
Jangan lupa like nya, terimakasih...
°°°
Zou Chen tersenyum menatap Jenni berdiri di depan cermin besar dalam kamar mereka, dengan hanya menggunakan lingerie yang tak mampu sepenuhnya menutupi keindahan tubuhnya.
“Sayang, bagian mana dulu yang ingin kamu lihat?” Jenni menatap Zou Chen yang duduk di pinggiran tempat tidur.
“Aku ingin melihat itu.” Menunjuk bukit kembar Jenni.
Jenni menurunkan lingerie nya, membiarkan Zou Chen menikmati keindahan bukit kembarnya.
“Sayang, aku juga menginginkan yang itu!” Menunjuk milik Jenni yang masih tertutupi lingerie.
Jenni pun perlahan menurunkan lingerie sampai jatuh menutupi mata kaki, membiarkan Zou Chen menikmati keindahan tubuh polosnya. Bukit kembar, dan milik Jenni yang begitu mulus benar-benar membuat Zou Chen ingin segera menyentuhnya.
Celana yang dipakai Zou Chen mengembung, saat miliknya menegang, dan segera saja dia membebaskan miliknya dari sangkar yang mengurungnya.
“Sayang,” Zou Chen bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki mendekati Jenni.
Jenni tersenyum sambil menggigii bibir bawahnya.
“Apa dia sudah tidak tahan, dan ingin segera melakukannya?”
Zou Chen mengangguk pelan, “Apa kamu sudah lupa kalau dia selalu menginginkan itu hanya saat bersamamu!”
“Untuk malam ini lakukan dengan cepat, karena aku masih capek setelah penerbangan panjang.” Jenni membantu Zou Chen membuka pakaiannya.
“Aku juga capek, tapi dia tetap saja menginginkan itu.” Zou Chen merapatkan tubuhnya dengan Jenni.
Tidak ingin berlama-lama, Zou Chen langsung saja mendekatkan wajahnya ke depan wajah Jenni.
Zou Chen mengawali dengan mencium kening Jenni, lelu beralih mengecup dan menciuman dengan lembut bibir Jenni.
Dengan tangan kanan memegang tengkuk Jenni dan tangan kiri melingkar di pinggangnya, Zou Chen menikmati kelembutan bibir istrinya.
Jenni memejamkan mata menikmati ciuman lembut yang meningkatkan gairahnya, dan membiarkan tangan suaminya yang mulai menari-nari di punggungnya.
Merasakan ciuman suaminya yang semakin menggebu, Jenni membalasnya dengan menyambut hangat bibir yang membuat basah bibirnya.
Zou Chen menghentikan ciumannya, lalu membalik tubuh istrinya.
Tahu apa yang menjadi keinginan suaminya, Jenni segera mencari tumpuan, lalu membungkukkan tubuhnya, membiarkan miliknya terlihat jelas dari tempat bersiri suaminya.
Hasrat Zou menggebu-gebu melihat milik Jenni yang selalu basah.
Sambil perlahan memasukkan miliknya kedalam milik Jenni, Zou Chen berbisik, “Semoga Kota Paris mebuat Dewa menghadirkan anak yang akan melengkapi kehidupan kita.” ******* dan erangan keluar dari mulut Jenni, begitu milik Zou Chen sepenuhnya masuk kedalam miliknya.
Dengan menyatunya milik mereka, keduanya mulai memburu kenikmatan, menyempurnakan malam pertama di Kota Paris.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, keadaan kamar Zou Chen dan Jenni kembali tenang, dan terlihat dua orang yang sudah menyembunyi tubuh mereka kedalam selimut, “Aku akan selalu mencintaimu.” Zou Chen mencium kening istrinya, yang sudah terlelap dalam tidur indahnya.
°°°
Hari sudah berganti.
Siang ini Zou Chen dan Jenni sudah berada di pantai Saint Malo, salah satu pantai terindah di Negara Prancis.
Keduanya menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan, menikmati deburan ombak kecil yang menerpa kaki mereka.
