
" Apa yang kamu pikirkan, aku sudah katakan untuk apa kamu mempertahankan hubungan toxic seperti itu. Sudah ada aku untuk kamu, tapi aku tidak memaksa kamu sama aku"
" Aku capekkkk, aku binggung harus pilih kamu atau dia. Aku sayang sama dia, aku ga mau ninggalin dia"
" Ya sudah, aku tidak masalah kalau kamu mau sama dia. Aku gak maksa kamu buat sama aku. Aku hanya mengingatkan tidak perlu bertahan dengan hubungan toxic tanpa tujuan seperti itu. Hanya membuang waktu mu saja, kamu masih punya masa depan panjang. Kamu masih harus kuliah dan melanjutkan hidup bukan bertahan dengan orang tidak jelas seperti dia. Lagi pula kamu tidak salah, dia bersikukuh tidak mau menemui mu. Jarak kalian tidak lah terlalu jauh kalau emang niat sudah pasti terlaksana dengan cara apapun. Jangan terlalu banyak berpikir, makin banyak kamu mikir dan mikir semua akan kacau. Banyak orang di sekitar ku yang peduli, tidak perlu mengharapkan dia yang tidak pasti." timpal Arya
" T......ta..tapi aku juga ga mau kamu pergi dari hidup aku" tutur Zia terbata-bata
" Ayolah, kamu ga bisa pilih aku sama dia dalam waktu bersamaan. Kamu tetap harus memilih. Sekali lagi aku ga paksa kamu buat sama aku, aku sudah beri penjelasan sama kamu. Kamu bisa pikirkan dulu keputusan kamu bagaimana. Aku akan menunggu keputusan mu dan akan lapang dada menerima apa pun itu"
Arya pergi meninggalkan Zia di ruangan, tak lupa pula ia juga berpamitan dengan orangtuanya dan segera berlalu dari hadapan mereka semua.
Klak...
Sia seperti orang kebingungan saat memasuki ruangan. Ia tidak ingin putri nya mengalami hal buruk lagi, sudah kedua kalinya ia melihat putri nya hancur karena masalah seperti ini lagi.
__ADS_1
...****************...
Di rumah
"Kamu makan yah, mama suapin" tawar Sia kepada putrinya yang masih terbaring lemas di ranjangnya.
" Udah kaya anak kecil aja ma" jawab Zia
"Sesekali tidak mengapa, ya udah sebentar mama ambilkan dulu makanan kamu"
Tak..tak...tak
Suara hill Sia menuruni tangga menuju ke dapur. Di lantai bawah dekat dengan ruang tamu tampak Yung sedang mengobrol serius di telfon dengan seseorang.
" Pastikan latar belakang pria itu" ucap nya kepada seseorang di ujung telfon
__ADS_1
" Ada apa pah?"
Kedatangan sia mengangetkan Yung.
" Ha, mama. Papa kira siapa tadi, papa hanya khawatir dengan pria yang tadi malam menjeguk Zia. Papa hanya minta informan papa untuk menyelidiki nya." jelas Yung
" Mama juga cemas, ini sudah kali kedua putri kita bersikap bodoh seperti ini. Entah bagaimana menasehati nya supaya masuk di pikiran nya." Ucap Sia kesal
" Sudahlah, kenapa terlalu serius. Nanti kita akan bicarakan ini setelah Zia sembuh total"
" Ya baiklah, ya sudah mama mau ambil makanan dulu untuk Zia, kasihan dia menunggu terlalu lama nanti kalau kita banyak ngobrol" kata Sia meninggalkan Yung dan berlalu ke dapur.
...****************...
Sinar matahari menyinari menembus kaca jendela kamar Zia. Tubuh nya hanya terbaring lemas, perban di tangan nya belum di lepas hingga kini. Ia menatap keluar, memperhatikan langit yang terlihat cerah hari ini. Menghela nafas, berusaha menenangkan jiwa dan pikiran supaya tidak bersikap konyol seperti ini, meninggalkan duka dan lara yang menyelimuti. Menepis keraguan untuk memulai lagi dan lagi untuk ekpektasi yang baru.
__ADS_1
Apa Zia akan melanjutkan hubungan toxic itu lagi?