
Irma menatap wajah Zia dengan membisu, lalu memeluknya erat, mengelus-elus punggung nya.
" Sudah, jangan semua di pendam sendiri. Ada Tante buat Zia, jangan begini melukai diri hanya karena hal tak pasti ziii, udah ya. Ga boleh gitu ya hiks...hikss" Irma menanggis sendu.
Irma memperban tangan Zia, darah terus mengalir tembus keluar perban. Ia menompah tubuh Zia dan menyiapkan mobil, untuk membawa Zia kerumah sakit. Di perjalanan Zia hanya diam melamun menatap keluar kaca mobil. Matanya sembab, wajah nya terlihat pucat juga terlihat ringkih.
Pengakuan yang ia coba jelaskan membuatnya hancur tak karuan, benar adanya penyesalan selalu datang di akhir. Keputusan meninggalkan Ciko karena ketidakpedulian nya malah berbuah petaka bagi hatinya. Ia ingin kembali kepada Ciko, namun juga merasa sudah tidak pantas untuk bersama lagi.
Irma binggung harus bagaimana, sesampainya di rumah sakit. Zia di tangani oleh dokter dan membawa nya ke UGD. Tatapannya kosong, bibir tipis nya kering. Bergelut dengan perasaannya sendiri tanpa henti. Zia memejamkan matanya, jarum infus mendarat di tangan kiri nya. Irma memberi kabar orangtuanya mengenai kondisi Zia.
Sia syok mendengar penjelasan Irma di ujung telfon, ia segera memberitahu Yung. Mereka bergegas memesan tiket untuk terbang ke Bandung menemui putri kecilnya.
"APA TAN!! Astaga kok bisa sih. Oke Ray otw tan"
Irma juga memberikan kabar kepada Ray dan Putu, Ray langsung menancap gas sepeda motornya menuju rumah sakit tempat Zia di rawat.
Dengan kecepatan tinggi Ray mengendalikan motor nya. Pikiran dan hatinya hancur mendengar kondisi Zia demikian.
Irma yang sedari tadi di samping Zia hanya termangu melihat ponakan nya melakukan hal gila. Hingga membuat semua orang khawatir dengan keadaannya.
Lampu kamar terang benderang, Irma duduk di dekat jendela menatap jalanan yang ramai. Menantikan kesadaran Zia, banyak hal yang ingin ia tanyakan kepadanya.
__ADS_1
Tok... tok....
Ray sudah datang, raut cemas terlihat di wajahnya. Ia menghampiri Zia di ranjang pasien, menatap nya penuh iba. Ray mengenggam jemari Zia dengan erat. Masih mempertanyakan kenapa Zia bisa melakukan hal konyol seperti ini.
" Tante juga ga tau dia kenapa Ray? Tadi tiba-tiba Zia nanggis. Tanya Tante kenapa dia diam saja" Keluh Irma
" Apa mungkin karena pria tan?" jawab Ray spontan
" Pria, Zia benar punya pacar Ray?"
Tanpa sadar Ray mengungkap rahasia Zia di hadapan Irma.
'Padahal sudah aku nasehati, mau bilang apa dengan orang tua nya nanti' Batin Irma
"Permisi"
" Iya buk,"
" Bisa keruangan dokter sekarang buk, ada beberapa hal yang ingin dokter sampaikan " Kata Suster
" Oh baik buk"
__ADS_1
"Ray bantu Tante ya, tungguin Zia di sini yah" Pinta Irma sembari meninggalkan ruangan
"Iya Tan"
...****************...
🍁🍁🍁
" Hey, syukurlah kamu sudah bangun"
"Haiis, aww" zia memegang tangan nya.
" Kamu kenapa jadi begini?" tanya Ray cemas
" Entahlah Ray, aku ngerasa gak pantas buat Ciko" Jawab Zia lemas
"Lagi dan lagi, kenapa sih. Kenapa harus masalah cinta, sampai melukai diri sendiri. Emang ga ada cara lain buat bebas dari masalah ginian"
" Sudah lah, tangan ku sakit. Sudah seperti habis tinju aku nih hehe"
Ray spontan memeluk Zia, mengelus rambut panjangnya seraya berkata semua akan baik-baik saja kedepannya.
__ADS_1