
Zia berlari mengikuti langkah kaki Ray, ia menatap bisu penuh tanya. Ada apa dengan Ray hari ini?
Mereka berdua menaiki tangga dengan terburu-buru, beberapa menit lagi guru killer akan memasuki kelas. Karena tergesa-gesa mereka berdua berhenti sejenak di ambang pintu kelas.
hhh...hhh...hhh
Mereka mulai berdiri dan ingin melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, namun guru tersebut sudah tersenyum jahat dan menghempaskan tangan nya tanda mengusir mereka dari kelas.
Jgeerr...
Bagai terkena sambaran petir, mereka berdua terhempas begitu saja. Usaha mereka gagal memasuki kelas. Tidak bisa membantah lagi bila guru killer tersebut sudah ada didalam kelas.
Putu yang ada di dalam kelas hanya terkekeh melihat mereka.
" Ya udah, kita jalan-jalan saja. Bawa kaos biasa gak?" tanya Ray
" Bawa dong, ya udah gua ganti dulu. Kita ketemu di parkiran oke" jawab Zia
Zia pergi berlalu dari hadapan Ray berpisah di lantai 2 dekat kelas 10 A, ketika ia memasuki kamar mandi muncul tangan seseorang lalu menarik tangannya ke dalam toilet. Tangan besar itu membungkam mulutnya secara kasar. Bulu mata nya tampak lentik berpadukan dengan alis tebal. Saat Zia ingin berteriak sontak telunjuk pria itu menutup bibirnya untuk diam.
"Sssttt, jangan berisik"
__ADS_1
Zia menepis tangan itu, ia terkejut bukan main nafas nya sampai terengah-engah karena ketakutan
Ia malah tersenyum sambil menghela nafas, lalu mengajak Zia keluar dari toilet. Ternyata Ray tidak menunggu nya di parkiran melainkan mengerjainya dikamar mandi.
" Ga lucu kalau sampai ketahuan orang, parah lu. Gua kira penculik anj, hampir aja gua teriak-teriak. Habis kita entar di ruang BK" ucap Zia kesal
" Lagian lu ngapain sih,sana pergi lu. Gua ganti baju dulu terus kita cabut dari sekolah" timpal Zia sambil mendorong Ray keluar dari kamar mandi tersebut.
'Ada-ada saja Ray ini, eh tapi bentar. Kok dia bisa secepat itu bukan nya kami tadi berpisah di lantai 2. Bagaimana dia bisa di dalam toilet' Batin Zia.
...****************...
🍒🍒
Ray meminta Zia untuk pergi bersamanya saja tetapi Zia engan dan memilih menaiki motor nya sendiri. Ray langsung duduk di kursi belakang ia memilih meninggalkan motor nya dan pergi bersama Zia.
" Apaan sih anj, turun lu. Sekalian pulang kita nanti, ngapain segala di tinggal motor nya di parkiran sekolah" ucap Zia
" Iya juga ya, ya udah lah"
"Haduh" mengelengkan kepalanya
__ADS_1
Semilir angin menyejukkan raga, sejenak melupakan masalah yang terjadi. Menepis nya supaya tidak membebani. Zia dan Ray saling beriringan dijalan. Menikmati jalanan yang tidak begitu ramai.
Dag..dig..dug..
Jantung Ray berdetak kencang
Perasaan Ray sangat menggebu-gebu bisa pergi berdua dengan Zia. Walaupun sudah sering sekali mereka pergi bersama tidak membuat Ray bosan dengan kebersamaan itu. Justru ia menikmati waktu-waktu bersama dengan Zia. Ucapan nya waktu itu tidak membuat Zia sadar bahwa Ray selama ini menyukainya. Ray dan Putu juga sudah berdami dengan keadaan dan memilih bersaing secara sehat untuk mendapatkan Zia.
Akhirnya mereka sampai di kafe Lestari, tempat favorit mereka. Suasana kafe pagi ini tidak ramai masih sangat sepi pengunjung. Mereka memilih meja nomor 07 dan memesan beberapa makanan dan minuman kesukaan.
Seketika wajah gadis remaja itu tampak tidak segar, seperti seorang yang tengah menanggung beban yang begitu berat. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya dengan sendok sambil melamun.
Zia
Zia
Hoy...
" Kenapa sih, kenapa jadi cemberut gitu. Seharusnya bahagia lah bisa cabut kita, diusir sih bukan cabut haha" kata Ray sambil tertawa
" Entah lah ....
__ADS_1