Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Bersama Arya


__ADS_3

Senin pagi, pukul 09:00 wib


Suasana riuh terdengar jelas di kelas, semua murid sibuk dengan tugas-tugas yang baru saja Bu Susi berikan. Jam pelajaran sebentar lagi usai, mereka berebut salinan jawaban dari si pintar Zia.


"Is jangan nyenggol, kau geser sana" ucap siswa yang ingin segera selesai.


Beberapa murid berdesakan melihat buku latihan Zia. Ia sudah terlebih dahulu menyelesaikan dan mendapat nilai seratus.


Bu Susi yang tidak terlalu perduli dengan kondisi muridnya, lebih memilih bermain dengan gawai nya.


Ray, Zia dan Putu hanya memperhatikan teman mereka menyalin tugas.


Mereka bertiga duduk sejajar di dekat jendela. Putu menghela nafas lega karena menyelesaikan soal-soal rumit tadi.


"Kalian nanti setelah lulus akan lanjut di universitas mana?" tanya Zia


Pikiran nya sudah menerawang jauh, padahal kelulusan masih beberapa bulan lagi.


"Hmm, ya pengen nya sih negeri. Kalau gak dapat ya, swasta jadi lah" jawab Ray lesu.


"Kalau kamu Putu, mau lanjut dimana?"


Putu tidak menjawab pertanyaan Zia, ia mengalihkan pembicaraan dengan membahas soal-soal tadi.


Bu Susi memerhatikan jam tangan nya dan beranjak dari kursinya meninggalkan kelas sambil menginformasikan kepada ketua kelas untuk mengantar buku latihan semua murid ke ruangan nya.


Ding..


Dong..


Bel istirahat sudah tiba, seluruh murid berlarian keluar menuju kantin, meninggalkan semua buku dan pena yang masih berserakan di atas meja. Menuruni tangga dengan seksama. Kelaparan mereka akhirnya terjawab juga bersamaan bel yang berbunyi.


Tinggallah mereka bertiga di dalam kelas. Raut wajah Putu terlihat lesu, seperti ada beban di pikiran nya.


Zia dan Ray hanya menatap nya tanpa curiga dan berfokus membahas kelulusan mereka nanti.


"Aku pengen nikah nanti habis lulus sekolah" ucap Zia yang menyeletuk begitu saja dengan wajah datar.


"APA" kompak Ray dan Putu terkejut mendengar ucapan Zia.


Putu yang tadi fokus menatap jendela, langsung memajukan kursinya mendekat Zia. Menatap nya lekat tanpa kata, tangan nya memegang pipi Zia yang kenyal.


"Yakin, kamu pintar loh" ucap Putu masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, lagi pula kita ini masih muda. Kenapa terburu-buru menikah. Mau nikah sama siapa kamu?"


"Maybe Ciko, haa entah lah. Aku hanya asal bicara saja tidak perlu terlalu serius hehe" ujar nya sambil tersenyum.


Putu dan Ray saling bertukar pandang, mungkin bila di tafsir kan isi pikiran mereka adalah kebingungan.


...****************...


🌷🌷🌷


Cahaya bulan menyinari malam, aku merias diri dengan sebaik mungkin di depan cermin. Berpikir sejenak, semua kesedihan itu pudar karena dirinya.


Berbicara tanpa kata saat bersama mu, melihat semua mimpi itu di mata mu. Semua kata-kata yang terucap dari bibir nya menipu tanpa paksa, memainkan logika dengan seksama.


Lalu kenapa sekarang memilih bersama dengan pria yang mengatakan jenuh?


Malam ini Zia sudah mengatur pertemuan dengan Arya di sebuah restoran.


Ia memasang gelang silver di tangan nya, tampak berkilau dan elegan berpadukan dengan dress hitam juga topi.


Warna hitam memiliki makna tersendiri bagi Zia, kebahagiaan terpancar dari warna itu. Karena itu dia memakai dress berwarna hitam malam ini untuk menemui Arya. Seperti tanda bahwa rasa bahagia ada saat bertemu dengan Arya.



