
Seperti meneteskan cairan obat tetes mata, Ling Mei meneteskan masing-masing empat tetes cairan obat keras ke sepasang mata Ling Qian, langsung saja pria itu tersadar dari pingsannya saat merasakan sakit tak tertahankan di kedua matanya.
Ling Qian merasa kedua bola matanya panas seperti terbakar, dan sakit selayaknya ada duri-duri tajam yang menusuk bola matanya.
Baru beberapa saat sadar dan berteriak histeris, akhirnya Ling Qian kembali jatuh pingsan, tak kuasa menahan rasa sakit di kedua bola matanya yang sempat mengeluarkan asap tipis berwarna putih.
Zou Chen dan yang lainnya tidak peduli, bahkan mereka tetap berdiri tenang melihat penderitaan yang dialami Ling Qian.
Melihat Ling Qian jatuh pingsan untuk yang kesekian kalinya, Zou Chen meminta dua anggota Black Mamba mengambil dua ember air dingin, untuk mengguyur Ling Qian supaya kembali sadar dan menikmati rasa sakitnya.
Dua ember air di siramkan bergantian, membasahi tubuh Ling Qian yang seketika sadar dari pingsannya, dan kembali dia merasakan rasa sakit yang tidak semenyakitkan sebelum dia pingsan.
Zou Chen tersenyum melihat Long Qian tak lagi berteriak kesakitan, “Mulai sekarang kamu akan menikmati kegelapan yang dulu pernah aku rasakan setelah apa yang dilakukan ibumu!” ungkapnya.
Ling Qian hanya diam, berusaha menahan sakit yang masih dia rasakan. Akan tetapi dia sadar kalau dirinya tak akan lagi dapat melihat keindahan dunia, begitu rasa sakit di matanya menghilang.
Zou Chen memberi perintah pada dua anggota Black Mamba melepas tali yang mengikat tubuh Ling Qian, lalu sebagai penutup, dia memberi perintah pada keduanya membawa Ling ke ruang perawatan, untuk memastikan kalau dia benar-benar telah buta.
“Sekarang apa lagi yang akan kita lakukan?” tanya Ling Mei yang kembali terlihat manja begitu sosok Ling Qian sudah tidak terlihat.
“Sebaiknya kalian mandi dan berganti pakaian. Baru setelahnya kita pikirkan apa yang ingin kita lakukan,” ujar Zhang Yu.
“Kamu sendiri tidak mandi? Atau mungkin kamu ingin aku mandikan?” tanya Jenni.
“Aku lebih memilih dimandikan olehmu,” jawab Zhang Yu sambil memeluk pinggang Jenni dari samping.
“Baiklah, kami tidak akan mengganggu kesenangan kalian!” Ling Jia membawa Ling Mei menuju kamar mereka, meninggalkan Zou Chen dan Jenni yang mulai bermesraan.
“Sayang, jangan di sini!” Jenni menghentikan Zou Chen yang mulai meraba dua bukit kembar miliknya.
“Lalu, apa kamu ingin kita menuntaskannya sambil mandi?” tanya Zou Chen yang tangannya tak bisa lepas dari benda kenyal yang sedang dia pegang.
“Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya sambil mandi, tapi jangan terlalu lama karena ada kakak Jia dan adik Mei yang menunggu kita,” balas Jenni lalu dia menarik kancing celana Zou Chen, membawa pria itu ke kamar mereka di mansion yang dijadikan markas Black Mamba dan Black Rose.
Zou Chen mengikuti apa yang menjadi keinginan Jenni, tapi bukannya segera masuk kedalam kamar mandi setelah sampai di dalam kamar, keduanya justru sama-sama melepas pakaian mereka saat masih di luar kamar mandi.
__ADS_1
Jenni membalikkan tubuh, menunjukkan keindahan bagian belakang tubuhnya.
“Sayang,” panggil Jenni yang sudah membungkukkan tubuhnya, dan menggunakan pinggiran tempat tidur sebagai tumpuan kedua tangannya.
Tahu keinginan kekasihnya, Zou Chen memeluk tubuh Jenni dari belakang. Rasa hangat dapat dirasakan keduanya saat kulit mereka saling bersentuhan.
Tangan Zou Chen yang semula memeluk perut rata Jenni, perlahan bergerak ke atas, menyentuh bukit kembar yang terasa lembut dan kenyal saat dia pedang.
Tidak tahan lagi, Zou Chen ingin segera memasukkan miliknya ke dalam milik Jenni, tapi sebelum melakukan itu dia terlebih dahulu membuat banyak tanda kepemilikan di punggung, dan di leher Jenni.
