Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan

Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan
Hukuman


__ADS_3

Zou Chen dan yang lainnya baru saja sampai di ruangan tempat Vanesa Zhu dan Ling Qian terikat di kursi yang berbeda, dan mulut keduanya sama-sama tertutup lakban.


Si kembar yang juga berada di dalam ruangan yang sama dengan Zou Chen dan yang lainnya, segera menyiram Vanesa Zhu dan Ling Qian dengan air dalam ember yang sebelumnya sudah mereka persiapkan.


Keduanya orang yang sebelumnya memejamkan mata, seketika membuka mata dan menggigil karena air yang digunakan untuk menyiram mereka telah dicampur potongan es yang sudah dihaluskan.


Timbul rasa kasihan di hati Ling Jia dan Ling Mei melihat keadaan mereka, tapi rasa kasihan segera luntur tergantikan rasa benci dan jijik.


Melihat keduanya kedinginan, Zou Chen meminta Xavi membuka lakban yang menutupi mulut mereka. Begitu lakban terbuka, Vanesa Zhu mencoba meludahi Zou Chen, tapi dia tidak bisa mengenainya karena jarak mereka masih cukup jauh.


Zou Chen memandang sini ke arah wanita itu, masih dengan sikap santainya Zou Chen melangkah maju mendekati Vanesa Zhu dan langsung melayangkan tamparan ke wajah mulus wanita itu.


Jenni, Ling Mei, dan Ling Jia meringis melihat apa yang dilakukan Zou Chen, dan berharap tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria mana pun.


Zou Chen sama sekali tidak menahan kekuatannya saat menampar wajah Vanesa Zhu. Akibatnya, pipi wanita itu langsung lebam, dan keluar darah dari bibirnya yang terluka.


Zou Chen memutar lehernya, menatap wajah Ling Qian.


“Lihat, aku merusak wajah wanitamu! Apa kau tidak ingin membalasnya?” ujar Zou Chen.


Ling Qian mencoba melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.


“Dasar pria tidak tau malu, beraninya kau menyiksa seorang wanita!” teriak Ling Qian.


“Aku cuma sedikit kasar padanya!” ungkap Zou Chen tersenyum sinis di depan Ling Qian.


Ling Qian masih terus mencoba melepas tali yang mengikat tubuhnya.


Zou Chen menggelengkan kepala melihat kebodohan yang ditunjukkan Ling Qian.


“Kakak Ling Jia, aku punya rahasia besar yang selama ini di sembunyikan wanita ini dari mu, dan rahasia ini juga berlaku untukmu!” kata Zou Chen yang seketika membuat dua orang yang dia sebutkan namanya, penasaran dengan apa yang ingin dia katakan.


Zou Chen menoleh memandang Ling Jia yang kebetulan juga sedang memandang ke arahnya.


“Wanita inilah yang membunuh ayah kalian, satu bulan sebelum dia resmi masuk ke dalam keluarga Ling.”


“Satu lagi,” Zou Chen mengalihkan pandangannya ke arah Jenni.

__ADS_1


“Sayang, kalau kamu ingin tahu otak yang mendalangi pembunuhan kedua orangtuamu, wanita inilah yang mengotaki pembunuhan itu, dan Ling Jun bertugas sebagai eksekutor, dan lagi dia menggunakan uang dan tubuhnya untuk membuat pihak kepolisian menyatakan kematian kedua orangtuamu, murni karena sebuah kecelakaan.”


Mata Jenni dan Ling Jia seketika memerah mendengar perkataan Zou Chen.


‘Tanpa Bibi Hanna, aku tidak akan pernah tahu semua kejahatan yang pernah di lakukannya’ ujarnya dalam hati menatap Vanesa Zhu yang hanya bisa diam membisu.


Sepuluh menit berlalu dalam keadaan hening, tiba-tiba Jenni dan Ling Jia melangkah bersamaan mendekati Vanesa Zhu yang tubuhnya terikat pada sebuah kursi, dan kecil kemungkinan dia dapat melepaskan dirinya.


“Ma, aku tidak pernah menyanhka kalau orang yang membunuh ayah kandungku adalah orang yang selama ini aku panggil dengan sebutan mama,” kata Ling Jia yang sama sekali tidak punya ingatan seperti apa sosok ayah kandungnya, berbeda dengan kedua kakaknya yang sudah cukup umur untuk mengingat wajah ayah kandung mereka.


Vanesa Zhu tertunduk, dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Membantah sekalipun dia yakin Zou Chen punya bukti yang dapat membantah semua bantahannya.


Menarik kasar rambut Vanesa Zhu dari belakang, Jenni membuat wanita itu menatap ke arahnya, “Nyonya Vanesa, katakan padaku apa hukuman yang tepat untuk aku berikan pada orang sepertimu!”


Wanita itu tetap saja diam, tak sedikitpun mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


Jenni menguatkan tangannya yang menarik rambut Vanesa Zhu, sampai terlihat wanita itu meringis menahan rasa sakit, “Cepat jawab dan jangan membuat kesabaranku habis! Kalau sampai kesabaranku habis, yakinlah kamu akan menyesali semua itu,” ungkapnya dengan senyum dingin yang membuat tubuh Vanes Zhu gemetar ketakutan.


