itu, memilih pergi meninggalkan kelas. Ling Meilin ikut bergabung dengan mereka, pergi meninggalkan kelas, menuju kantin yang sebentar lagi tutup.
Sepanjang jalan menuju kantin, banyak orang yang memberi tatapan sinis pada Zou Chen dan teman-temannya, tapi tatapan memuja segera mereka tunjukkan saat melihat sosok Ling Meilin.
Walau begitu, masih saja terdengar bisik-bisik yang intinya mereka menjelek-jelekkan Zou Chen dan teman-temannya.
“Hanya sekumpulan orang miskin yang beruntung dapat berteman dengan salah satu putri keluarga Ling.”
“Biarkan saja mereka merasa di atas. Saat nona Ling tau betapa tidak berguna nya mereka, saat itulah mereka akan menjadi sampah yang lebih busuk dari kotoran binatang.”
Zou Chen dan teman-temannya tidak menghiraukan apa yang mereka katakan, selama kata-kata itu sebatas ditujukan pada mereka, selama itu pula orang-orang itu bebas mengatakan apa yang ingin dikatakan.
“Sebentar, aku ingin pergi ke toilet.” Zou Chen meninggalkan teman-temannya dan pergi ke toilet seorang diri.
Di sisi lain, Daren Long diam-diam mengikuti Zou Chen, sembari mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.
“Aku tidak akan membiarkan kamu bebas, setelah mengganggu hubunganku dengan Yu Xi!” gumamnya pelan dan terus berjalan mengikuti Zou Chen.
Sampai di toilet pria yang kebetulan sedang sepi, tiba-tiba Daren Long berlari menubruk Zou Chen, sambil mengarahkan ujung tajam pisau lipat kearah perutnya. Namun, semua tak seperti yang dibayangkan nya. Zou Chen menghindar beberapa mili sebelum perutnya terkena ujung pisau lipat, dan itu menyebabkan Daren Long terjerembab kebawah dengan kepalamasuk ke tempat yang biasanya digunakan untuk membuang air kecil.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zou Chen yang pura-pura bertanya, padahal sejak awal dia sudah menyadari keberadaan Daren Long, dan mengetahui rencana jahatnya.
“Sialan, jangan pura-pura tidak tahu dengan apa yang baru terjadi! Aku Daren Long pasti akan membuat perhitungan denganmu!” serunya lalu dia keluar dari toilet, setelah mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Zou Chen tersenyum puas melihat apa yang menimpa Daren Lon, dan sama sekali tidak takut dengan ancamannya.
“Seharusnya kamulah yang takut denganku!” katanya sembari mengambil beberapa lembar tisu untuk membungkus pisau lipat milik Daren Long, yang terjatuh di lantai toilet.
“Cih ...! seharusnya kalau ingin berbuat jahat, lihat-lihat dulu tempat yang ingin digunakan untuk melakukan eksekusi.” Zou Chen menatap kaca besar di toilet yang menunjukkan gerakan Daren Long, yang ingin melukainya menggunakan pisau lipat.
Dia ke toilet hanya ingin mencuci wajahnya, tapi tidak menyangka justru mendapat pertunjukan yang sangat menarik dari orang yang berniat buruk padanya.
“Apa yang membuatmu begitu lama di toilet?” tanya Hans, saat Zou Chen kembali ke tempat teman-temannya.
“Toilet terlalu penuh, jadi harus bergantian dengan yang lain,” jawab Zou Chen lalu dia meminum air dalam botol yang masih terdapat segel.
Hans menganggukkan kepalanya, dan untuk sementara waktu suasana menjadi hening karena semua orang sedang memakan makanan yang mereka pesan.
“Apa aku boleh bergabung dengan kalian?” kata seseorang yang tiba-tiba duduk di tempat kosong yang biasanya ditempati Jenni.
Zou Chen dan yang teman-temannya menoleh, melihat ke arah orang yang tiba-tiba datang dan mengambil alih tempat duduk milik Jenni.
“Kakak, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ling Meilin, melihat sosok Ling Qian duduk di dekat Zou Chen.
Ling Meilin tidak percaya melihat sosok kakaknya di universitas tempatnya mengejar gelar sarjana. Bukan hanya dia, tapi teman-temannya juga tidak mempercayai sosok Ling Qian yang terlihat angkuh, kini berada diantara mereka.
Lain dengan Zou Chen yang terlihat biasa saja dengan sosok Ling Qian, bahkan dia kembali menyibukkan dirinya dengan memainkan smartphonenya, seolah tidak ada sosok Lin Qian di sebelahnya.
Ling Qian hanya tersenyum melihat keterkejutan adiknya, tapi dia merasa ada yang salah dengan sosok pria yang berada di sampingnya. Dia tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan ketertarikan saat orang penting seperti dirinya duduk di sebelahnya.
“Aku dengar ada seorang mahasiswa yang berani mengambil wanita kakak ku, apa itu kamu?” Ling Qian menatap Hans dengan sorot mata tajamnya.
__ADS_1
Hans menggelengkan kepalanya, “Bukannya saat ini Anda berada di sebelahnya!” ujar Hans, yang membuat Ling Qian mengalihkan tatapannya pada sosok Zou Chen.
Zou Chen menyimpan smartphonenya, lalu menatap Ling Qian.
“Kata-kata Anda salah, bukan saya yang merebutnya, melainkan kakak kamulah yang menginginkan wanita milikku!” kata Zou Chen datar, dan terkesan dingin.
Ling Qian merasa terintimidasi saat mendengar suara yang keluar dari mulut Zou Chen.
“Menginginkan wanitamu?”
“Apa aku kurang jelas mengatakannya?” tanya Zou Chen sembari menunjukkan senyuman sinis.
Bukan hanya terintimidasi, tapi Ling Qian mulai takut berhadapan dengan sosok pemuda di sampingnya.
“Dia adalah wanita yang sudah lama menjadi milik kakakku, bukannya jelas kamu yang mengambilnya dari sisinya!” tuding Ling Qian membela Ling Jun, kakaknya.
Zou Chen tersenyum, lalu berkata, “Selama ini cuma kakakmu yang menganggap dia miliknya, tapi itu cuma dari satu sisi, sedangkan dia tidak pernah menganggap keberadaan kakakmu.”
Ling Qian sebenarnya mulai tidak tahan berada di dekat Zou Chen, tapi dia tegap ingin membela kakaknya. “Tetap saja dia adalah wanita kakakku, dan kau hanyalah pengganggu dalam hubungan mereka,” katanya dengan suara lantang, dan dapat didengar semua orang yang berada di kantin.
Zou Chen sadar kalau kedatangan Ling Qian hanya ingin mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang. “Sayang sekali apa yang kamu rencanakan tidak berguna, karena aku tidak akan terpengaruh dengan apa yang dikatakan orang lain, apalagi mereka cuma orang asing yang tidak mengetahui duduk permasalahannya.”
Melihat Zou Chen tidak terpengaruh oleh bisik-bisik beberapa orang di kantin, Ling Qian tahu dia telah gagal dan semua tidak seperti bayangannya. “Tunggu saja, kau akan menyesal karena telah berani membuat masalah dengan keluarga Ling. Saat waktunya tiba, kau akan menangis darah dihadapkan kakakku yang berhasil mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya,” ujarnya, lalu dia pergi berlalu, meninggalkan kantin yang heboh dengan kedatangannya.
’Kalianlah yang akan menyesal karena berani berurusan denganku’ kata Zou Chen dalam hati.
°°°
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...