Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Ciko (1)


__ADS_3

Astaga, aku lupa kasih kabar Ciko


Gadis itu berlari mencari Irma di setiap koridor, tas hitam terbawa olehnya.


" Zia "Dari arah belakang suara Irma terdengar.


" Tan, mana tas Zia?"


Irma memberikan tas hitam itu kepadanya, wajah Zia tampak cemas, buru-buru ia mengecek handphone nya. Terkejut melihat begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk dari Ciko sebagian sudah terbaca.


" Tan ini kok di baca sih" ucap nya yang sedikit kesal


" Ga sengaja, maaf " Balas nya merasa bersalah


Gawat, makin ancur


*Maaf aku lagi di rumah sakit, handphone aku sama Tante Irma, kami kecelakaan"


Dring....dring...dring...


" kamu baik-baik aja kan "tanya nya cemas di ujung telfon.


" Aku baik, tapi Ray belum siuman sampai sekarang." jawab nya gelisah dengan kondisi Ray.


Ciko mengangguk dan mengucapkan maaf belum bisa menemui nya, pekerjaan yang terus bertaruh dengan waktu menjadi alasan tidak menemuinya.


...****************...


🍁🍁🍁

__ADS_1


Dokter memberitahu bahwa Ray telah sadar, senyum lengkung tampak di wajah Zia. Bergegas masuk ke dalam menemui Ray.


Deg...


Vino sudah ada di dalam ketimbang lainnya. Zia tak kuasa menatap nya, matanya tampak berkaca-kaca kembali, bukan tanpa alasan seolah masa lalu kini kembali lagi, hidup yang ia kira akan bahagia kembali malah berujung tak terkendali seperti ini.


Vino menarik kursi nya dan mempersilahkan Zia untuk duduk di samping Ray.


Ia berkedip-kedip beberapa kali sambil melihat langit-langit ruangan itu, untuk menutupi air matanya nya. Irma yang melihat sikap nya menjadi curiga, berpikir seharusnya ponakan nya akan senang melihat Ray siuman tapi kenapa malah ingin menangis. Tampak beberapa kali ia perhatikan Zia tidak menatap pria itu. Namun ia juga akan melakukan hal yang sama seperti Zia, siapa yang mau kenal dan bertatapan dengan pria angkuh, dingin seperti dia.


Vino meninggalkan ruangan tanpa pamit lalu keluar begitu saja.


Zia menatap wajah pusat Ray yang baru bangun dari pingsan nya, tangan mungilnya mengenggam tangan Ray yang berbalut jarum infus. Begitu cemas Zia melihat Ray demikian, amarah nya pergi begitu saja. Kalah dengan rasa khawatir yang menyertai.


" Aku minta maaf ya, jangan bikin cemas " Ucap Zia sedikit merintih merasa menyesal


Ray tersenyum tipis, bibir nya tampak kering karena udara AC di dalam ruangan. Perasaan lega hinggap dihatinya.


" Iya, om. Mama sama papa juga sudah menceritakan kalian semua" jawab nya masih sedikit lemas.


Zia menatap heran dengan jawaban Ray,


*Memang nya cerita apa


Kok aku ga tau


Kenapa mereka terlihat sudah akrab*


" Binggung kamu, ntar deh aku jelasin kalau sudah sehat " kata Ray sedikit tertawa dengan kebingungan Zia.

__ADS_1


" Ada apa sih " tanya nya ingin tahu, menoleh ke arah orang tua dan Ray.


...****************...


🍒🍒🍒


Perdebatan mencuat tanpa solusi, hari demi hari perselisihan tidak terbendung. Dua kepala saling beradu pernyataan tak mau kalah. Tangisan menjadi backsound hubungan jarak jauh ini.


Hingga akhirnya, salah satu dari mereka memilih bungkam tanpa kata karena lelah.


Pengemisan pun di mulai......


23:00 wib


Setelan piyama hijau dikenakan Zia malam ini, sedikit gelisah dan juga binggung dengan sikap Ciko yang kian hari semakin berubah. Hari ini Zia sudah mengirim pesan dan menghubungi nya tapi tidak ada jawaban sama sekali dari nya, hingga larut ia menunggu belum ada balasan.


Angin malam yang sepoi-sepoi, suara klakson dijalanan masih terdengar jelas. Ia melihat keluar, keinginan untuk pergi melepaskan penat muncul. Tapi itu tidak mungkin terjadi, kini orang tuanya tinggal bersama. Akan ada urusan penting, namun ia tidak mengetahui nya. Hanya berdalih " urusan bisnis " sudah membungkam lisan Zia saat bertanya.


Ting....


Pesan baru masuk


" aku lagi kerja, ga usah nelfon" Balas Ciko cuek seolah berharap tak ada balasan selanjutnya.


" Aku nungguin kamu dari tadi, aku kangen. Kita telfonan bentar yah" pinta nya sedikit merengek


" Aku kerja, ngerti gak sih."


Zia diam membisu tak membalas pesan itu. Ia hanya duduk di dekat jendela menatap kembali ke jalanan, gemerlap lampu cukup menenangkan nya. Ia berusaha menepis kecurigaan nya pada Ciko disana.

__ADS_1


Mungkin besok tidak...


__ADS_2