Jenni hanya menutup mata, menikmati apa yang dilakukan kekasihnya, sampai akhirnya dia dapat merasakan saat milik Zou Chen mulai menyatu dengan miliknya.
Jenni menggigit bibir bawahnya dan mencengkram ranjang yang sebagai tumpuannya, saat milik Zou Chen semakin dalam memasuki miliknya.
“Sayang...” Jenni melenguh panjang merasakan sensasi yang baru pertama kali dia rasakan. Rasa nikmat yang jauh lebih nikmat dari biasanya.
“Sayang, terus!” sebuah kata menggoda terlontar dari mulut Jenni, yang seketika membuat Zou Chen mempercepat gerakannya, membiarkan rasa nikmat merasuk sampai ke tulang-tulang di tubuhnya, dan pada akhirnya keduanya menggeram bersamaan, menikmati sensasi menikmatan yang datang di waktu yang sama.
“Sayang, yang barusan sangat luar biasa,” ungkap Jenni membalikkan badan, dan langsung saja dia mendaratkan ciuman hangat ke bibir Zou Chen.
°°°
Setelah semalam Zou Chen, Jenni, Ling Jia dan Ling Mei memutuskan menghabiskan malam mereka di Mansion, pagi ini keempatnya bersiap pergi ke rumah sakit, melihat keadaan Ling Feng dan bertemu dengan ibu mereka.
Zou Chen segera menjalankan mobil, begitu Jenni dan dua orang lainnya telah masuk kedalam mobil.
“Kakak Chen, bagaimana keadaan kakak Qian? Apa dia benar-benar sudah buta?” tanya Ling Mei penasaran.
“Dokter khusus yang dimiliki organisasi Black Mamba sudah memastikan kalau dia akan menderita kebutaan untuk selamanya, kecuali ada yang mendonorkan mata untuknya.”
“Lalu bagaimana dengan ibu, apa pihak kepolisian sudah menahannya?” kali ini giliran Ling Jia yang bertanya.
“Lee Zhou sudah menjebloskan wanita itu kedalam penjara, beserta semua orang yang terlibat kejahatan bersamanya.”
“Sayang, menurutmu berapa lama dia mendekam di penjara?” tanya Jenni.
__ADS_1
Zou Chen sejenak berpikir, lalu berkata, “Dua puluh tahun mendekam dalam penjara adalah hukuman paling ringan yang akan dia dapatkan.”
Jenni mengangguk puas mendengarnya, dan setelahnya tak lagi terdengar pertanyaan dari ketiga wanita di dekatnya, yang membuat Zou Chen bisa fokus mengemudikan mobilnya.
°°°
Setelah melewati kemacetan kota Beijing yang menyita banyak waktu, Zou Chen dan tiga wanita yang bersamanya akhirnya sampai di rumah sakit yang pagi ini beroperasi seperti biasa, dan tak terlihat adanya sisa-sisa kekerasan yang terjadi di malam sebelumnya.
Jenni memeluk lengan Zou Chen saat banyak perawat yang seolah ingin menerkam kekasihnya, dan menjadikannya sebagai milik mereka.
“Kamu tenang saja, tidak akan ada wanita yang mampu membuatku berpaling darimu!” ungkap Zou Chen.
“Aku hanya khawatir para perawat itu menggodamu, dan menggunakan tubuh indah mereka untuk membuatmu jatuh ke pelukan mereka,” ujar Jenni.
Zou Chen mencium pipi Jenni dari samping, “Aku sudah memiliki wanita dengan tubuh paling sempurna di mataku. Jadi, tidak mungkin aku tertarik dengan tubuh wanita lain!”
“Aku harap kamu terus mengatakan itu, sekali pun nantinya tubuhku membesar saat aku mengandung anak-anak kita.”
Zou Chen tersenyum lebar mendengar itu, “Justru saat itu kamu akan terlihat jauh lebih sempurna, dibandingkan kesempurnaan yang saaat
ini sedang aku nikmati.”
Zou Chen kembali mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut dia mendaratkan ciuman di bibir Jenni, begitu mereka berada di dalam lift yang berbeda dengan Ling Mei dan Ling Jia.
“Aku sangat mencintaimu, dan aku harap kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku,” ungkap Zou Chen tulus.
“Iya, sayang, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, dan aku sudah merasakan itu sejak pertama kali melihat sosokmu!” balas Jenni tersenyum lalu dia memberikan ciuman cepat ke bibir Zou Chen, tepat sebelum pintu lift terbuka di lantai yang menjadi tujuan mereka.
Seketika senyum mereka merekah menambah keindahan wajah keduanya, saat bersama-sama melangkahkan kaki keluar dari lift.
°°°
Bersambung...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...
__ADS_1