Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Dasar Vino


__ADS_3

Dua jam sebelumnya


Klak....


Pria tinggi semampai dengan tubuh atletis bersetelan tuxedo mewah masuk ke ruang kerja Irma. Mulut nya terbuka melihat Vino masuk ke ruangan nya tanpa mengetuk pintu.


Langsung menyender di meja dengan menyilangkan kaki jenjangnya. Menatap wajah Irma yang sudah kucel karena seharian bekerja.


"Apa yang kau lakukan disini?, sopan sekali masuk tanpa mengetuk pintu" tanya Irma


"Memang nya penting mengetuk pintu. Perusahaan kita bekerja sama, jadi bebas saja bila aku berlalu-lalang di sini. Lagi pula, aku adalah salah satu investor di perusahaan ini" sambil berbisik ke telinga Irma


"Menjauh, apa urusanmu kemari?. Tidak perlu bertele-tele aku masih banyak kerjaan. Dan satu lagi disana ada sofa, kau bisa duduk di sana tanpa harus dekat denganku"


"Kenapa terlihat ketus"


Vino mendekatkan wajah, semakin dekat dengan mata Irma. Ia hanya melotot melihat wajah Vino yang sudah tinggal sejengkal lagi dengan wajahnya.


Cup


Bibir itu mendarat sempurna di bibir Irma yang masih merah karena lipstik.


"Hey apa yang kau lakukan" mendorong keras tubuh Vino


"Santai"


"Aku panggil security ya, kurang ajar sekali dirimu" langsung mengambil gagang telfon disisinya


"Tidak perlu, oke aku minta maaf" ucap Vino


hhh...


hhh...


"Apa mau mu?

__ADS_1


Cup


Sekali lagi kecupan itu mendarat sempurna, tangan nya menahan tubuh Irma di kursi dengan kasar. Memaksakan kehendaknya, penuh perlawanan Irma mendorong tubuh atletis Vino. Namun ia hanya bisa pasrah, menunggu kecupan itu berakhir


"Pergi, aku bilang pergi. Keluar dai ruangan ku" bentak Irma


"Kenyal, aku suka


"PERGIIII


...****************...


Di dalam kamar


"Kurang ajar sekali dia, apa dia pikir karena dia salah satu investor di perusahaan kami, bisa semaunya. Benar-benar menyebalkan" umpat Irma sambil melepas kemeja nya, bersiap untuk mandi


Irma memegang bibirnya yang tadi bekas kecupan Vino, masih terasa melekat.


"Hah, lihat saja pembalasan ku. Berani main-main dengan Irma"


Tok


Tok


Zia mengetuk pintu kamarnya, ia membawa nampan berisi cemilan dan segelas jus jeruk untuk Irma.


"Tante buka dong, aku bawa cemilan nih. Sekalian ada yang mau aku tanyakan nih" teriak Zia dari luar kamar


"Letakkan di meja dekat pintu saja, Tante mau mandi dulu tanggung"


"Hmm, ya sudah lah"


Ia meninggalkan kamar Irma dan turun menuju ruang tamu.


Ray dan Putu masih duduk diam tanpa kata, sedari tadi mereka hanya bermain dengan ponselnya.

__ADS_1


"Cerita lah, jangan begini. Gak seru kalau diam-diam"


Mereka tidak berbicara sepatah katapun setelah mendengar ucapan Zia.


Wuss


Wuss


Hari semakin sore, angin tiba-tiba saja mendadak kencang. Seperti isyarat bahwa akan turun hujan deras. Ray dan Putu segera berpamitan pulang, tidak seperti sebelumnya mereka saling merangkul ketika pulang bersama. Terlihat acuh tanpa tatap, berlalu begitu saja dari hadapan Zia.


Ucapan Ray tempo hari cukup menyayat hati, tidak menyangka selama ini perasaan mereka kepada Zia sama.


Zia tidak pernah menganggap serius perasan mereka, sebab persahabatan lebih dari segala nya. Lagipula cinta tidak bisa di paksakan, untuk apa mengorbankan persahabatan demi sebuah keinginan semata.


Zia menutup pintu dan segera menuju ke kamar Irma.


"Tante, udah siap belum?"


"Masuk lah"


"Ada yang mau aku tanyakan nih"


"Tanya saja, seperti sama siapa. Bebas mau tanya apa saja oke"


"Pak Vino itu di perusahaan kita sebagai apa tan?"


Deg....


"Pak Vino!, emm dia, dia investor. Ada apa bertanya tentang dia?"


"Tidak ada, hanya heran. Akhir-akhir ini jadi sering bertemu sama dia"


"Tapi, lupakan. Ya sudah Zia ke kamar dulu yah" timpal Zia


"Hmmm

__ADS_1


aneh


__ADS_2