“Sayang, tempat ini sangat indah, aku merasa jadi wanita paling beruntung, karena kamu membawaku ke tempat seindah ini, seandainya tempat seperti ini ada di Kota Beijing, aku tidak akan bosan mengunjunginya.”
Zou Chen menunjukkan senyum di bibirnya, menoleh menatap Jenni, lalu dengan lembut dia mengecup kening wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
“Kalau kamu ingin, kita bisa membeli tempat tinggal dan menetap di Kota ini.” Zou Chen serius ingin melakukan itu.
Jenni menggeleng pelan, “Tidak perlu melakukan itu, karena seindah apapun tempat ini, aku masih lebih nyaman di Kota Beijing.” Jenni menarik lengan kiri Zou Chen, dan memeluknya erat.
Mereka kembali melanjutkan langkah, berjalan meninggalkan bibir pantai, dan tak lama mereka akhirnya sampai di restoran tepi pantai untuk menikmati makan siang.
“Sayang, bukannya itu Li Xian? Jangan-jangan restoran ini adalah miliknya!” Jenni melihat sosok Li Xian, pria yang terobsesi ingin memilikinya, sama seperti Ling Jun.
“Restoran ini memang miliknya, tapi kamu tenang saja, dia tidak akan lagi berani mengganggu kita, dan dia sudah menemukan wanita yang sudah membuatnya tak lagi terobsesi ingin memilikimu.” Zoe Chen tahu semua itu dari Zou Gao yang selalu mengawasi keberadaan orang-orang, yang berpotensi membuat masalah dengannya.
Jenni memperhatikan Li Xian yang terlihat mesra dengan wanita yang menjadi pelayan di restorannya, “Syukurlah kalau dia sudah menemukan wanitanya sendiri.” Jenni lega melihat pria itu tak lagi terobsesi dengan dirinya.
Menikmati makan siang dengan pemandangan indah pantai, Jenni tak sungkan menyiapkan makanan ke mulut suaminya, begitu juga dengan Zou Chen yang tak malu-malu menunjukkan kemesraannya di depan banyak orang.
°°°
“Sayang, kenapa kamu terus melihat mereka?” Millen, kekasih Li Xian merasa aneh dengan kekasihnya.
Li Xian menoleh memandang Millen, “Wanita itulah cinta pertamaku, yang tak pernah membalas cintaku, demi pria luar biasa yang kini susah menjadi suaminya.”
Millen bergantian menatap Jenni dan Zou Chen, “Wanita yang sangat cantik, dan bukannya dia Tuan Muda Zou Chen, pengusaha muda yang paling berpengaruh di Asia maupun Eropa!” Millen sering melihat wajah Zou Chen muncul di majalah elektronik ternama.
“Pria itu sangat berbahaya untuk lawan bisnisnya, tapi dia sosok yang baik untuk sahabatnya, dan sayangnya aku dulu memilih di sisi yang salah. Bisnis dan hargadiriku hancur, begitu juga dengan keluargaku.”
“Itu hanya cerita masa lalu, sekarang kamu sudah memulai hidup baru, dan jangan melakukan kesalahan yang sama di masa depan.” Millen memeluk lengan Li Xian menguatkan pria yang sempat jatuh terpuruk karena kebodohannya.
“Denganmu, aku yakin tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Li Xian mengecup kening Millen, lalu mereka melanjutkan kerja seperti biasa.
°°°
Mansion.
Zou Chen dan Jenni sudah berada di mansion, setelah seharian menikmati hari luar biasa di Negara Prancis. Jenni duduk di sofa sambil melihat acara yang tayang di televisi, sementara Zou Chen sibuk dengan ponselnya, menerima panggilan dari Nathan, yang menyampaikan kabar baik tentang pelebaran bisnis ke Benua Afrika dan Amerika.
“Sayang, kapan Ibu dan yang lainnya tiba?”
__ADS_1
“Penerbangan mereka pukul dua belas siang tadi. Kemungkinan tengah malam nanti mereka sampai di tempat ini.”
