Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan

Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan
Menambah Luka


__ADS_3

Di taman yang dipenuhi tumbuhan layu dan jauh dari keramaian kota.


Danial Tang tidak lagi mampu menggerakkan tubuh, setelah dua peluru bersarang di tangan dan bagian dada yang berdekatan dengan letak jantung. Di sisi lain, Zou Chen masih berdiri tegap, walau darah nampak mengalir dari lengan kanannya, yang terserempet muntahan peluru dari pistol Danial Tang.


Zou Chen melangkahkan kakinya mendekati Danial Tang yang nafasnya mulai terdengar berat, bersama darah yang terus mengalir keluar dari luka di dadanya.


Danial Tang tersenyum getir melihat Zou Chen yang benar-benar dapat menghindari tembakan dari jarak kurang dari delapan meter, “Dulu ada orang yang dapat menghindari tembakan dari jarak dua puluh meter dan aku tidak mempercayainya, tapi setelah melihat yang baru kamu lakukan, sepertinya aku harus merubah pemikiranku!”


Zou Chen hanya tersenyum mendengar itu, mengambil pistol milik Danial Tang yang tergeletak dibawah kakinya, dan mengarahkan moncongnya kearah kepala pemilik pistol itu.


“Apa ada permintaan terakhir sebelum aku membunuhmu?” Zou Chen perlahan menarik pemantik pistol, yang didalamnya sudah ada beberapa peluru tajam yang siap dimuntahkan.


“Bunuh juga wanita yang telah menyewa jasaku!” kata Danial Tang, tanpa menyebut siapa nama wanita yang dia maksud.


“Tanpa kau suruh, aku tetap akan membuat perhitungan dengannya, tapi kematian terlalu indah untuknya.” Zou Chen tahu siapa wanita yang dimaksud Danial Tang, walau orang itu tidak menyebut siapa wanita yang dia maksud.


Mendengar itu, Danial Tang perlahan menutup matanya, “Bunuh aku, dan segera akhiri rasa sakit yang aku rasakan!” ujarnya pasrah.


“Tanpa kamu suruh, aku pasti melakukannya.” Zou Chen menarik pemantik pistol, dan bersamaan dengan itu sebuah peluru meluncur menembus kening Danial Tang.


“Bukan aku yang akan membunuh wanita itu karena ada yang berhak mengakhiri kehidupannya, selain diriku.” Zou Chen pergi meninggalkan mayat Danial Tang, kembali kedalam mobilnya.


°°°


Hari sudah menjelang malam saat Zou Chen sampai di rumah milik Jenni, yang berada jauh dari pusat Kota Beijing.


Luka di lengan Zou Chen telah diobati Xavier selama perjalanan menuju rumah Jenni, walau hanya luka kecil, tetap saja harus diobati untuk mencegah infeksi, dan memburuknya luka.


Keluar dari mobil yang berhenti di halaman rumah, kedatangan Zou Chen disambut Jenni yang berlari dari dalam rumah, dan langsung memeluk tubuhnya, “Syukurlah kamu baik-baik saja,” ungkap Jenni bersyukur.


Akan tetapi, Jenni yang tahu kalau kekasihnya terluka, dia segera melepaskan pelukannya, dan berganti menarik telinga Zou Chen.


Wajah Jenni nampak menggemaskan saat sedang menarik telinga Zou Chen, “Bagaimana bisa kamu membuat dirimu terluka, disaat kamu dapat membunuhnya tanpa mendapatkan luka?” seru Jenni yang masih menarik telinga Zou Chen sampai memerah.


Masih menarik telinga Zou Chen, Jenni membawa pria itu masuk kedalam rumah, menemui ibu, adik, dan kakaknya.

__ADS_1


Zou Chen hanya menuruti kemana Jenni ingin membawanya, tidak ada sedikit pun keinginan untuk menolak keinginan wanita yang tak lama lagi akan resmi menjadi istrinya.


“Sayang, apa yang dilakukan bocah nakal sampai kamu menarik telinganya?” tanya Yun Shui.


Tidak langsung menjawab, Jenni terlebih dahulu duduk di dekat Yun Shui, begitu juga dengan Zou Chen yang ikut duduk di sebelah Jenni.


“Ibu, pria bodoh ini membuat dirinya terluka,” ungkap Jenni menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya.


Yun Shui tahu itu hanya gimik yang ditunjukkan Jenni, tapi dia tetap menunjukkan keseriusan saat menatap Zou Chen yang begitu bodoh sampai membiarkan dirinya terluka, padahal bisa saja dia menang tanpa mengalami luka.


“Lain kali jangan melakukan kebodohan yang sama! Kamu memang merasa itu baik-baik saja, tapi itu berbeda dengan kami yang selalu mengkhawatirkan kamu. Kalau bisa selesai tanpa menimbulkan luka, jangan membuat dirimu dalam bahaya dan memancing datangnya luka!” ujar Yun Shui.


“Aku mengerti,” Zou Chen tersenyum kecut saat melihat ekspresi Jenni dan Ibunya yang benar-benar khawatir, dengan luka tak seberapa yang baru dia dapatkan.


Xavi sambil mengemudi, telah memberitahukan keadaan terbaru Zou Chen pada Jenni dan pada yang lainnya. Saat mendapat kabar Zou Chen terluka, tidak ada orang yang tidak khawatir dengannya, terutama Jenni dan Yun Shui.


