Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan

Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan
Pergi Bulan Madu


__ADS_3

Jangan lupa like nya, terimakasih...


°°°


Mansion Zou Chen.


Pagi yang cerah, menyambut hari pertama Zou Chen dan Jenni resmi menjadi pasangan suami istri.


Keadaan di dalam di luar mansion ramai oleh pelayan dan anggota Black Rose yang melakukan pembersihan.


Semua memiliki tugas masing-masing, dan semua tugas mereka terselesaikan saat Zou Chen dan Jenni keluar dari kamarnya.


Zou Chen dan Jenni keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


“Paman, apa semua sudah siap?” tanya Zou Chen pada Zou Gao.


“Semua sudah siap, Tuan Muda dan Nona Jenni kapanpun dapat berangkat,” ungkap Zou Gao menjawab pertanyaan Jenni.


Keduanya mengangguk di waktu bersamaan.


“Sayang, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” Jenni terlihat sudah tidak sabar pergi ke tempat yang menjadi tujuan perjalanannya.


Zou Chen mengangguk, “Kalau itu yang menjadi keinginanmu, aku hanya bisa menurutinya.” balasnya, lalu dia meminta Zou Gao menyiapkan mobil.


“Sayang, apa benar kita akan pergi ke tempat itu?” Jenni masih belum percaya dengan apa yang semalam dikatakan Zou Chen, tentang dia yang ingin mengajaknya bulan madu, dengan menikmati keindahan Kota Paris.


Zou Chen mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jenni, lalu segera dia membawa istrinya itu menuju mobil yang disiapkan Zou Gao.


Zou Chen membukakan pintu untuk Jenni, dan mempersilahkannya masuk lebih dulu. Dia sendiri masuk melalui pintu lain yang sudah dibukakan Zou Gao.


“Paman Gao, berapa jam kira-kira lama perjalanan kita? Aku tidak terlalu suka berlama-lama di dalam pesawat.”


Zou Gao sejenak mengingat sesuatu, lalu dia memberi jawaban pertanyaan Jenni, “Penerbangan kurang lebih akan ditempuh selama sebelas sampai dua belas jam, ditambah dua jam perjalanan darat, setidaknya Nona Jenni akan berada di dalam kendaraan lebih dari tiga belas jam.”


“Bukannya itu terlalu lama! Apa tidak bisa lebih cepat dari itu?” Jenni menoleh, menatap Zou Chen di sampingnya.


Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Aku sudah menyewa pesawat terbaik, dari maskapai ternama. Tenang saja, selama penerbangan kamu tidak akan dilanda kebosanan.”


“Semoga apa yang kamu katakan adalah kebenaran!” Menatap Zou Chen dengan senyum di wajahnya, lalu dia memeluk lengan kiri Zou Chen yang berada di dekatnya.


“Aku tidak akan pernah bohong padamu, jadi kamu wajib mempercayai semua perkataanku!”


“Aku akan senantiasa percaya padamu.”


“Tidak akan pernah keluar kebohongan dari mulutku.” Zou Chen mengusap lembut kepala Jenni, dan mendaratkan ciuman di keningnya.


‘Apapun yang terjadi, aku tidak akan membuatmu kecewa’ ungkapnya dalam hati.


‘Aku tidak bisa membayangkan betapa banyak wanita di luar sana yang iri dengan posisiku’ kata Jenni dalam hati.


“Sayang, lalu bagaimana dengan Ayah, Ibu, dan yang lainnya? Apa mereka akan menyusul kita?” tanyanya serius, sambil mendongakkan kepala, menatap wajah tampan Zou Chen.

__ADS_1


“Dua hari lagi mereka akan menyusul kita, karena masih ada yang harus diselesaikan Ayah dan Ibu, dan sepertinya mereka sengaja memberi waktu dua hari untuk kita dapat berduaan.”


Jenni menganggukkan kepala mengerti, lalu dia menyandarkan kepalanya ke lengan Zou Chen, menikmati perjalanan dari mansion ke bandara yang diperkirakan memakan waktu kurang lebih satu jam.


Setelah satu jam berlalu, mereka sampai di bandara dan mobil yang dikendarai Zou Gao langsung terparkir di parkiran khusus yang biaya sewanya satu hari setara dengan satu unit motor bebek keluaran terbaru.


