Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Pesan dari Arya


__ADS_3

Bulan purnama terlihat di langit bersinar terang, banyak bintang yang bertaburan. Cerahnya langit malah seharusnya menjadi tanda kebahagiaan namun dari sebuah kamar terlihat pria dengan sorot mata suram. Memandang ponselnya dengan putus asa, bolak-balik ia menghela nafas panjang sambil memijat kening karena pusing. Raut nya terlihat risau, berkali-kali menyalakan dan mematikan layar ponsel, tetapi rasa ingin tahu begitu besar. Saat melihat status di WhatsApp, terlihat postingan Zia dengan emoji gembira, ia memasang potongan chat dirinya dengan Ciko.


Klik


Klik


Jemari nya tanpa sadar mengetik pesan balasan untuk status WhatsApp Zia.


Akhirnya bertemu ya


Ting


Zia yang sibuk menari-nari dalam kamarnya, tidak terlalu memperdulikan ponselnya yang berbunyi. Tubuhnya terus berputar kegirangan, hal yang sudah lama ia nantikan kini menjadi kenyataan. Walaupun di pisahkan keadaan waktu itu, tak mengakhiri hubungan ini. Ya kadang kesendirian itu memang menyiksanya secara perlahan, mau bagaimana lagi. Kenyataan sudah begitu jauh terjalani. Kini jarak bukan lah penghalang atau rintangan dalam ikatan mereka.


Hhh


Hhh


Zia menghempaskan tubuh nya di kasur, mulai memejamkan mata sambil tersenyum bahagia, benar-benar tidak sabar menantikan hari esok untuk bertemu Ciko. Tertidur pulas hingga pagi menjelang.


Matahari menyingsing, kelebatan cahaya masuk dari ventilasi udara. Sesekali mata nya berkedip karena silau, wajah nya terlihat segar. Ia langsung terduduk, senyum nya mengembang. Padahal bukan hari ini pertemuan mereka, tapi rasa bahagia tampak jelas dari tingkah nya.


"Lalalala" suara nya bergema di kamar mandi, sambil menguyur tubuhnya dengan shower. Selepas itu ia menatap wajah nya di cermin, memperhatikan setiap bagian terkecil dari wajahnya. Mulai memoles beberapa krim, senyum nya kembali melengkung.


"Kenapa aku jadi malu hahah, ini benar-benar konyol" sambil menutup wajah dengan kedua tangan nya.


Zia mengambil ponsel dari meja, ia mengotak-atik layar. Tubuhnya seketika terpaku menatap kosong. Ia membaca pesan dari Arya, sontak ia hanya berkedip-kedip seperti orang kelilipan. Langsung mematikan layar ponselnya. Ia hanya kembali fokus mengingat Ciko, menepis rasa ingin membalas pesan itu.


Apa aku terlihat salah arah, kenapa Arya bisa setegar itu mengirim pesan. Padahal aku sudah pergi begitu saja tanpa penjelasan. Kenapa aku menjadi cemas, aku akan bertemu dengan Ciko, pria yang menerima ku apa adanya, menerima kembali setelah permainan ku di belakangnya dan sekarang ia mengabulkan keinginan ku untuk bertemu dengannya. Lalu untuk apa aku merasa cemas karena pesan singkat dari Arya. Aku harus berusaha melupakan Arya, aku sudah memilih Ciko, aku tidak akan mengecewakan nya untuk kesekian kalinya. Aku mencintai akan aku perbaiki segala hal supaya hubungan kami semakin erat.


Setelah perdebatan dengan isi kepalanya, ia memilih memblokir kontak Arya dari ponselnya. Menghapus segala kenangan bersama Arya. Berjuang dari awal dengan Ciko kembali. Hubungan baru akan di mulai, tidak perlu terlalu memikirkan masa lalu.


...****************...


💌💌🔥


21

__ADS_1


Zia berekspetasi tinggi mengenai Ciko, pikiran nya sudah teracuni dengan bayang-bayang paras pria itu. Keceriaan terlihat jelas dari mimik wajahnya. Ray berada di sampingnya merasa risih karena Zia terus saja tersenyum sendiri.


"Zi, biar aku saja yang menyetir kalau gini. Was-was banget kalau kau kena penyakit mental dadakan nih" ucap Ray spontan.


