Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan

Kembalinya Tuan Muda Yang Terasingkan
Memberi Kejutan


__ADS_3

Hari sudah berganti malam saat Zou Chen menghentikan mobilnya di parkiran sebuah hotel.


“Apa benar malam ini kita akan menginap di hotel ini? Bukannya biaya sewanya sangat mahal!” ujar Jenni yang memandang kagum pada bangunan megah di depannya.


“Uangku tidak akan habis hanya menyewa kamar terbaik di hotel ini untuk satu malam. Aku bahkan ragu uangku akan berkurang kalau aku membeli tempat ini,” balas Zou Chen sembari menggandeng lengan Jenni, dan keduanya melangkahkan kaki memasuki Hotel.


“Selamat malam Tuan, apa Anda ingin memesan salah satu kamar, atau sebelumnya sudah melakukan reservasi?” tanya resepsionis hotel.


“Kamar presidential suite atas nama Zou Chen,” balas Zou Chen sambil menyerahkan kartu berwarna hitam pada resepsionis.


Melihat kartu berwarna hitam di tangannya, dan jenis kamar yang sudah di pesan. Resepsionis tahu saat ini dia sedang berhadapan dengan orang yang cukup berpengaruh.


Dia mengurus semuanya dengan cepat, lalu dengan sopan mengantarkan Zou Chen dan Jenni menuju salah satu kamar presidential suite yang ada di hotel tempatnya bekerja.


“Apa ada sesuatu yang Tuan dan Nona butuhkan?” tanyanya.


“Kamu bisa kembali kembali,” Zou Chen memberi beberapa lembar uang 100 yuan pada resepsionis, yang segera kembali ke tempat kerjanya.


Dengan kunci khusus pemberian resepsionis, Zou Chen masuk kedalam kamar sambil menggandeng lengan Jenni.


“Ternyata tempat ini tak lebih mewah dari kamar kita di mansion,” ujar Jenni.


“Apa kamu tidak menyukainya? Kalau kamu tidak menyukai tempat ini, aku bisa menyuruh Paman Gao membeli Mansion termewah di daerah ini, dan kita akan bermalam di sana. Kebetulan malam belum terlalu larut,” kata Zou Chen.


Mendengar itu, Jenni hanya sanggup menggelengkan kepalanya. “Tempat ini sudah cukup, tapi sepertinya malam ini kita tidak bisa melakukannya, maaf itu datang tiba-tiba,” ujarnya dengan perasaan bersalah.


Zou Chen menunjukkan senyumnya, lalu dia berkata. “Tidak baik juga terlalu sering melakukan itu, dan sebaiknya kita segera istirahat karena besok banyak kegiatan yang harus kita lakukan.”


Keduanya membersihkan diri secara bergantian, dan setelah berganti pakaian dengan menggunakan piyama yang telah disiapkan pihak hotel. Keduanya merebahkan diri di atas tempat tidur, dan tak lama mereka terlelap dalam tidurnya.


°°°


Keesokan harinya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Zou Chen dan Jenni pergi meninggalkan hotel. Selain ingin mengunjungi makam kedua orangtuanya Jenni, Zou Chen juga berencana mengunjungi rumah masa kecil Jenni, yang sebelumnya berhasil diambil alih Zou Gao dari pihak Bank yang telah menyita rumah itu.


Tiga puluh menit berlalu, Zou Chen dan Jenni sampai di sebuah area pemakaman.


Zou Chen lebih dulu keluar dari mobil, dan membukakan pintu di sisi Jenni. Setelah Jenni keluar dari mobil, keduanya melangkah bersama memasuki area pemakaman.


“Dimana makam Paman dan Bibi?”


Zou Chen terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Jenni.


Langkah kaki mereka berhenti di depan dua makan yang terbilang sederhana, jika dibandingkan beberapa makan di sekitarnya.


“Bahkan mereka menghancurkan keluargaku sampai ke tempat pemakaman,” ungkap Jenni yang kembali berlinang air mata saat melihat makam kedua orangtuanya.


“Mereka, keluarga Ling tidak akan lagi bisa berbuat macam-macam denganmu, karena ada aku yang senantiasa menjagamu,” ujar Zou Chen, sembari mengusap lembut punggung Jenni.