Dengan satu lengan masih di dalam pelukan Jenni, Zou Chen melangkah menjauhi mobil, menuju pesawat yang sudah dia sewa untuk perjalanan pribadinya.


“Tuan Muda, pesawat akan langsung berangkat, begitu kita memasang sabuk pengaman.” ungkap Zou Gao, berjalan di depan mengarahkan Zou Chen dan Jenni ke pesawat yang akan membawa mereka ke Kota Paris.


“Paman, sewakan pesawat yang sama untuk keluargaku!” Zou Chen ingin keluarganya menikmati kemewahan dan kenyamanan yang sama dengannya.


Zou Gao mengangguk, dan terus berjalan menuju pesawat yang sudah terlihat di depan mata mereka.


“Sayang, buat dirimu senyaman mungkin.” Zou Chen membantu memasang sabuk pengaman Jenni, begitu pesawat mau take off.


Jenni mengangguk, dengan erat dia menggenggam tangan Zou Chen saat pesawat mulai bergerak, dan pegangan tangannya baru melanggar saat pesawat sudah tenang melayang di atas ketinggian.


°°°


Sebelas jam berlalu dengan cepat, Zou Chen dan Jenni tidak melakukan apa-apa selama di dalam pesawat, sepanjang penerbangan Jenni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, karena dia mengalami mabuk perjalanan.


“Maaf sayang, aku tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai istri, selama penerbangan.” Jenni merasa bersalah karena tidak bisa melayani suaminya, bahkan sampai pesawat mendarat dia tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurnya.


Zou Chen tersenyum mendengarnya dan menggeleng perlahan, “Kamu tidak perlu minta maaf, sebaiknya kita keluar dan menghirup udara Kota Paris!”


Jenni merasa bersalah, tapi untuk saat ini dia hanya bisa menuruti keinginan suaminya, ikut keluar dari pesawat, walau harus berada di atas gendongan Zou Chen, karena tubuhnya masih benar-benar lemas.


‘Kota Paris, aku datang’ Serunya dalam hati.


Jenni menikmati kenyamanan punggung Zou Chen, selama keluar dari dalam pesawat, dan berjalan menuju mobil yang sudah menanti kedatangan mereka.


“Sayang, lebih baik kamu istirahat!” Zou Chen membantu Jenni masuk kedalam mobil.


“Cukup berada di daratan, aku akan pulih dengan cepat.” Menatap wajah Zou Chen, yang telah memposisikan duduk di sampingnya.


Zou Chen memukul pahanya, “Sayang, rebahkan kepalamu di sini!” ungkapnya.


“Terimakasih untuk tempat istirahatnya. Ehm, nanti malam giliranku yang memberi pelayanan spesial untukmu.” Menunjukkan senyuman di wajahnya.


“Aku senantiasa menunggu pelayanan spesial dari istriku.” Tangan Zou Chen meraba tubuh Jenni, “Sepertinya dia sudah tidak sabar!”


“Dia tidak akan pernah sabar saat aku yang berada di dekatnya.” Jenni tahu apa yang dimaksud Zou Chen, karena dengan sengaja dia mengelus milik Zou Chen, dengan tangannya.


Zou Gao dan supir yang berada di depan tidak dapat melihat apa yang dilakukan Zou Chen dan Jenni, karena terdapat pembatas diantara mereka.


“Kenapa kamu terus menyentuhnya? Apa kamu ingin kita melakukannya di tempat ini? Sepertinya itu tidak bisa, karena kamu terlalu berisik saat melakukan itu.” Walau berisik, Zou Chen sangat suka dengan suara yang keluar dari mulut Jenni saat mereka melakukan itu.


Jenni tersenyum, dan tidak lagi memegang milik Zou Chen.


“Bagaimana kalau aku melakukannya dengan ini?” Jenni menunjuk mulutnya.

__ADS_1


Zou Chen menggelengkan kepalanya, menolak apa yang ingin dilakukan Jenni, “Apa kamu masih ingat apa yang terakhir kali terjadi saat kamu memaksa menggunakan itu?”


“Aku mual dan memuntahkan seluruh isi perutku.” Jenni menutup mulutnya selesai mengatakn itu.


“Jangan lagi memaksakan dirimu untuk melakukan itu!”