"Apa maksudmu? Aku hanya bahagia, seharusnya kalian ikut bahagia dong. Kenapa mesti cemberut, aku fokus menyetir. Tenang saja" ujar Zia dengan tenang.


Putu yang tidak mau ambil pusing dengan ocehan mereka. Memasang earphone di telinga nya.


"Kau pun percaya kali sama dia, sampai sakit-sakitan masih gak sadar juga!!" ucap Ray dengan suara tinggi.


Citttt


Zia yang tersulut emosi langsung menghentikan mobilnya.


"Kau kenapa jadi nyolot gini, aku cuma minta di temenin sama kalian oke. Kalau gak mau bilang dari awal gak usah nyari ribut pas udah jalan"


"Aku tahu, bukan ga mau temenin. Jangan polos-polos banget lah zi, sadar sedikit"


Rentetan ocehan terus menggema, menembus earphone Putu.


"HEIIIII!!!!!!"


"Ap..


Celoteh mereka terpotong karena teriakan Putu yang duduk di kursi belakang. Ia menghela nafas berat, sambil memejamkan matanya.


"Apa kalian akan terus ribut di dalam mobil ha, kenapa tidak keluar dan adu tonjok sekaligus. Kau Ray, kita itu mau temenin Zia temuin pacarnya, gelagat mu ini cemburu kan sama Ciko, gak usah banyak cerita ini dan itu. Kau juga Zia, segala memprotes niat kami menemani mu. Apa kau pikir kami akan meninggalkan mu begitu saja dengan pria itu. Jadi tolong kerjasama untuk kalian berdua, oke" ucap Putu sambil menyatukan tangan nya memohon.


"Satu lagi, aku mau dengar musik. Jadi jangan menganggu" timpal Putu yang kembali memasang earphone nya.


Bibir tipis itu manyun, rasa kesal menyelimuti wajahnya. Saling memalingkan wajah satu sama lain. Mengakhiri perdebatan karena di marahi Putu. Mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara tanpa bicara.


Ting


Ting


Ray langsung mengambil ponsel Zia, saat tangan gadis itu ingin meraih nya. Ray mengatakan bahwa Ciko sudah sampai di Bandung. Ia sedang mengantri mengambil barang-barangnya. Dengan waktu yang bersamaan mereka juga sudah sampai di parkiran, Zia sedikit merapikan rambut nya. Menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Ray dan Putu mengangkat bahu, sambil memutar mata malas melihat Zia yang berdandan rapi sebelum menemui Ciko.


"Baiklah sekarang aku siap bertemu dengannya" senyum gadis ini mengembang, ia melangkahkan kaki menuju ke dalam bandara.


Ray dan Putu mengikuti langkah Zia dari belakang, mereka berdua sudah seperti pengawal untuk gadis ini. Dengan kaos hitam polos dan tubuh yang tinggi juga bedak menambah penampilan terlihat lebih sangar. Zia yang grogi dengan pertemuan nya terus saja meremas jarinya, tangannya sampai basah karena keringat. Ia hanya mondar-mandir di depan Ray dan Putu.


"Kau grogi?"


"Iya lah, first time nih. Aku ketemu sama Ciko setelah sekian lama"


"Ya tapi kan kau bisa duduk tanpa harus mondar-mandir gak jelas dari tadi"


Tatapan sinis langsung keluar dari mata coklat Zia. Ia tidak menjawab dan terus saja mondar-mandir dan celingak-celinguk melihat keadaan sekitarnya.


Dring


Dring


Dring


"Kamu di sebelah mana?"


"A..a..aku di luar dekat minimarket Zioq, pakai baju biru"


"Emm, oh aku lihat. Aku akan kesana"


"Ha kamu dimana"


Tut


Tut


"Haish, kenapa di matikan. Padahal aku belum tau posisi dia dimana"


"Kenapa zi? Dia sudah sampai" tanya Ray penasaran.


"Sudah, katanya dia akan ke sini. Tapi aku belum melihatnya dimana"

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat pria tinggi dengan kaos abu-abu, memakai topi merah maroon.


"Haii" teriak nya dari kejauhan.


__ADS_2