
“Tuan Muda, Ling Company kembali mengajukan kerja sama tapi kali ini mereka menginginkan keuntungan yang lebih besar dari sebelumnya,” kata Zou Gao setelah Zou Chen selesai mengobati luka di lengan Jenni.
“Berapa persen keuntungan yang mereka minta?” Zou Chen bertanya sembari mengambil makanan dan minuman untuk dia berikan pada Jenni.
“Mereka menginginkan 60 persen keuntungan, dengan jumlah modal yang sama. Ling Company beralasan proyek itu di cetuskan oleh mereka, dan sudah wajar keuntungan terbesar menjadi milik mereka.”
Zou Chen terkekeh pelan mendengar itu.
“Paman, apa kita akan mengalami kerugian kalau kita menolak kerjasama itu?” tanyanya.
Zou Gao sejenak berpikir, tak lama dia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada kerugian yang akan didapatkan Zou Company, karena sejujurnya merekalah yang butuh tambahan dana dari kita.”
“Kalau begitu, tolak kerjasama apapun yang berhubungan dengan mereka!” katanya.
Zou Gao segera menghubungi Nathan, setelah mendengar apa yang dikatakan tuan mudanya.
“Paman, katakan saja padaku kalau Ling Company berbuat macam-macam pada Zou Company!”
“Tuan Muda tenang saja, untuk saat ini mereka tidak akan berani berbuat macam-macam pada kita.”
“Lalu, bagaimana kabar kerjasama yang sudah kita jalankan dengan mereka? Apa semua berjalan lancar?”
“Semua berjalan lancar, dan keuntungan mulai kita dapatkan. Akan tetapi, Ling Company mulai menuntut kita untuk memperbesar keuntungan yang menjadi hak mereka,” balas Zou Gao.
“Mereka sedang membutuhkan banyak kemasukan untuk menutupi kerugian yang mereka derita saat bersaing dengan kita, tapi jangan harap mendapatkan tambahan keuntungan dari pihak yang menginginkan kehancuran Ling Company.”
“Aku tidak terlalu peduli dengan keuntungan kecil itu, kalau mereka ngelunjak, kita bisa menarik diri dari kerjasama itu, dan membiarkan mereka membiayai semuanya seorang diri.”
Zou Chen langsung saja pergi meninggalkan Zou Gao, setelah mendapatkan apa yang akan dia bawakan untuk Jenni.
Dia menuju tempat kolam renang yang berada di tengah-tengah Mansion.
Senyum menawan Jenni menyambut kedatangannya. Dia membalas senyuman itu, lalu duduk di samping Jenni yang masih menggunakan pakaian olahraganya.
Zou Chen dengan penuh kelembutan menyuapi Jenni dengan makanan yang dia bawa dari dapur.
Jenni dengan senang hati memakan makanan yang disodorkan Zou Chen, karena tangan kanannya masih terasa sakit akibat perbuatan Ling Jun.
__ADS_1
Seluruh makanan dan minuman yang dibawa Zou Chen telah habis, dan dia segera membawa wadah kosong bekas makanan kembali ke dapur. Padahal di sekelilingnya banyak pelayan, tapi dia memilih mengerjakannya sendiri.
Zou Chen kembali ke tempat Jenni, yang sekarang tidak lagi sendirian karena ada kedelapan adiknya yang baru saja bangun.
Senyuman terlihat di bibirnya saat melihat kebersamaan mereka.
“Kakak Chen, terimakasih karena sudah menjaga Kakak Jenni,” kata adik terkecil Jenni.
Zou Chen tidak menjawab, dia hanya mengelus kepala gadis kecil di depannya, sembari menunjukkan senyum tulus.
“Kalian lebih baik mandi dulu, setelah itu kita sarapan bersama,” kata Zou Chen pada kedelapan adiknya.
Bukannya segera pergi ke kamar mandi, mereka justru melompat, menceburkan diri ke kolam anak-anak yang tepat berada di kolam khusus orang dewasa. “Sudahlah, lakukan apa yang kalian mau.” Pada akhirnya Zou Chen membiarkan mereka melakukan apa yang membuat semua merasa senang.
°°°
Setelah bermain air di kolam renang, dan menghabiskan waktu pagi bersama, siang ini Zou Chen bermaksud mengajak kedelapan adiknya jalan-jalan, tapi ternyata mereka tertidur setelah kelelahan bermain.
Akhirnya hanya dia dan Jenni yang pergi menikmati hari libur.
“Ada apa?” balas Zou Chen yang fokus mengendarai mobilnya.