"Aku terlihat cantik, aku ini memang cantiklah ada-ada saja aku ini"ucap Zia menepuk kening nya sambil menatap dirinya di cermin.


Zia beranjak dari kamarnya menuju ke ruang tamu, ia berpamitan dengan orang tuanya. Sia dan Yung mengizinkan nya namun tetap meminta Irma mengawasi mereka berdua.


"Kenapa aku sih kak, bude Yuli kan ada" rengek Irma yang ingin di rumah saja.


"Sudah cepat bersiap, temani ponakan mu. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa seperti sebelumnya"


Zia hanya terkekeh melihat Irma yang dari tadi memasang wajah malas.


Beberapa saat kemudian, datang lah Irma dengan kaos oversize berpadu celana pendek di atas lutut.


"Kamu pakai itu" tanya Yung


"Ya, ada apa memangnya kak?" balas Irma dengan tampang malas


"Tidak ada, kamu mau antar Zia dinner loh"


"Aku hanya mengantar bukan ikut bersama mereka menikmati makan malam" ucap Irma yang langsung berlalu menuju garasi.

__ADS_1


"Dasar gadis konyol"


Yung hanya geleng-geleng dan kembali menonton televisi bersama istrinya.


Mereka berdua pun memacu mobil membelah jalan raya menuju ke restoran.


Beberapa menit kemudian, tampak dari kaca mobil pria berbadan tegap duduk di kursi ujung. Bersetelan jas hitam dengan rambut klimis.


Setelah memarkir mobil Zia berjalan ke dalam restoran menemui Arya yang sudah menanti nya sejam lalu.


"Hai, maaf jadi lama menunggu" kata Zia yang langsung duduk di kursinya.


"Ya, no problem. Bagaimana perjalanan mu?"


"Aman, tidak terlalu ramai tidak terlalu sepi juga"


"Apa yang ingin kita bahas?" ucap Arya yang langsung tude point dengan pertemuan mereka malam ini.


"Ah ya, mungkin kita bisa pesan minuman favorit aku dulu, di meja tidak ada terlihat" balas Zia menunda pembicaraan.


"Baiklah"


Zia melirik wajah Arya, malam ini ia terlihat tampan. Wajahnya juga terlihat berbeda, tapi dia tidak akan membayangkan bagaimana situasi nanti setelah pembahasan ini.


Sembari menunggu pesanan Zia datang, Arya memperhatikan wajah nya dengan serius. Gadis itu yang tengah menguyah makanan nya terhenti sejenak, pipi nya merah merona karena tersipu malu.


"Kamu terlihat istimewa, style begini sangat cocok untuk mu. Sangat pas sekali dengan kepribadian mu dan kita punya kesamaan suka warna hitam" ucap Arya menghentikan kunyahan Zia. Senyum gadis itu mengembang seraya mengucapkan terimakasih atas pujiannya.


"Bagaimana aktivitas mu hari ini beb"


"Lancar-lancar saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, hari-hari ku hanya perlu dengan belajar dan belajar. Lalu bagaimana dengan mu?"


"Aku, aku ya seperti biasanya. Ngajar, kerja, sibuk mencari uang. Biar pas tua tinggal istirahat dan bahagia dengan calon istri ku"


"Calon istri?" terkejut dengan pernyataan Arya.


"Ya kau" ucap Arya penuh penekanan.


Zia hanya meringis, tubuhnya kaku mendengar ucapan Arya.


"Kita tidak perlu terlalu buru-buru, kau bisa fokus dengan pendidikan mu dahulu. Lalu kerja, barulah nanti kita pikirkan bersama oke"


"Tapi sebentar, bagaimana hubungan mu dengan pria jauh itu" timpal Arya yang langsung berhenti mengunyah makanannya.

__ADS_1


Deg


Glep, menelan saliva nya dalam-dalam. Jemari nya meremas dress hitam yang lembut itu. Tak di pungkiri niat awalnya seperti pupus begitu saja. Namun kenyataannya tidak bisa di tepis, tetap harus di ungkap. Zia masih terdiam sejenak, memutar-mutar makanan di depan nya.


__ADS_2