Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan

Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Jangan lupa like nya, terimakasih...


°°°


Zou Chen membiarkan warisan kakeknya tetap tersimpan rapat di tempatnya, dan hanya akan menggunakan saat dia benar-benar membutuhkannya.


°°°


Malam hari mansion Zou Chen.


Setelah kembali dari kediaman leluhur keluarga Ling, Zou Chen menyempatkan diri bermain dengan kedelapan adiknya, sampai mereka mengantuk dan pergi tidur.


Setelah mengantarkan kedelapan adiknya ke kamar mereka masing-masing, Zou Chen kembali ke ruang keluarga, menemui Jenni yang sedang mendapatkan perawatan khusus dari orang-orang kepercayaan ibunya.


“Hah, sepertinya malam ini aku tidak akan bisa melakukan itu dengannya. Dengan semua perawatan yang dia lakukan, mana mungkin dia mau melayaniku,” gumamnya, berjalan mendekat lalu duduk di sebelah Jenni.


Tidak lama setelah Zou Chen duduk di sebelah Jenni, empat wanita yang melakukan perawatan akhirnya selesai melakukan tugasnya, dan segera mereka undur diri karena hari mulai malam.


Hanya berduaan dengan Jenni, tangan Zou Chen mulai aktif menyentuh area sensitif di tubuh Jenni.


“Sayang, jangan di sini! Lebih baik kamu melakukan itu di kamar sementara kita,” ungkap Jenni yang segera membawa Zou Chen menuju kamar sementara yang akan mereka tempati, karena kamar utama sedang dihias untuk malam pertama mereka sebagai suami istri.


“Lihat penampilanmu! Kamu sudah begitu sempurna walau tanpa riasan wajah, apa kamu yakin mengizinkan aku melakukan itu?” tanya Zou Chen yang sudah berada di dalam selimut bersama Jenni, dan keduanya sudah sama-sama melepas seluruh pakaiannya.


“Sayang, penampilan masih bisa diperbaiki, tapi kesenangan kita malam ini akan sulit terulang di lain hari. Lagian kapan lagi kita dapat melakukannya di saat kita belum resmi menjadi suami istri, selain malam ini?.”


“Kalau begitu aku tidak akan sungkan.” Tidak ingin berlama-lama, Zou Chen langsung saja memasukkan miliknya ke dalam milik Jenni yang selalu basah.


Malam ini kembali keduanya melewati malam dengan peluh keringat, kesenangan, serta kepuasan, yang sangat diimpikan pasangan muda di luar sana, dan semua kesenangan itu berakhir saat keduanya terlelap dengan rasa puas.


°°°


Pagi hari.


Mansion Zou Chen nampak begitu meriah dengan hiasan berwarna merah dan kuning keemasan, yang tertata rapi dari halaman depan, sampai bagian halaman belakang mansion.


“Apa ini tidak terlalu mewah?” tanya Zou Chen pada Ling Jia yang bertanggungjawab menghias mansion.

__ADS_1


“Dibandingkan pesta pernikahan di keluarga besar lainnya, semua ini masih jauh dari kata mewah,” jawab Ling Jia yang puas dengan hasil kerjanya.


Zou Chen menoleh, melihat sekelilingnya, “Aku tidak tau kriteria sederhana bagai seorang wanita,” ungkapnya.


Ling Jia menatap Zou Chen dengan bibir melengkung membentuk senyuman.


“Labih baik kamu segera bersiap-siap daripada memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan!” ujar Ling Jia.


“Baiklah, aku akan bersiap-siap, tapi sebelum itu, biarkan aku berterimakasih untuk kerja keras kakak dan adik Mei.” Zou Chen mengcium kening kakaknya lalu pergi masuk ke dalam mansion.


“Seandainya adik ipar belum memiliki hatimu, mungkin aku akan perjuangkan perasaanku padamu,” gumam Ling Jia yang sejak kecil sudah memiliki rasa tersendiri pada Zou Chen.


Akan tetapi rasa yang dia rasakan harus dipendam dalam, karena rasa takutnya pada sosok ibu dan kedua kakaknya.


“Ibu tau apa yang kamu rasakan, dan cobalah untuk mengikhlaskannya.”


Ling Jia menoleh, saat mendengar suara lembut wanita di sampingnya, “Eh, Ibu! Sejak kapan Ibu di tempat ini?” terkejut Ling Jia dengan Yun Shui yang tiba-tiba berada di sampingnya.


