
Di lapangan basket
Beberapa murid bermain, berebut bola basket satu sama lain. Cucuran keringat menetes dari pelipis matanya, padahal hari cukup terik untuk bermain basket. Tapi tidak mengurangi semangat mereka untuk beradu ketangkasan di lapangan. Kursi penonton juga tidak kosong, menyaksikan permainan itu dengan bersorak-sorai menyemangati para pemainnya.
" Hey, ngapain sendiri di sini, yang lain itu pada duduk disebelah sana. Kenapa malah di sudut sekali?" David menghampiri Zia yang duduk sendiri di sudut dekat lapangan basket.
" Hah, aelah bikin kaget aku aja kau ini" kata Zia sambil memukul pundak David. Tatapannya hampa melihat ke arah lapangan.
"Ga ada cari angin doang, ya udah ke kelas yuk " ajak Zia yang takut di curigai.
" Bel juga belum, ngapain buru-buru sih. Nah cilok pedas buat mu" sangah David sambil menyodorkan makanan.
"Emm, iya sih. Ya udah deh, makasih ya ciloknya, tau aja kalau paper hehe" kata Zia
"Kamu lagi ada masalah sampe diam disini " tanya David sambil mengunyah cilok pedas miliknya.
__ADS_1
"Masalah apa, ga ada kok. Lagi gabut aja aku nya, di kelas juga mau ngapain coba. " jawab Zia menepis.
"Bohong kan, ngaku aja deh. Segala ditutupi" David memaksa Zia untuk mengaku . David tahu betul jika sahabatnya itu sekarang sedang ada masalah, seakan-akan semua itu sudah tergambar jelas dari wajah manisnya.
"Apa sih vid, aku lagi males bahas. Lagipula aku juga pusing. Gak usah kepo tentang aku" kata Zia sambil melirik sinis David.
"Padahal aku ini adalah pendengar yang baik, terserah mu saja kalau merasa bisa menangani nya sendiri, lagian ya tanpa kamu bilang pun aku sudah tau masalahnya" ucap David sombong.
Zia mengunyah cilok dengan cepat, matanya tajam menatap David.
🌸🌸🌸
Berbulan-bulan lamanya menjalin hubungan, meluangkan waktu bersama. Cinta yang melekat membuat segalanya seolah indah sesaat. Ucapan manis yang di lontarkan menjadi acuan untuk memberikan segalanya, atas dasar tidak ingin kehilangan. Padahal banyak lagi cinta suci yang jelas masih berserakan disana sini.
Ini bukan lah cinta buta melainkan cinta gila, dimana seseorang tersebut rela memberikan apa yang paling berharga di dirinya hanya tidak mau kehilangan.
__ADS_1
Zia yang kini hanya meratapi nasibnya. Ia selalu menunggu kabar tapi tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Vino. Vino yang hilang entah kemana, meninggalkan bekas yang mendalam bagi Zia.
Cuaca malam ini hujan gerimis, seolah menjadi pertanda hancurnya perasaan Zia. Tanggis Zia meledak malam ini, ia menanggis di kamar mandi. Semua seakan tak berarti lagi di hidup nya. Dada nya terasa sesak, pikiran nya menjadi kacau karna menangisi kepergian Vino. Ia saat ini belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Tidak diragukan lagi bujuk rayu Vino, hingga ia bisa memperdaya seorang gadis SMA dengan kata manis nya.
(Apa aku cuma jadi terminal, kamu transit sebentar lalu pergi ke tujuan utama kamu. Apa aku cuma jadi persinggahan buat kamu. Kamu pikir aku ini mainan, saat mu bosan dengan yang lama lalu datang padaku. Luka yang kamu beri bukanlah kecil, aku ga kuat ngerasain ini semua. Kamu hadir di hidup aku menjadi kebahagiaan namun kenapa sekarang menjadi petaka. Aku sama sekali ga bisa salahin perasaan ini. Jujur aku nyaman, aku bahagia tapi kenapa balasan kamu kaya gini sih. Apa kamu ga mikir keadaan aku sekarang gimana, kamu bisa seenaknya pergi begitu saja. Tiada kabar, tiada penjelasan menghilang tanpa jejak, sakit benar-benar sakit vi, brengsek banget kamu jadi laki-laki)
Zia membasahi dirinya dengan air, mata nya membengkak karna menangis, banyak yang di pelukannya tak luput dari basahnya air mata. Hal yang sudah terjadi tidak bisa di putar kembali, semua itu hanya menjadi kenangan saja. Zia yang sudah berada di zona nyaman, tidak bisa melupakan segalanya begitu saja.
Ia terus larut dalam kesedihannya, karna ternyata kehormatan nya di berikan ke pria yang sama sekali tidak menginginkan nya. Pria yang sudah di perkenalkan dengan orang tua nya hanya membawa luka padahal besar harapan Zia untuk bisa hidup bersama Vino, namun naas nasi sudah menjadi basi. Hari yang semula ceria penuh tawa kini berubah menjadi suram.
Zia terbaring di lantai, badan nya panas tinggi. Keadaan Zia membuat orang tua nya khawatir, ia sama sekali tidak mau menceritakan masalah yang tengah ia alami. Tidak mungkin bagi Zia memberitahu orang tua nya, mereka pasti sangat kecewa. Kini gadis kecilnya membuat kesalahan fatal, Zia berusaha menutupinya agar semua terlihat baik-baik saja. Zia di rawat selama beberapa hari. Seiring berjalan nya waktu keadaan akhirnya ia sudah stabil. Namun ia tetap enggan berbicara kepada siapapun.
(Bersikaplah tegar menghadapi semua, jangan gundah semua sudah terarah)
__ADS_1
Semaksimal mungkin ia melupakan kenangan nya dengan Vino. Ia hanya berpikir bahwa semua kisah itu hanyalah halusinasi nya saja dan menganggap tidak terjadi apa apa di antara mereka. Walaupun terlihat suram tapi semua harus tetap berjalan.