“Kita sekarang mau kemana?” tanya Jenni, merasa tidak asing dengan jalan yang dilalui Zou Chen.
“Aku ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir calon mertuaku. Besok universitas masih libur, jadi tidak ada salahnya kita berkunjung ke tempat peristirahatan mereka, dan menginap di hotel terdekat dari tempat itu,” balas Zou Chen.
Jenni senang mendengar tempat yang dituju Zou Chen.
Dia sudah lama tidak ke tempat itu karena sibuk bekerja, mengurus adik-adiknya, dan lagi dia juga harus mengikuti perkuliahan.
“Apa kamu masih belum mengikhlaskan kepergian mereka?” tanya Zou Chen yang sekilas melihat kesedihan di wajah Jenni.
Jenni, pemilik wajah cantik yang menyimpan kesedihan hanya menganggukkan kepalanya, mengakui kalau dirinya belum ikhlas dengan kepergian kedua orangtuanya.
Di atas tempat duduknya Jenni memejamkan kedua matanya, dan menghela nafas panjang.
Terlihat jelas dia menahan kesedihan atas kematian kedua orangtuanya, yang jauh dari kewajaran. Walau pada akhirnya dia tau kalau kematian orangtuanya merupakan ulah Ling Jun, yang menyuruh orang menyabotase kendaraan mereka.
__ADS_1
Zou Chen memegang tangan Jenni menggunakan tangan kanannya, yang tidak memegang kemudi mobil.
“Kita akan menuntut balas apa yang sudah dia lakukan pada mereka,” ungkapnya.
Jenni menoleh, memandang Zou Chen. “Aku tidak menginginkan kematiannya, tapi aku ingin dia menderita. Sebuah penderitaan yang membuatnya merasa kematian jauh lebih baik daripada menjalani kehidupan dalam penderitaan.” Jenni menarik nafas panjang, lalu melanjutkan perkataannya.
“Mungkin kamu sudah mengetahuinya! Bukan hanya satu orang, tapi tiga orang itu harus merasakan hal yang sama!” Jenni tidak bisa membendung air matanya setelah mengatakan itu.
Zou Chen menganggukkan kepalanya. Dia pasti melakukan itu, sekali pun Jenni tidak memintanya, dan benar kata Jenni tentang dirinya yang sudah tahu identitas tiga orang yang terlibat dalam kematian orangtuanya.
“Kamu tenang saja, kita memiliki tujuan yang sama, dan orang-orang itu kebetulan berada dalam daftar nama yang menjadi target balas dendamku!”
“Aku akan membantu. Setidaknya aku ingin menggunakan tanganku untuk menyeret mereka dalam jurang penderitaan,” kata kata Jenni sembari menyeka air matanya.
“Banyak tempat kosong yang bisa kamu tempati, tapi untuk sekarang, sebaiknya kita gunakan waktu untuk bersenang-senang. Setidaknya malam ini kita bisa menghabiskan malam bersama, sambil menunggu Pama Gao menyelesaikan persyaratan pernikahan kita,” balas Zou Chen dengan tangan kanan masih memegang salah satu tangan Jenni.
Wajah Jenni bersemu merah saat Zou Chen menyinggung soal pernikahan.
“Usia kita masih belasan tahun, apa kamu yakin menikah di usia semuda kita?” Jenni menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus.
“Kenapa juga kita kita harus menunda, kalau sudah sama-sama menginginkannya? Semakin cepat kita menikah, itu semakin baik untuk hubungan kita, dan lagi orang itu pasti akan merasakan sakit saat mendengar kabar pernikahan kita,” ujar Zou Chen, yang masih fokus dengan laju mobilnya.
Jenni menerima semua keputusan Zou Chen. Menurutnya, menikah muda tidak akan menjadi masalah disaat kedua belah pihak sama-sama siap.
“Apa nantinya kamu akan mengundang Ibu dan adikmu untuk menghadiri pernikahan kita?” tanya Jenni tiba-tiba.
“Tidak ada salahnya mengundang mereka. Bukannya kamu sendiri tahu, Ibu dan Ling Meilin berbeda jauh dari mereka semua yang berada di keluarga Ling!”
“Sayang, kenapa tidak sekalian mengundang seluruh keluarga Ling? Aku rasa hari pernikahan kita, adalah waktu yang tepat untuk membuka identitas Zou Chen yang sebenarnya!”
Senyum di wajah Zou Chen terlihat, setelah mendengar itu. “Aku memang tidak salah memilih wanita, dan aku akan menjadikan hari kebahagiaan kita sebagai awal penderitaan mereka,” ungkapnya.
°°°
Bersambung...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...
__ADS_1