Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Vino banyak tingkah


__ADS_3

Mencoba meraih rasa percaya diri kembali, menghempaskan tangisan supaya tidak kesepian. Banyak orang yang mencintai tanpa batas, tidak ingin mengambil pusing semua ini. Zia memutuskan untuk menghubungi Ciko, ingin mengatakan banyak hal mengenai hubungannya.


Satu tarikan nafas mempersiapkan diri menghubungi nya, ia mengambil gagang telfon dan mulai memutar nomor Ciko.


Dari jauh panggilan itu terangkat.


"Hallo"


Setelah sekian lama suara berat itu terdengar kembali, jantung berdebar tidak karuan. Kening nya sedikit basah karena keringat, memijat kening nya karena kebingungan.


Hufft


"Aku mau ngomong"


"Silahkan, aku tidak melarang"


"Apa hubungan kita masih bisa dilanjutkan?"


"Semua itu terserah kamu, kamu sudah menghilang selama beberapa hari ini. Aku sudah berkali-kali menghubungi mu, namun tetap tidak ada jawaban. Tidak mau pusing dengan hubungan ini. Kemarin juga sudah katakan kita mulai lagi kembali, tapi setelah menghilang nya kamu. Aku tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan konyol kamu" balas Ciko mengungkapkan isi hatinya.


"Kenapa keputusan hanya pada ku"


"Aku sudah katakan, ayo memulai kembali tapi kamu malah menghilang, mau kamu apa?"


Tubuhnya seketika membeku, membisu tidak bisa menjawab. Pikiran nya berkecamuk, perasaan labil datang kembali.


"Aku minta maaf ya" ucap Zia dari ujung telfon


Tangan nya bergetar, mata nya tanpa sadar berkaca-kaca.Tetes demi tetes air mata mulai jatuh ke pipi merah nya. Rasa cinta benar tulus adanya, walau kadang sedikit melenceng rasa itu tidak pudar. Sejauh apapun ia menghindar tetap saja tujuannya ada padanya.


"Ayo kita mulai kembali"


Malam terlewati penuh haru dan kesan. Hubungan yang di mulai kembali membawa perubahan antara keduanya.


Kini yang harus di siapkan adalah mental menemui Arya, lelaki yang sempat memikatnya beberapa waktu lalu.


...****************...


Dring


Dring


Dring

__ADS_1


"Hallo Ray"


"Ada apa zi, kenapa malam-malam telfon?" Tanya Ray penasaran.


"Emm aku mau bilang sesuatu sama kamu"


"Ya ampun, sudah seperti orang lain saja aku. Katakanla"


"Heheh iya ya, aku gak jadi putusin Ciko"


Deg..


'Gagal lagi anj, hah kenapa konyol sekali Zia ini Astagaaa' batin nya menjerit.


"Bukan nya kemarin sudah kelewatan ya zi. Maksud aku, kemarin saja kamu terluka, terus sakit. Bukankah itu sudah benar-benar toxic realationship Zia. Kenapa tidak jadi putus, masih ada Pak Arya yang lebih dewasa bisa buat kamu mandiri dengan mindset dia. Are you serious?" ucap Ray menerangkan.


"Hmm, aku yakin saja kalau sekarang hubungan kami tidak akan toxic seperti kemarin. Kami akan sama-sama berubah Ray dan aku serius sama dia" ucap Zia penuh keyakinan.


Ray hanya mengiyakan perkataan pujaan hati nya itu. Peluang ternyata masih jauh di depan mata. Ia hanya bisa bersikap biasa saja seperti sedia kala.


Zia menutup telfon dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Senyum nya mengembang bak mendapat kejutan, berusaha berpikir baik mengenai hubungannya dengan Ciko yang baru di rangkai nya kembali.


...****************...


20:00 wib


Di sebuah hotel berbintang lima, Irma yang baru saja sampai langsung memberikan kunci kepada satpam untuk memarkirkan mobilnya. Ia melangkah masuk ke dalam lobi, pandangan nya mengedar ke setiap sisi hotel tersebut.


Ia mengeluarkan handphone dari tas hitam nya.


"Hallo, saya sudah sampai pak"


"Tidak perlu terlalu formal, naiklah ke atas. Kita bertemu di ballroom lantai 7, segera"


"Baik"


'Hmmm, ingin ku teriak. Tapi kenapa perasaan ku mendadak tidak karuan yah'


Irma menekan tombol lift menuju lantai 7, ia sedikit grogi tubuh nya mendadak dingin, jantung terus berdebar-debar padahal ini hanya urusan pekerjaan saja.


Ting


Melangkah menuju ballroom yang di maksud, dengan dres merah favoritnya.

__ADS_1



Vino terpana ketika melihat Irma di ambang pintu masuk. Wanita itu mendekati nya, cara nya berjalan nya begitu anggun dan elegan. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya berfokus kepadanya.


Ia mengangguk mempersilahkan Irma duduk di kursi.


'Cih, kenapa manusia satu ini tidak seperti di film sih, kenapa hanya menyuruh ku duduk dengan mandiri' Batin Irma mengharap perhatian Vino.


Hidangan tersaji dengan mewah dan terlihat nikmat. Vino sudah mendahului nya, ia menyantap makanan dengan tampang dingin. Ia juga menyuruh Irma untuk menikmati makanan nya.


"Silahkan, kita bicara sambil makan"



"Baik"


"Apa yang ingin kamu bicarakan, semua mendadak. Apakah ada hal penting?" Timpal Irma


"Tentu, aku tidak akan membuang waktu makan malam ini tanpa bicara hal penting dengan mu"


"Lalu, apa?"


"Menikah lah dengan ku"


Deg


Mata nya terbelalak menatap Vino, tidak ada angin atau hujan seketika berkata demikian.


"Apa maksudmu, kemarin bukanlah kita akan bicara mengenai pekerjaan?" Tanya Irma


"Ya, kita menikah karena urusan pekerjaan. Pernikahan kontrak"


Brakk


Irma mengebrak meja makan, wajah nya merah padam. Emosi nya benar-benar meledak mendengar ucapan Vino.


"Kamu pikir aku wanita apa? Seenaknya berkata begitu, baiklah sepertinya tidak ada yang perlu di bahas lagi" ucap Irma langsung meninggalkan Vino


"Kalau kamu menolak, akan aku tarik saham ku"


Kurang ajar, benar-benar pria sialan


Huffft

__ADS_1


__ADS_2