
"Haish untung lah, aku tidak terlambat" ucap Zia yang baru saja sampai di sekolah.
Langkah nya tergesa-gesa menuju kelas hingga nafas nya ngos-ngosan.
hhh
hhh
Pagi ini sungguh sibuk sekali, Zia yang baru memulai pelajaran langsung di tegur karna lupa membawa buku catatan sejarah. Sebelum berangkat ia terlihat santai dan biasa saja. Hal seperti ini bukan baru bagi Zia, satu kelas telah mengetahui bahwa ia adalah seorang pelupa akut, yah begitu lah teman sekelas menyebut nya. Walaupun tidak terburu-buru dalam persiapan ke sekolah tetap saja ada yang tertinggal. Cukup melelahkan pagi ini, selain kena tegur oleh guru pertama, datang guru kedua memberi tugas ini dan itu, tugas terus berjalan sampai pelajaran usai. Jarang sekali hari tanpa tugas. Ketika sepulang sekolah Zia selalu memeluk mama nya dan mengeluh karna tugas yang menumpuk di hari itu. Tapi hal itu tidak membuat nya malas mengerjakan dan satu fakta Zia tetap berada di posisi pertama di angkatan nya.
Matahari senja tampak indah sekali, dunia yang gelap menyertai hati yang dingin perlahan berganti menjadi bahagia, senyum mengiringi perjalanan pulang menuju rumah tercinta. Serasa akan mendapat hadiah yang paling diinginkan, mama dan papa menyambut ku di depan gerbang rumah. Mereka berdua memeluk ku erat lalu berkata, untuk tetap semangat menjalani hari ini, esok dan nanti.
Aku mandi dan menganti pakaian ku, tidak lama kemudian, Vino datang kerumah tanpa memberitahuku. Ia datang ingin menjelaskan tentang kenapa hilang nya dia di hari itu.
Orang tua ku sudah menyambut nya di ruang tamu. Mereka memberi ruang untuk kami, sambil tersenyum Sia mengacungkan jempolnya dan berlalu meninggalkan kami.
"Maaf ya kemarin aku ada urusan kantor mendadak, makanya ga sempet buat kabarin kamu. Dan waktu itu juga hujan, ga mungkin kan kita pergi menerpa jalanan macet. Yang ada ntar kamu malah bosen di jalan. Aku ga mau sampai gitu, jadi sekali lagi aku minta maaf yah" kata Vino sambil memegang tangan ku.
Aku melirik kepadanya, melihat ke tanganku. Pikiran dan hati ku mendadak tidak sejalur, aku terkejut kenapa ia berani memegang tanganku, dan kenapa aku merasa ada yang berbeda di hati ku saat mendengar permintaan maaf nya.
" Udah, gapapa kok. Aku ngerti, lagian bukan prioritas juga jadi ga masalah kalau ditinggal." sambil tersenyum menanggapi ucapan Vino.
"Em, sekali lagi aku minta maaf ya. Aku tetap jadikan prioritas tapi mau kamu paham juga kondisi aku bagaimana kedepannya nanti oke"
" Malam ini kita jalan yah," timpal nya yang langsung mengajak Zia.
" Kemana gitu? tapi izin sama orang tua ku dulu yah." jawab Zia.
" Ikut aja ntar juga tau, masalah izin ntar aku bilang yah" balas vino.
__ADS_1
Vino meminta izin untuk mengajak ku keluar, aku tidak tau ia akan membawa ku kemana, aku tidak sedikitpun curiga denganya.
"Jangan pulang malam-malam yah, hati-hati di jalan juga yah. " kata Sia menasehati.
"Oke ma, tata ma" sambil melambaikan tangan ke arah mama.
Mereka pun pergi, Vino melanjukan mobil nya membelah jalan raya. Sesekali ia melirik Zia, gadis itu hanya tersipu malu, pipi nya tampak merona karena Vino tersenyum pada nya.
"Fokus saja menyetir" ucap Zia menutupi nerves nya.
