Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Bab 7. Memilih Kembali


__ADS_3

"Ini pesanannya kak" ucap pelayan membawa jus jeruk favorit Zia. Kedatangan pelayan memecah keheningan sejenak.


"Aa baiklah terimakasih" ucap Zia dengan senyum kegirangan.


Arya tersenyum tipis melihat kekasihnya demikian.


Kekasih? Ya mereka menjalin hubungan saat hubungan Zia dengan Ciko merenggang, itu semua terjadi di belakang Ciko. Dan di balik itu semua beralaskan dengan kata jenuh.


Ketegaran hadir dalam diri Zia, seakan semangat nya berkobar tanpa syarat. Semua masalah tertepis begitu saja saat nasihat Arya terucapkan. Namun entah kenapa lain pula dengan gadis belia ini.


"Kita putus saja"


"Uhuk....huk..." Arya tersedak mendengar ucapan Zia.


Arya mengambil segelas air di sisi kanannya, lalu menatap Zia sejenak. Mata nya terlihat kecewa namun tertahankan.


"Baik" jawab Arya singkat, tiada penjelasan atau sanggahan dari pria tersebut. Ia melanjutkan makannya hingga habis.


Zia hanya terdiam tidak berkata-kata, ia juga menghabiskan makanannya.


Arya beranjak dari kursinya, mengatakan untuk segara pulang. Tidak berbasa-basi Zia mengangguk setuju.


Dari kaca ia menatap setiap langkah mantan kekasihnya. Menghela nafas panjang, seperti telah melepaskan beban.


Dari parkiran, Arya melihat ke arah Zia. Menatap kosong tapi juga penuh kekesalan, semua itu tampak dari raut wajahnya, tapi ia kembali fokus dan memakai helm lalu berlalu dari restoran itu.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang aku akan fokus kepada Ciko bukan yang lain" ucap Zia sambil berjalan ke arah parkiran.


Irma yang melihat Zia tersenyum tiada henti hanya geleng-geleng. Ia membuka kaca mobilnya, melihat sekitar.


"Teman mu tidak mengantar, kemana dia?"


tanya Irma heran.


"Dia sudah pulang duluan tan, ada urusan mendadak" bohong Zia.


"Baiklah, seharusnya aku tadi memperhatikan kalian. Sayang sekali aku tidak tertarik dengan perintah kak Yung. Ya sudah ayo kita pulang" ajak Irma.


Lalu mereka melaju membelah jalan raya, tidak lama mereka pun sampai di rumah. Irma yang keluar duluan dari mobil langsung masuk meninggalkan Zia di garasi.


Terlihat Yung masih di ruang tamu bersama Sia. Mereka masih menonton telivisi, menikmati tayangan film romantis bersama.


Zia masuk ke dalam rumah, di sambut oleh Yung dan Sia.


"Bagaimana makan malam mu dengan Arya?" tanya Yung spontan


"Emm, tidak ada. Kami hanya makan malam biasa saja pa" balas Zia.


"Tidak ada yang kamu sembunyikan dari kami kan"


Pernyataan Yung seakan menyudutkan Zia.

__ADS_1


"Kamu putus dari Arya"


Deg


Seketika tubuhnya kaku, menatap melotot kearah Sia dan Yung.


'Darimana mereka tahu?' Batin Zia menduga-duga.


"Maksud mama? Arya, putus, em" lirih Zia mengelak.


"Kamu yakin memutuskan Arya, Arya itu pria baik juga mandiri. Tidak bertele-tele hingga merusak pikiran dan kesehatan mental mu" jawab Sia dengan tegas.


Zia hanya mengigit bibir bawah milik nya, ia menghela nafas.


"Tidak ma, aku tidak ingin membahas nya. Lagi pula sejak kapan mama dan papa mencampuri urusan pribadi Zia"


"Berani sekali kamu" bentak Yung setelah mendengar pernyataan Zia yang penuh perlawanan itu.


Sia mencoba menenangkan suaminya yang mulai tersulut emosi. Ia sedikit menahan tubuh Yung supaya tidak menanggapi putri kecil mereka.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat. Lain waktu bisa kita bahas kembali, oke" ucap Sia sambil memegang lengan dan juga tersenyum pada Zia.


Putri kecilnya berlalu meninggalkan ruang tamu, sekilas melihat ke arah Yung.


Masih dengan raut kesal Yung menahan emosi nya.

__ADS_1


'Kurang ajar sekali, aku mendidik nya bukan untuk melawan ku. Tahu apa dia tentang Arya, seenak jidat nya saja, dasar bocil'


__ADS_2