Jenni merasa tenang saat merasakan usapan lembut di punggungnya. “Ayah, Ibu, dia Chen kecil yang dulu sering bermain denganku, tapi sekarang dia sudah tidak kecil seperti dulu. Sekarang dia telah tumbuh menjadi pria yang begitu sempurna, dan aku semakin menyayanginya.”


Jenni berlutut di depan makam orangtuanya.


Selesai mengatakan itu, Zou Chen dan Jenni bersama-sama memanjatkan doa.


“Aku punya sedikit kejutan untukmu,” ungkap Zou Chen, setelah keduanya selesai berdoa.


°°°


Satu jam berlalu dengan cepat.


Mobil yang dikendarai Zou Chen telah memasuki halaman rumah dua lantai, yang membuat Jenni tak berkedip saat melihat bangunan itu.


Jenni menatap haru rumah yang menyimpan begitu banyak kenangannya.


“Selamat datang di rumah kita, atau aku bisa mengatakan, kita sampai di rumah,” kata Zou Chen setelah membukakan pintu di samping Jenni.

__ADS_1


Bukan sebuah balasan kata-kata yang diberikan Jenni, melainkan wanita itu tiba-tiba saja melompat ke pelukannya, setelah keluar dari mobil.


“Ini adalah kejutan terindah yang pernah aku dapatkan,” ujar Jenni yang begitu erat memeluk tubuh Zou Chen.


Zou Chen membalas pelukan wanitanya, tapi pelukan mereka tidak berlangsung lama, karena keduanya sudah sangat penasaran untuk melihat bagian dalam rumah, yang sudah dua tahun ini ditinggalkan pemiliknya yang harus pergi, karena tidak mampu membayar hutang pada pihak Bank.


Rumah itu ditinggalkan dalam keadaan utuh, karena pihak Bank menyita semua barang di dalam rumah tanpa terkecuali, termasuk foto-foto keluarga Jenni, dan seluruh perabotan yang berada di dalam rumah.


“Semoga mereka tidak membuang semua benda peninggalan Ayah dan Ibu.” Jenni berharap semua masih sama seperti saat dia meninggalkan rumah ini.


Sebelum masuk ke dalam, Jenni beberapa kali menatap sekeliling, dan dia mendapati adanya perubahan di sekitar rumahnya.


Jenni menarik nafas dalam saat Zou Chen mulai membuka pintu.


‘Semua masih sama, tidak ada yang berubah atau berkurang’ katanya dalam hati begitu masuk kedalam rumah yang sepertinya baru saja dibersihkan.


Jenni yang diikuti Zou Chen mulai memasuki satu demi satu ruangan di lantai pertama, termasuk baru saja dia memasuki kamar mendiang orangtuanya. Setelah banyak ruangan yang di masuki akhirnya dia sampai di kamar miliknya.


Dia masih ingat malam terakhir tidur di kamar itu bersama ketiga adiknya, dan paginya dia serta ketiga adiknya harus pergi meninggalkan rumah hanya dengan membawa dua koper berisi pakaian.


Memasuki kamarnya, Jenni langsung saja merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Walau ukurannya jauh lebih kecil dari yang ada di Mansion milik Zhang Yu, dia merasa lebih nyaman berbaring di atas tempat tidurnya sendiri.


Zou Chen melangkahkan kakinya mendekati Jenni, lalu dia merebahkan tubuh tepat di sampingnya. “Hanya ini yang bisa aku berikan padamu,” ujarnya.


Mendengar itu, tiba-tiba saja Jenni memiringkan tubuhnya kearah Zou Chen, dan langsung saja dia memeluk pria yang sudah mengembalikan kebahagiaannya. “Ini sudah lebih dari cukup, aku bahkan tidak berharap dapat kembali ke rumah ini, dan melihat semua benda berharga yang tertinggal di rumah ini.”


Jenni bergerak naik ke atas tubuh Zou Chen, dan memposisikan wajahnya berhadap-hadapan dengan wajah Zou Chen. “Aku hari ini sangat bahagia. Walau mereka tidak mungkin hadir kembali dalam hidupku, tapi setidaknya aku tidak kehilangan peninggalan mereka, dan lagi sekarang aku telah memiliki seseorang yang begitu berharga.”


Jenni mendaratkan sebuah ciuman di bibir Zou Chen, sembari tangannya mengelus sesuatu yang menonjol di balik celana Zou Chen.


°°°


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Terimakasih...


__ADS_2