Sudah 5 bulan lebih lamanya mereka saling mengenal. Perasaan nyaman melekat erat di hati Zia, kini memiliki dan mengenal lebih jauh menjadi tujuan utamanya.
"Loh, kesini ternyata. Ya ampun makasih banget yah, akhirnya aku tau sekarang." Zia membaca plat nama tempat tersebut. Wajah nya sumringah, karena senang di ajak ke situ.
"Ia beberapa bulan lalu kamu bilang ke aku, mau ke Bukit villa dan baru sekarang juga aku penuhi maaf ya" kata Vino sambil memelas.
" Ya ampun, gapapa. Justru sekarang seneng banget malahan, ternyata tempat nya bagus banget dan aku suka. " Zia reflek langsung memegang tangan Vino setelah berkata demikian.
Vino mendekat dan berbisik di telinga ku.
"Aku suka sama kamu, mau jadi pacar aku?" ungkap Vino didepan Zia.
Zia terdiam, pernyataan Vino membuat nya heran sekaligus terkejut. Zia langsung melepas genggaman nya.
Di Bukit villa ia mengatakan perasaannya, aku tidak tau harus menjawab apa, aku tau ia sudah memiliki hubungan dengan orang lain. Tapi waktu itu ia mengatakan tidak ada apa apa antara mereka, sungguh rumit kenyataan ini. Apa aku harus menjawab iya, itu berarti perasaan ku terbalaskan. Kalau aku jawab tidak akan sia-sia semua yang aku lewati. Aku binggung harus bagaimana menjawab nya.
Kebinggungan mendera Zia, ia takut mengambil keputusan salah. Ia tidak mau menjadi perusak hubungan orang lain dan tidak mau menyakiti perasaan wanita lain. Tapi ia juga tidak ingin kehilangan Vino, pria yang selama ini ia idamkan.
"Hey,"
__ADS_1
Seketika Zia tersenyum lalu mengenggam tangannya.
"Kamu serius, jangan becanda mulu ya. Ga lucu, masa masalah hati di jadiin becandaan. Jangan ngadi-ngadi deh" jawab Zia meragukan pernyataan Vino.
"Serius, ga becanda. Mau gak? " tambah Vino, ia semakin erat menggenggam tangan ku.
Zia kembali terdiam, sekarang ia benar-benar binggung harus menjawab apa. Tanpa berpikir panjang, Zia langsung mengalihkan pembicaraan ke hal lain dan akhirnya Zia tidak ada memberi jawaban.
Lalu bagaimana dengan wanita itu, apa aku akan benar menjadi pelakor. Hubungan mereka juga tidak ada kejelasan hingga kini. Aku harus apa?
Pukul 22:00wib mereka pulang kerumah, di jalan mereka terasa canggung. Setelah mengantar Zia pulang Vino berpamitan dengan orang tua nya. Zia melambai, Vino terlihat kesal. Zia merasa bersalah karna tidak memberi jawaban kepadanya.
"Tadi kemana aja? " Tanya Sia.
"Ma, boleh besok cerita. Zia mau tidur, ngantuk . Zia sayang mama."
Zia meninggalkan Sia dan bergegas pergi kekamar dan menutup pintu.
...****************...
Dring..
Dring..
"Vino, aku sudah mengatur penerbangan. Aku akan menginap di hotel Yung Star, kamar nomor 578. Aku akan menunggu mu di sana, dan akan ku kabari esok bila sudah sampai" ucap wanita itu dari ujung telfon.
"Baik, hati-hati untuk perjalanan mu besok"
Vino mematikan telfon dan fokus menyetir. Ia melonggarkan dasi nya karena kesal, tidak menyangka bahwa Zia berpikir bahwa semua yang di ucapkan hanya omong kosong dan bercanda.
__ADS_1
Bugh
"Apakah aku terlihat seperti badut, hingga ucapan ku di anggap candaan. Gadis tidak tahu di untung, kau bermain-main dengan orang yang salah Zia" gumam Vino yang semakin menaikan kecepatan mobil nya.