
💃💃💃
Lengkung senyum dari bibir tipisnya terlihat jelas, mata coklat gadis itu berbinar. Ia berlari menyambut kedatangan pujaan hatinya. Ternyata wajahnya semanis itu, tubuh tinggi semampai, juga rambut ikal
"Hai"
"Hai" tertunduk malu, pipi nya merona. Pertemuan pertama dengannya terasa menyisakan bahagia.
"Hey, kenapa malu. Aku sudah di depan mu sekarang" sambil mengangkat dagu Zia.
"Hais, hehe. Tak tahu malu saja" sambil tersenyum malu.
Apa benar semua pengkhianatan itu ia lakukan, wajah nya menolak itu semua. Maafkan aku, maaf, sakit yang kau beri benar-benar fatal untuk ku.
"Hais, harus yah bermesraan didepan jomblo seperti kami" ucap Ray yang langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
Ciko dan Zia hanya tertawa kecil dengan keluhan Ray. Pria muda itu mengatakan bahwa ia akan mencari hotel dan mengajak mereka untuk makan bersama. Kendaraan mereka pun di tinggal, Zia mengatakan akan mengutus orang untuk mengambil nya. Setelah beberapa kali berdiskusi akhirnya mereka menemukan hotel dan resto yang cocok untuk Ciko. Di sepanjang perjalanan Zia hanya melirik lalu tersenyum. Ray dan Putu yang melihat temannya demikian hanya geleng-geleng saja.
"Baiklah, terimakasih untuk waktu hari ini, besok aku akan menemui lagi" ucap Ciko sambil memegang tangan Zia.
"Baiklah, besok biar aku yang menjemput mu."
__ADS_1
"Tidak perlu, nanti kamu sharelock saja. Nanti aku ke sana"
Mereka pun berpamitan pulang, Zia dari dalam mobil masih melihat bayangan Ciko dari lobi hotel. Wajah nya berseri-seri sedari tadi. Ray yang fokus menyetir hanya diam saja, lubuk hati nya terasa patah melihat sejoli tadi bertemu dan berpelukan di depan matanya. Terlebih lagi dengan Putu hanya menatap kosong jalanan yang ramai. Tidak terusik dengan klakson kendaraan di luar disana. Zia yang masih bahagia dengan situsnya tidak memperhatikan keadaan kedua temannya.
Bagaikan sungai yang terus mengalir, walau sering sekali terjadi bandang tidak menyurutkan rasa cintanya. Sungguh bahagia rasanya memiliki pria seperti Ciko. Begitulah kira-kira yang di rasakan nya sekarang ini.
Setelah sampai di rumah, Ray dan Putu langsung berpamitan pulang. Tanpa menoleh ke arah mereka, Zia langsung menari-nari masuk ke dalam kamarnya.
"Sial sekali, nyesal aku nganterin Zia. Kalau tau hmgak di anggap begini mending aku di rumah saja" ucap Ray kesal.
"Sudahlah, biarkan saja dia bahagia. Toh dia bahagia kita juga harus bahagia, karena kebahagiaan dia sama seperti kebahagiaan kita." balas Putu menjelaskan.
Mereka pun melajukan motor membelah jalan raya.
...****************...
Sesampainya di kamar ia langsung melempar tas dan merebahkan tubuhnya di kasur. Memeluk bantal dengan bahagia. Ternyata wajah dan sikap Ciko tidak di luar ekspektasi nya.
Tok
Tok
__ADS_1
Irma yang sedari tadi melihat nya merasa curiga. Zia yang baru saja ingin menari karena bahagia, terhenti karena ketukan pintu dari luar.
"Dari mana tuh" tanya Irma yang langsung duduk di kasur.
"Habis ketemu Ciko tan, Tante tahu? Ia benar-benar sesuai dengan harapan ku, aaa jadi kangen"
"Ajak lah kerumah, biar ketemu mama papa. Sekalian aku mau lihat seganteng apa Ciko itu"
"Ya, aku sudah menyuruh dia untuk datang besok. Akan aku perkenalkan dengan mama papa, bahwa Ciko adalah pria baik. Ia tida kalah jauh dengan Arya"
"Arya?"
"He-em. Mama sama papa sepertinya lebih suka kalau aku sama Arya, ya karena kata mereka dia mandiri, gak banyak tingkah kek Vino"
"Kenapa menyebut nama bedebah sialan itu, oh ya apa kau tahu zi, dia sudah hengkang dari perusahaan. Hah tante lega sekali" ujar Irma dengan lega.
"Bagus lah tan, pria sialan seperti dia memang tidak pantas di kehidupan kita. Sudah terlalu jauh dia mengikuti privasi keluarga kita. Lagipula ya, aku masih bingung dengan tujuan dia kembali ke kehidupan ku. Entah apa maksud pria brengsek itu." ucap Zia sambil mengingat-ingat masa lalunya.
"Kembali? maksud mu kembali apa zi. Vino sebelumnya sudah kenal dengan mu atau gimana"
"Sudahlah tan, aku mau istirahat dulu. Besok masih ada pertemuan dengan pacar ku" ucap Zia yang langsung menarik Irma keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Brakk
Hampir saja bocor, haish kenapa mulut ku ini nyerocos mulu sih