Setelah mendengar perkataan Jenni, Vanesa Zhu mulai membuka mulut, lalu dia berkata, “Kematian mereka semua karena kesalahanmu yang berulangkali menolak keinginan putraku, dan aku tidak pernah menyesal mengakhiri hidup kedua orangtuamu!”


“Kau yakin tidak menyesal setelah melakukan semua itu?” tanya Jenni masih terus menarik rambut Vanesa Zhu dari arah belakang.


“Baiklah, karena kau tidak menyesal, aku juga tidak akan menyesal dengan apa yang segera aku lakukan pada tubuhmu.” Jenni melangkahkan kaki ke dekat meja, lalu dia mengambil belati yang ada di atas meja.


Tanpa berkedip, Jenni menancapkan ujung belati yang runcing ke punggung tangan Vanesa Zhu, lalu dengan kasar dia menariknya ke depan, membuat tangan wanita itu terbelah.


Argh...


Teriakan pilu terdengar dari mulut Vanesa Zhu bersama dengan darah mengalir deras dari luka menganga di tangannya. Akan tetapi Jenni tidak berhenti hanya dengan satu tangan, dia juga melakukan hal yang sama pada tangan yang satunya.


Aarrgh...


Vanesa Zhu seketika pingsan, tak kuasa menahan rasa sakit di kedua tangannya.


Sedangkan Ling Qian yang berada di sebelahnya, dia hanya bisa menutup mata melihat apa yang dilakukan Jenni pada Ibunya. Berbeda dengan Ling Jia yang justru tersenyum tipis melihat apa yang terjadi pada ibunya.


Zou Chen melangkahkan kakinya menahan Jenni yang ingin menusukkan belati ke wajah Vanesa Zhu, Jenni seketika menjatuhkan belati di tangannya, dan dengan rlerar dia memeluk Zou Chen.

__ADS_1


“Apa aku salah melakukan itu padanya?”


Zou Chen mengusap lembut punggung Jenni.


“Kenapa kamu merasa itu sebuah kesalahan di saat dia sudah mengakui perbuatannya bahkan dia tidak menyesalinya?”


“Sayang, lebih baik serahkan dia ke pihak berwajib, dan biarkan negara yang memberi hukuman layak untuknya!”


Zou Chen mengangguk, “Kalau itu yang menjadi keinginanmu, dengan senang hati aku akan melakukannya.”


Zou Chen melirik Xavi dan Xavier. Hanya dengan kode mata, keduanya tahu apa yang harus mereka lakukan.


Jenni melepaskan pelukannya, lalu menolehkan kepala melihat si kembar yang sedang menyeret tubuh Vanesa Zhu yang berlumuran darah, keluar dari ruangan, “Maaf, aku melakukan itu pada orangtua kakak!” ungkapnya mengalihkan pandangannya ke arah Ling Jia.


“Itu tidak seberapa dari apa yang sudah dia lakukan pada kedua orangtuamu,” ujar Ling Jia dengan senyuman di wajahnya.


Sekarang hanya ada Ling Qian yang masih terikat di kursi.


Dari sisi lain, Ling Mei mendekatkan jaraknya dengan Ling Qian yang belum menyadari keberadaannya, dan dengan santainya Ling Mei memukul kepala Ling Qian menggunakan stik baseball, yang sejak masuk ke dalam ruang penjara benda itu sudah berada di bawah kakinya.


Ling Mei melihat darah segar mengalir dari kepala Ling Qian sambil tersenyum polos, “Maaf kalau itu tidak sakit! Baru dua tahun ini aku dilatih mommy memukul orang, jadi wajar tenaga kuda tidak sebesar kakak atau yang lainnya,” ujarnya.


Zou Chen, Jenni, dan Ling Jia tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat. Adik kecil mereka yang masih imut dan menggemaskan ternyata sanggup melakukan hal sekejam itu pada Ling Qian yang langsung saja kehilangan kesadarannya.


“Astaga, sejak kapan gadis kecil ini dapat melakukan itu? Hei, apa Ibu yang sudah mengajarkan itu semua padamu?” ujar Zou Chen menatap lembut adiknya, yang segera menunjukkan senyum ceria di depan kakaknya.


“Maaf kalau pukulan yang aku lakukan hanya membuat kakak Qian pingsan, tapi setidaknya itu pantas untuk perbuatannya yang ingin mencelakai Daddy.” Ling Mei kembali menunjukkan sifat manjanya setelah dia membuang stik baseball yang baru dia gunakan untuk memukul Ling Qian.


“Kamu tidak perlu minta maaf, pukulanmu sudah cukup kuat untuk tangan sekecil ini.” Zou Chen memegang tangan imut Ling Mei, “Asal kamu tahu, selain mencelakai Daddy kamu dan menjalin hubungan terlarang dengan ibunya, dia juga terlibat dalam rencana yang menyebabkan kakk buta,” ungkap Zou Chen yang membuat Ling Mei tidak lagi menunjukkan sikap manjanya.


Kedua mata Ling Mei menatap tajam ke arah Ling Qian, “Biarkan aku melakukan sama persis separation yang dia lakukan pada kakak Chen!” kata Ling Mei, lalu dia melangkahkan kakinya ke meja tempat Jenni mengambil belati.


Mengambil botol berisi cairan obat keras, Ling Mei berencana menggunakan cairan itu untuk membuat Ling Qian merasakan apa yang dulu dirasakan Zou Chen.


°°°


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...


__ADS_2