Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Kata David


__ADS_3

Beep


Beep


Mereka pun sampai di rumah, Sia menjinjing beberapa kotak belanja. Semua itu berisikan baju yang di beli tadi. Bude Yuli menyambut mereka dari ambang gerbang. Senyum nya mengembang, lalu membantu Sia membawa barang nya.


Selang beberapa saat setelah mereka memasuki rumah. Angin berderu kencang, awan hitam tampak menyelimuti langit yang semula tampak cerah dan baik-baik saja. Tidak berselang lama hujan deras mengguyur kota, dingin sekali sore ini. Hujan semakin deras, pesan Zia belum juga di balas oleh Vino.


"Apa salah ya jawabanku, sampai ia tak membalasnya " kata Zia dengan murung.


Dring


Dring


Dring


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, mohon hubungi...


"Ini kenapa gak di angkat terus sih"


Zia beberapa kali mencoba menghubungi Vino, tapi tidak ada jawaban darinya. Tak karuan yang di pikirkan Zia, ia takut Vino marah karna balasannya itu.


Hari sudah malam, hujan yang masih menguyur kota membuat jalanan di penuhi genangan air. Zia yang masih duduk memengang ponsel nya, ia masih ingin memastikan jadi atau tidak nya mereka pergi malam ini, ia juga berusaha menghubungi Vino lagi. Tapi hasilnya tetap sama tidak ada jawaban atau balasan dari Vino.


Sontak Zia berpikir bahwa Vino bercanda mengajak nya pergi jalan, padahal awalnya ia berpikir bahwa Vino marah karna balasannya.


"Ngeselin banget sih, ngapa coba ga balas chat, ga angkat telpon. Kalau emang ga niat ngajak tu ga usah sok ngajak, bikin gabut aja huh " omel Zia . Vino yang hilang kabar sejak sore tadi membuat nya marah dan mengomel sendiri.


Ia melemparkan ponsel itu ke kasur begitu saja. Amarah nya larut dalam hempasan itu.


20:00 wib, hujan reda


Awan hitam yang semula menutupi langit kini tampak cerah dan berbinar. Kerlap-kerlip bintang menghiasi sejuk nya malam, sejenak pandangan ku teralih ke jalanan, suara klakson motor dan mobil berebut menerobos macet. Aku mungkin memang belum saatnya merasakan Cinta.


" Zi," panggil Sia memecah lamunannya.


"Iya ma" Zia tersadar dari lamunannya.


" Makan yuk, mama udah masak dendeng. Kebetulan papa hari ini pulang cepat jadi kita makan malam bareng." ajak Sia.


" Oke ma " balasnya singkat.


Zia pun turun dan malam malam bersama orang tua nya, seakan tidak terjadi sesuatu, Zia bersikap biasa saja didepan orang tua nya, walau ia sedang merasa kesal saat ini.


Rencana malam minggu gagal total begitu saja, hilang nya kabar Vino menyesakkan dada, namun mau bagaimana lagi, Zia tidak mungkin berharap dengan pria yang tidak memiliki ikatan dengan nya.

__ADS_1


Ah ya sudah lah.


Zia mencoba berpikir positif kembali, mungkin ada urusan kantor mendadak sehingga ia tidak bisa membalas atau mengangkat telpon dari nya. Zia mencoba memaklumi hal tersebut, ia berpikir kembali, pertama Vino bukan pacar dan kedua ia adalah pria dewasa yang sudah bekerja. Pasti akan sulit bagi nya membagi waktu dengan nya yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menaruh harapan kepada Vino. Zia merasa lelah berdebat dengan dirinya, mencoba beristirahat. Ia harus menjalani hari esok dengan ceria dan bersemangat.


"Hari Senin ada Pr gak, catatan tugasku hilang" tanya David ke zia.


"Sebentar aku cek dulu" jawab Zia sambil mencari catatan tugas nya.


