
❄️❄️❄️
"Aw"
Tubuh atletis nan tampan itu menimpa Irma, manik mata mereka saling bertemu. Bulu mata lentik wanita itu lekat melihat wajah Vino.
Benar-benar tampan
"Haissh"
Irma langsung mendorong tubuh Vino yang menimpanya.
"Apa yang kau lakukan di sini"
"Kau terlalu lama memberi jawaban"
Kedatangan Vino hanya untuk menanyakan jawaban Irma. Karena sudah lama sekali rasanya Irma tak kunjung menjawab.
Irma mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Raut kecemasan tampak dari wajah manisnya. Ia sama sekali belum memikirkan jawaban dari lamaran Vino. Namun sekarang pria ini malah mendadak datang di malam hari dan menyelundup ke dalam kamar Irma.
"Kita bisa membahasnya di luar, kenapa harus tengah malam begini" ucap Irma mengalihkan.
Tangan itu langsung menarik tubuh Irma, memegang pinggang rampingnya hingga tidak ada jarak di antara keduanya.
Begitu erat tangan vino mencengkeram tubuh Irma.
Mata nya melihat ke bibir tipis Irma yang merah.
Dag
Dig
Dug
Jantung nya berdetak hebat, tidak tahu perasaan apa, yang jelas semua terasa berbeda menatapnya.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan"
"Aku tidak mau, jawab dulu pertanyaan ku"
"Aku tidak bisa menjawab nya sekarang, kau berjanji akan memberikan aku waktu"
Vino melepaskan tubuh Irma, ia termangu sejenak dengan jawaban Irma.
"Ya aku memang memberi mu waktu, tapi bukan berarti kamu bisa leha-leha dengan kesempatan itu" ucap Vino sambil menunjuk Irma dengan salah satu jari nya dan mengarahkan Irma ke sudut tembok.
Mata Irma terbelalak setelah mendengar ancaman Vino, ia terdiam sejenak.
Lalu Irma meraih jemari lelaki itu, menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu, kau mau jawabanku sekarang bukan"
Vino masih lekat menatap wajah Irma dan bibirnya yang komat-kamit karena marah.
"Aku menolak mu, aku sangat menolak mu, paham" timpal Irma dengan nada tinggi.
Vino tidak membalas satu kata pun, Irma mengusir pria itu dari kamarnya.
Srekk
Ia menutup gorden kembali, tubuhnya membelakangi jendela. Nafas nya sedikit terengah-engah.
Tok
Tok
Ketukan pintu terdengar dari luar kamar, Yung bersama Sia mendatangi kamar Irma.
"Irma"
"Irma, kamu lagi sama siapa di dalam" teriak Yung masih mengedor-gedor pintu dari luar.
Wanita itu sedikit merapikan baju nya yang lusuh karena cengkraman Vino tadi.
Hhhh
Klak
Karena khawatir Yung langsung mendekap adiknya itu, memastikan bahwa Irma baik-baik saja.
"Apa ada seseorang yang masuk tadi"
"T..tidak kak"
"Jangan berbohong, kami berdua mendengar jelas tadi"
Irma menjelaskan kepada mereka bahwa benar adanya seseorang yang datang kemari.
"Vino"
"Apa yang dia lakukan padamu"
"Dia kemari hanya ingin bertanya jawaban ku, mengenai lamarannya hari lalu"
"Lalu"
"Aku menolak nya mentah-mentah"
"Bagus, bedebah itu harus di beri pelajaran. Biarkan saja ia merasa sakit atau apalah itu, yang penting sekarang kamu baik-baik saja" ucap Yung menegaskan.
__ADS_1
Dari dalam mobil, Vino masih memerhatikan jendela kamar Irma, ia juga melihat Yung yang tadi melihat ke luar.
Pria itu meninggalkan kediaman Irma dan melajukan mobilnya membelah jalan raya.
Aku hanya ingin membalas bukan menyukai nya
Sedikit merasakan hal yang berbeda di benak nya saat membayangkan kejadian tadi bersama Irma.
...****************...
"Nanti siang pukul 14:00 wib kita ada meeting bersama pak Vino pak" ucap sekertaris Yung.
"Baiklah, kita akan meeting di resto. Kamu bisa mencari resto nya?"
"Bisa pak"
"Bagus lah, nanti kamu ikut meeting bersama saya, oiya bawa dokumen mengenai pemegang saham"
"Untuk apa pak, bukankah ini hanya meeting biasa"
"Lakukan saja!!"
Sekertaris itu mengangguk dan berpamitan pergi dari ruang kerja Yung.
'Mari kita lihat bagaimana wajahnya nanti'
...****************...
Di sekolah Ray dan Putu terlihat berjalan beriringan menuju kelas, Zia yang masih jauh tertinggal di belakang mereka berusaha mengejar.
Brugh
Entah apa yang di pikirkan Zia hingga ia terjatuh karena berlari.
Mereka berdua menoleh ke arah belakang, bagai laga penyelamatan dalam serial India. Ray dan Putu berlari dengan elok seperti pahlawan.
"Kamu tidak apa" ucap Ray menompang tubuh Zia.
"Ya apa kamu baik-baik saja" kata Putu mengenggam tangan gadis itu.
"Aku aman, tenang saja teman" ujar Zia sambil membersihkan lutut nya yang kotor terkena pasir.
Mereka bertiga pun menuju kelas, sebentar lagi mereka akan melaksanakan ujian akhir sekolah. Kelulusan sudah di depan mata.
"Senin depan kita bakalan ujian akhir, aku harap kalian bisa semaksimal mungkin mengerjakan nya" ucap Zia menyemangati.
"Tentu, aku harap juga kita akan lulus dengan nilai terbaik tahun ini" kata Ray dengan semangat.
"Semakin lama kita fokus dengan ujian akhir, semakin terasa dekat juga perpisahan kita" ucap Putu dengan lesu.
__ADS_1
"Sudahlah...