“Ibu, ada yang harus aku selesaikan dengannya!” ungkap Jenni.


Yun Shui hanya mengangguk.


Jenni langsung saja menggenggam tangan Zou Chen, dan menariknya menuju kamarnya di lantai dua.


Jenni menyentuh dada Zou Chen, mendorong pria itu terbaring terlentang di atas tempat tidurnya.


Zou Chen hanya diam membiarkan Jenni melakukan apa yang ingin dia lakukan. Namun, dia berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia akan menikmati apa yang akan dilakukan Jenni pada tubuhnya.


Jenni naik ke atas ranjang dan duduk di samping Zou Chen.


Hanya sebuah sentuhan tangan halus Jenni di miliknya yang mulai menegang, sudah cukup membuat Zou Chen memejamkan mata merasakan nikmat.


Jenni memijat lembut milik Zou Chen dengan salah satu tangannya, sementara tangannya yang lain sibuk memainkan miliknya sendiri.


Merasa cukup dengan permainan tangannya, Jenni mendekatkan wajahnya ke depan wajah Zou Chen, sembari membuat tubuhnya berada di atas tubuh pria yang sudah mendapatkan semua yang ada pada tubuhnya. Jenni mencium bibir Zou Chen, sambil mengarahkan benda tumpul di bawah miliknya, masuk ke tempat yang sudah menanti kedatangannya.


Jenni menggigit bibir bawahnya saat perlahan milik Zou Chen masuk kedalam miliknya. Setelah beberapa saat terdiam meresapi rasa nikmat yang menjalar ke setiap bagian tubuhnya, Jenni mulai menggerakkan tubuhnya, membuat Zou Chen menutup rapat matanya, meresapi kenikmatan yang dia rasakan.

__ADS_1


Malam semakin larut, cuaca di rumah Jenni semakin dingin karena letaknya yang berada di kaki gunung. Akan tetapi cuaca dingin tidak mengurangi hawa panas di kamar yang ditempati Zou Chen dan Jenni.


Keduanya masih memburu kenikmatan, sampai pada akhirnya tubuh keduanya mengejang di waktu bersamaan.


Seketika suasana kamar itu menjadi sunyi dan tenang.


Tidak lagi terdengar suara keributan yang membuat banyak orang, pergi menjauhi kamar mereka.


°°°


Zou Chen menyunggingkan senyumnya, melihat Jenni tertidur nyenyak di sisinya.


Dia menyentuh wajah cantik kekasihnya dengan punggung tangannya, kehalusan wajah Jenni membuatnya ingin berlama-lama menyentuh wajahnya.


“Sayang, sejak kapan kamu bangun?” tanya Jenni yang terbangun saat merasakan seseorang sedang mengusap lembut wajahnya.


Zou Chen tersenyum, lalu mencium kening Jenni, “Lanjutkan tidur kamu, kalau masih mengantuk. Aku rasa tubuhmu masih lelah setelah apa yang semalam kita lakukan,” bisik lembut Zou Chen di dekat telinga Jenni.


Jenni menggelengkan kepalanya, “Aku sudah tidak lelah. Bagaimana kalau kita mandi bersama, dan turun menemui yang lainnya? Aku rasa sebentar lagi waktunya sarapan,” ujarnya.


Zou Chen mengangguk sembari bangkit dari tempat tidur, lalu dengan ringannya dia menggendong Jenni dan membawanya kedalam kamar mandi.


Jenni masih saja malu saat Zou Chen menggendong tubuh polosnya, walau dia sudah sering melakukan itu padanya, “Lain kali, biarkan aku jalan sendiri!” pinta Jenni yang sudah berendam di dalam bathtub berdua dengan Zou Chen.


“Aku tidak berjanji untuk tidak melakukan itu,” kata Zou Chen yang kedua tangannya sedang menjelajahi setiap inci bagian tubuh Jenni yang sedang terendam di dalam air. Jenni tidak tinggal diam, dengan kedua tangannya dia berhasil membuat Zou Chen menghentikan gerakan tangannya, dan beralih menikmati sentuhan tangannya.


Acara mandi bersama mereka harus berakhir lebih cepat saat Yun Shui beberapa kali memanggil mereka untuk sarapan bersama. Di tengah ketegangan yang belum tuntas, wajah Zou Chen terlihat jelek saat berjalan keluar kamarnya, setelah berganti pakaian.


Jenni hanya diam sambil menahan tawa melihat ekspresi jelek yang ditunjukkan kekasihnya. Dia tidak tahu seperti apa rasanya, tapi dia yakin kalau kekasihnya saat ini sedang menderita karena belum mendapatkan apa yang tadinya hampir dia dapatkan.


Keduanya telah sampai di ruang makan, dan di sambut keramaian orang-orang yang ingin menikmati sarapan bersama. Zou Gao juga sudah berada di tempat itu, dan makanan yang tersaji adalah masakannya.


Dari sekian banyak orang, hanya Yun Shui yang peka dengan apa yang di rasakan Zou Chen, ‘Sepertinya aku tadi datang di waktu yang kurang tepat’ ungkapnya dalam hati.


°°°

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...


__ADS_2