“Iya sayang, aku mengerti.” Dia akan di cap wanita bodoh kalau kembali mengulangi kesalahan yang sama.


Saat mereka sedang menikmati waktu kebersamaan di dalam mobil, perlahan mobil berjalan meninggalkan bandara, melaju menyusuri jalan menuju mansion mewah yang dibeli Zou Chen, di pinggiran Kota Paris.


Satu jam berlalu, keduanya keluar dari mobil begitu mobil telah sampai di mansion yang semalam sudah ditunjukkan Zou Chen pada Jenni melalui video singkat, yang menunjukkan keindahan mansion.


Berjalan beriringan, keduanya masuk kedalam mansion, dan kedatangan mereka di sambut belasan pelayan yang bekerja di mansion.


Di bagian luar bangunan mansion nampak puluhan anggota Black Mamba dan Black Rose, yang melakukan penerbangan ke Paris menggunakan jet super cepat, sudah lebih dulu sampai, dan langsung melakukan tugas mereka sebagai penjaga mansion.


Setelt penyambutan, Zou Chen dan Jenni langsung menuju kamar utama yang berada di lantai kedua, sama persis seperti kamar mereka di mansion yang berada di Kota Beijing.


“Sayang, lebih baik kita membersihkan diri dan turun kebawah untuk menikmati makan malam.” Zou Chen membuka lemari pakaian, mendapati kebutuhannya dan kebutuhan Jenni sudah tersedia lengkap di tempat itu.


“Paman Gao sangat luar biasa, dalam waktu singkat dia sudah menyiapkan semuanya tanpa terkecuali.” Jenni juga melihat apa yang sedang dilihat Zou Chen.


“Beruntung dia tidak menyiapkan itu juga, kalau sampai dia menyiapkan itu, aku akan menaruh kecurigaan padanya, bagaimana bisa dia mengetahui ukuran milikmu!” Zou Chen menatap bukit kembar Jenni yang sudah terbebas dari kain yang menutupinya.


“Sayang, kamu ingin ini?” Jenni memegang sendiri salah satu bukit kembarnya.


“Kalau aku menginginkannya, kita tidak akan sempat turun, menikmati makan malam pertama kita di Kota Paris.” Zou Chen sebisa mungkin menahan keinginannya.


“Kalau begitu, tunggu selesai makan malam, baru aku memberikan hidangan utama hanya untukmu.” Jenni tersenyum genit, menggigit bibir bawahnya, lalu begitu saja dia masuk kedalam kamar mandi.


Zou Chen menggelengkan kepalanya, “Dia sangat pemalu saat diluar, tapi saat hanya berdua denganku, dia berubah menjadi wanita liar, yang akan jinak saat sudah menemukan kepuasan.” Sikap Jenni yang seperti itu membuat dirinya semakin mencintainya.


‘Dia sekarang telah menjadi istrik, dan mungkin tak lama lagi dia akan menjadi ibu dari anak-ankku. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuknya, dan menjalani dengan baik bersamanya’ Ungkapnya dalam hati.


Zou Chen begitu saja masuk kedalam kamar mandi begitu Jenni keluar.


Cukup lima belas menit Zou Chen di dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya, lalu dia segera keluar kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah disiapkan istrinya.


“Kita turun sekarang, dan menikmati makan malam pertama kita di Paris.” Zou Chen menggandeng lengan Jenni, melangkah bersama menuruni tangga, berjalan menuju ruang makan dimana Zou Gao dan tiga pelayan sudah menunggu kedatangan mereka.


“Tuan Muda, Nona Jenni, selamat menikmati makan malam.” Zou Gao ingin pergi meninggalkan ruang makan, tapi dengan cepat Zou Chen menahan kepergiannya.


“Paman, ikut makan dengan kami! Tidak ada penolakan!” Zou Chen memaksa, “Oh iya paman, besok pagi Bibi Hanna akan datang, jadi aku harap Paman juga menikmati keindahan Kota Paris bersama Bibi.”


Zou Gao tetap menunjukkan wajah datarnya mendengar apa yang dikatakan Zou Chen, walau dalam hatinya bersorak gembira.


‘Masih saja tidak mau menunjukkan ekspresi senangnya’ ungkap Zou Chen dalam hati, sembari melanjutkan makan malamnya.


°°°


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2