
"Sayang"
Mereka berdua langsung menoleh ke arah belakang, ternyata itu Ciko.
Ciko berlari menuju wanita itu dan memeluknya dengan hangat sambil memejamkan mata, Zia hanya terdiam kaku menatap mereka. Wanita itu membalas pelukannya dengan penuh kasih. Wajah Zia sedikit syok dengan pemandangan itu. Iya berlari menghampiri mereka, langsung melepaskan pelukan itu.
"Kok kamu tega banget sama aku"
"Bukan aku tapi kamu" jari telunjuk Ciko ke arah wajah Zia.
"Tujuan aku temuin kamu, aku mau kasih tau kalau aku udah tunangan dengan Rahmi, kami akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat ini" ujar Ciko spontan.
Deg
"Kurang ajar kau" ucap Ray yang tersulut emosi, ia menarik kerah baju Ciko hendak melayangkan tinjuan padanya. Namun Zia mencegah dan menarik tubuh Ray dan menenangkan nya.
"Bisa kita bicara baik-baik dulu, kita selesaikan semuanya" langsung meraih tangan Ciko.
"Gak perlu ada yang di bicarakan lagi, semuanya udah jelas. Kamu main belakang, sedangkan aku dengan bodoh nya percaya terus sama kamu!!''
__ADS_1
"Tapi kita udah sepakat untuk kembali Ciko, lalu kenapa sekarang kamu tunangan dengan nya"
"Kita ngobrol dulu ya sayang, aku mohon" sambung Zia sambil merengek.
"Gak perlu, aku akan pergi sekarang. Aku tidak pamit dengan orang tua mu. Aku pergi dan selamat tinggal" menepis dan masuk mobil meninggalkan mereka begitu saja.
Hiks...hiks..hiks..
"Ray, ke..kemarin kami baik-baik aja. Kemarin kami balikan Ray, kami balikan" ucap Zia terbata-bata ia menangis sesenggukan. Ray mendekapnya dengan erat, mengelus rambut dan memberi kalimat penenang.
Awalnya di beri hati lalu pengkhianatan, setelah kembali malah sekarang menjadi korban. Ternyata madu tidak selalu manis untuknya. Apa benar bila karma itu ada? Tapi rasanya memang betul demikian. Perbuatan Zia saat menjalin hubungan dengan Ciko benar-benar fatal sekali, namun apa daya Zia hanya bisa menangisi kepergian Ciko yang ia pikir akan kembali ke pelukan dan bersamanya kembali, semua itu ternyata hanya khayalan semata.
Semua orang yang berada di dalam rumah langsung keluar setelah mendengar keributan yang terjadi. Yung yang melihat putrinya menangis langsung menarik nya dari pelukan Ray dan memarahinya.
"E..enggak om, Ray gak ngapa-ngapain"
Bugh..
Satu pukulan mendarat di pipi Ray, pria paruh baya itu tanpa basa-basi melayangkan tangan nya begitu saja. Sia yang melihat suaminya langsung melerai mereka. Ray masih terus memegang pipinya karena pukulan itu. Seumur hidup tiada seorangpun yang berani memukulnya seperti ini.
__ADS_1
Hiks..hiks..hikss
"Paa bukan Ray..."
Yung langsung membawa putrinya masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Sia juga lainnya.
Irma menyadari bahwa hilangnya Ciko dari rumah dan menebak semua keributan ini adalah ulah pria itu.
Dari dalam rumah Yung terus memeluk dan mengelus kepala putrinya, mata Zia mulai sembab karena menangis dari tadi. Sudah banyak lontaran pertanyaan tak kunjung di beri jawaban. Sia yang melihat kondisi yang terkendali mengajak Zia untuk beristirahat di kamar supaya lebih tenang.
...****************...
"Ini bayaran untuk mu"
"Loh kok cuma segini bos"
"Kan DP awal sudah saya kasih ke kamu"
"Oiya, maaf. Baiklah terimakasih saya pergi duluan. Kalau ada kerjaan seperti ini kabari saya bos" ucap seorang wanita.
__ADS_1
Sekarang kau merasakan sakitnya bukan, kau pikir aku akan pasrah dengan semua perbuatan mu. Tidak sayang, kau salah besar.
Bayangan wanita itu pun hilang di ujung jalan. Pria itu tersenyum jahat menahan puas dengan kinerja wanita tadi.