Yun Shui tersenyum mendengarnya, lalu dia dengan lembut memeluk tubuh Ling Jia, “Aku yakin Dewa di surga telah menyiapkan pria terbaik untukmu,” ungkapnya.


Setelah pelukan singkat, keduanya tersenyum, lalu melangkah masuk kedalam mansion untuk merias diri mereka, bersiap menghadiri pesta.


°°°


Di dalam ruangan tempat calon pengantin dirias.


“Sayang, gaun ini sedikit kekecilan di bagian dada, apa mungkin orang itu salah ukur?” tanya Jenni.


Zou Chen melihat bagian dada Jenni yang entah sejak kapan dia merasa ukurannya terlihat lebih besar dari beberapa hari yang lalu.


“Sepertinya itu tidak salah ukur, melainkan bagian dada km saja yang membesar.”


Zou Chen memegang benda kenyal milik Jenni, saat para perias keluar dari ruangan.


“Ini sedikit lebih besar dari sebelumnya,” ungkap Zou Chen tersenyum, sambil melihat Jenni yang sedang mengerucutkan bibir merahnya.


“Kalau kamu tidak nyaman, aku bisa menyuruh orang itu datang dan membawakan semua koleksi terbaik gaun pengantinnya, dan kamu bebas memilih mana yang sesuai dengan keinginanmu.”

__ADS_1


“Ini cuma sedikit sempit, bukan berarti aku tidak nyaman, tapi ini bisa bertambah sempit kalau tangan kamu masih berada di situ!” Jenni mencubit punggung tangan Zou Chen.


Bukannya mengaduh, Zou Chen justru tersenyum saat Jenni mencubit punggung tangannya.


“Ada Paman Gao dan Bibi Hanna yang akan menggantikan tempat orangtuamu,” kata Zou Chen, lalu dia berjalan keluar bersama dengan masuknya Yun Shui yang ingin memastikan kesiapa calon menantunya.


°°°


Halaman belakang mansion.


Zou Gao menyambut kedatangan Hanna, wanita yang sangat dia cintai, tapi hubungan keduanya harus kandas saat Zou Gao tidak kunjung menyentuh wanita yang senantiasa menjaga tubuhnya hanya untuk dirinya.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Zou Gao.


“Kabarku sangat baik, apalagi akhir-akhir ini ada pria yang selalu memperhatikanku, dan berjanji secepatnya menikahiku begitu kita resmi bercerai di mata hukum,” balas Hanna.


Zou Gao terbelalak, dan merasakan emosinya memuncak, “Aku tidak akan menceraikanmu, dan aku pasti membuat menyesal pria yang mencoba merebutmu dariku!” ujarnya geram.


Senyum mengembang di bibir Hanna mendengar perkataan Zou Chen, dan dengan langkah perlahan dia mendekati pria itu, “Segera ambil semua yang aku miliki, kalau kamu tidak ingin ada pria lain yang memilikinya.” Bibir Hanna begitu saja menempel di bibir Zou Gao, begitu menyelesaikan perkataannya.


Dari sekedar menempel, Hanna mulai menciumi bibir Zou Gao, yang setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya pria itu mau membalas ciumannya, ‘Kalau hanya dengan sedikit berbohong dapat membuatmu berubah, aku menyesal tidak melakukan itu sejak dulu’ ungkapnya dalam hati.


“Tunggu saja, besok pagi kamu pasti susah untuk meninggalkan tempat tidur,” kata Zou Gao, setelah mengakhiri ciuman hangat dengan wanitanya.


“Aku sudah lama menunggu itu, dan tolong buktikan apa yang baru kamu katakan,” ungkapnya, dan langsung saja dia memeluk lengan Zou Gao lalu keduanya berjalan menuju ke tempat Jenni.


“Aku tidak menyangka Paman Gao terlihat sangat ketakutan dengan ancaman Bibi Hanna yang jelas-jelas itu adalah sebuah kebohongan,” ujar Xavi yang sejak awal sampai akhir melihat apa yang dilakukan Zou Gao dan Hanna.


“Beruntungnya kita dapat melihat kejadian, yang tidak mungkin dapat kembali kita lihat di masa depan!” kata Xavier, berdiri di sebelah saudara kembarnya, di balkon belakang mansion tepat di atas tempat Zou Gao dan Hanna melakukan ciuman hangat.


“Entah kenapa setelah sering mendengar suara-suara dari kamar Tuan Muda dan melihat adegan barus, aku ingin segera memiliki pasangan hidup,” ungkap Xavi.


“Begitu juga denganku,” balas Xavier.


°°°


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2