“Apa mereka menaiki pesawat sama seperti yang kita gunakan? Adik-adik kita pasti senang berada di pesawat yang selayaknya hotel berbintang lima.”
Zou Chen mengatakan kalau Yun Shui dan yang lainnya menggunakan pesawat yang sama. Selain keluarga, ada juga si kembar, dan beberapa anggota Black Mamba dan Black Rose ikut rombongan mereka.
“Kalau begitu, aku akan lebih dulu memastikan kamar untuk mereka.” Jenni begitu saja pergi untuk memastikan kamar yang akan digunakan Yun Shui dan yang lainnya.
Zou Chen kembali menatap layar ponselnya, begitu Jenni pergi.
Senyum di wajah Zou Chen terlihat saat dia melihat berita panas di Negaranya.
“Dengan Ayah dan Ibu mengumumkan siapa aku bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang hadir dalam pesta pernikahanku.” gumamnya sambil mematikan ponsel, dan memasukkannya ke dalam saku celana.
“Lebih baik aku ikut dengannya!” Zou Chen melangkahkan kaki menyusul Jenni.
°°°
Beberapa jam yang lalu, terjadi berita besar di Kota Beijing saat Ling Feng dan Yun Shui mengumumkan identitas asli Zou Chen didepan banyak wartawan yang secara langsung diundang untuk menghadiri konferensi pers di mansion Zou Chen.
Nathan, Lee Zhou, dan Bella sebagai petinggi Zou Company juga hadir dalam konferensi pers. Sementara ada Zou Yao datang mewakili keluarga Zou.
Dengan video singkat yang berisikan pengakuan Zou Chen tentang identitas aslinya, serta alasan dia menggunakan marga keluarga Zou.
Dalam konferensi pers yang baru selesai, Ling Feng juga mengumumkan perceraiannya dengan Vanesa Zhu, yang saat ini sudah mendekam di dalam penjara, menjalani hukuman atas semua kesalahannya.
°°°
Kantor kepolisian Kota Beijing.
Dengan diantar dua anggota Black Mamba, Ling Qian yang sudah kehilangan kedua matanya, untuk pertama kalinya datang mengunjungi Vanesa Zhu di dalam penjara.
Lelaki itu sekarang sudah berada di dalam ruangan bersama wanita yang dia sayangi sebagai seorang Ibu, tapi dia juga mencintai wanita itu sebagai kekasih.
“Sayang, semua ini salah Ibu, kalau saja Ibu tidak melakukan semua kejahatan pada Ling Chen, kamu tidak akan menderita seperti ini.”
Ling Qian menggeleng pelan, “Bukan hanya Ibu, tapi aku, kakak Ling Jun juga melakukan kesalahan yang sama, hanya karena harta dan wanita kita menjadi sangat bodoh.”
“Hah, intinya kita telah membuat kesalahan yang sama, termasuk hubungan terlarang yang kita lakukan.”
Vanesa memegang wajah Ling Qian, menghela nafas panjang, lalu dia berkata, “Aku tidak tahu kamu sekarang tinggal dimana, dan bagaimana perlakuan mereka padamu. Sebagai Ibu aku sangat tidak berguna karena tidak bisa melindungi anak-anaknya.” Butiran air mata menetes dari ujung matanya, tak tega melihat penderitaan putranya.
“Ibu, aku tinggal di markas Black Mamba. Walau mereka selalu mengacuhkanku, setidaknya mereka memberiku makan dan tempat tinggal.”
“Setidaknya dia tidak memberikan siksaan yang lebih parah, selain membutakan kedua matamu.” Baru juga Vanesa selesai berkata, polisi datang dan membawanya kembali ke ruang tahanan.
“Semoga Ibu baik-baik saja di tempat ini,” gumamnya sebelum dua anggota Black Mamba datang menjemput dan membawanya kembali ke penjara yang sudah di sulap menjadi kamar terburuk untuknya.
°°°
__ADS_1
Bersambung...