"Mmm ga ada kok vid, aman" balas Zia


"Lagian, ceroboh banget bisa pula hilang. Cepat sana cari, buku itu tetap bakalan penting untuk nanti" sambung nya.


"Iya iya nanti aku cari tenang saja. Tapi mantap lah kalau ga ada, gimana jadi tadi pergi jalan sama Vino?" tanya David menyelidik


"Jadi apaan, orang dia saja hilang kabar. Ngeselin banget tau, pengen gua tonjok tu orang. Setidaknya kasih kabar dikit kek kalau emang ga jadi, ini malah ngilang gitu aja. Buat gabut aja huh" Ucap Zia kesal.


"Udah lah tinggalkan saja, cowo tidak jelas pun. Lagian ngapain juga kamu marah, kamu kan bukan pacar dia, belum pernah ketemu juga kan. Sudah jangan terlalu berharap oke. Pamali kalau terlalu terlalu tuh, ngerti kamu kan" David mencoba memberi nasehat kepada Zia, ia tak ingin sahabat nya menjalin hubungan dengan pria tidak jelas seperti Vino.


"Kami udah pernah ketemu anj, udah main kerumah juga dia.", kata Zia memberitahu.


"Ha kapan?, wah gawat nih. Kok gak bilang-bilang sih"


"Udah tinggalin saja, ga guna laki-laki kaya gitu" timpal David.


" Tapi apa, ga usah kebanyakan mikir, mikir mikir sakit hati tau rasa" ucap David seakan menyumpahi


" Jangan ngomong gitu lah "


" Terserah lah, aku ngomong aja ya. Fakta juga kan belum pacaran saja sudah menghilang begini. Ga tau deh nanti bakalan gimana zi"


Sudah banyak David mengoceh kepada Zia. Tapi raut wajah gadis itu masih terlihat bingung.


"Ayolah, apa lagi zi? Kamu berhak memilih, bebas juga untuk meninggalkan oke"


"Baiklah aku tutup dulu telfonnya, selamat malam dan selamat istirahat sayang" ucap David langsung menutup telfonnya.


Tut


Tut


"Say..."


"Haish, dasar David konyol".


Zia meletakkan ponsel di dekat lampu tidur nya, ia merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit plafon, membayangkan raut wajah Vino yang polos itu. Masih berprasangka baik mengenai pria itu. Ucapan David masih terngiang-ngiang dalam kepala nya.

__ADS_1


"Apa aku terlalu berlebihan" gumam Zia dalam keheningan malam.


Detik demi detik berlalu, mata nya mulai sayup-sayup terpejam, ia larut dalam mimpinya.


Kukuruyuk...


Drettt


Drettt


"Perasaan aku baru tidur, kenapa sudah pagi huwaa" ucap Zia sambil mengucek mata nya yang masih mengantuk.


Mengambil jam beker, pukul menunjukkan 06:15 pagi.


Rambutnya yang masih acak-acakan tidak membuat wajah manis nya pudar. Melihat kaca memperhatikan nya dengan teliti, ada bintik merah di pipi kanannya. Jemari nya mulai terangkat, memencet bintik merah itu.


"Aw"


"Ini kenapa segala ada jerawat" sambil mengambil tisu mengelap noda darah di pipinya.


Ada yang bilang bila timbul jerawat di wajah mu, tanda nya kamu merindukan seseorang.


Tok


Tok


"Zia...Zia" Sia mengedor-gedor pintu kamar mandi.


"Jangan lama-lama mandi, lihat jam juga sayang"


"Iya ma" sambil menoleh ke arah jam dinding yang ada di belakangnya.


"Apa"


Langkah dan tangan nya langsung buru-buru menggapai sabun dan sampo


Gedebuk


"Aduh, Zia pergi duluan ya mapa. Daa" mengecup singkat pipi Yung dan Sia yang masih menguyah sarapan mereka.


"Sarapan du...


Motor nya sudah tidak terlihat lagi di garasi, mengebut membelah jalan raya yang ramai.


Citttt....

__ADS_1


__ADS_2