
Malam hari, 20:00 wib
Ray yang gundah karna perilaku Zia, masih berkeinginan untuk memastikan kembali apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Ia mengambil handphone lalu menghubungi nya.
Dring...dring...dring....
Dring...dring...dring....
...7 Panggilan tak terjawab
Zia yang menanggis di sudut kamar tak mendengar handphone nya berbunyi, menatap ke arah langit penuh duka.
*********
flashback on
πππ
" Tapi, kamu bisa jaga perasaan aku ga?"
" Bisa." seakan penuh ketegasan ia menjawab dengan pasti
__ADS_1
" Okey, aku mau jadi pacar kamu" tersenyum manis .
Hujan deras yang mengguyur kota pagi ini, menyejukkan hati, pohon pohon di pinggir jalan terlihat begitu hijau berkilau. Udara segar terhirup dengan perlahan, menenangkan pikiran. Semua hal seperti dipastikan akan baik-baik saja, tapi tetap saja tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di menit berikutnya. Menikmati secangkir teh hangat di pinggir kolam, Zia duduk termenung memikirkan detail kejadian tadi. Padahal saat itu ia hanya menganggap nya sebagai kakak dan sering berselisih paham mengenai sikap seorang laki-laki. Seakan omong kosong semua ini, keputusan yang ku buat seakan di stempel permanen.
Hari hampir senja, Zia yang masih duduk termenung di pinggir kolam terpecah oleh suara klakson mobil Tante Irma. Ia pun turun ke lantai bawah menuju gerbang. Wajah Tante Irma kesal seakan memberi tahu lama sekali membuka gerbangnya.
Keputusan Zia mengatakan iya kepada Ciko sangat membebaninya. Ia masih terjebak dalam luka lama, menganggap semua akan perih bila di jalani kembali walaupun dengan orang yang berbeda sekalipun. Sementara Ciko yang serius dengan keputusan ingin menjalani hubungan ini.
" kita putus aja ya, aku gak sanggup. Ngejalanin hubungan yang awalnya bikin beban di kepala gua. Maaf gua labil " ucap Zia
Ciko yang termangu akan sikap Zia, bertanya-tanya kenpa mendadak bisa berubah keputusan nya. Baru beberapa jam yang lalu Zia mengatakan setuju memulai hubungan ini lalu sekarang.
Zia hanya merasa, bertemu tidak pernah ini hanya virtual saja. Sedangkan luka lama saja belum terjahit sempurna.
" kita ini baru mau mulai, kamu gak bisa terus-terusan di zona hitam. Lupakan hari kemarin yang nyakitin lu. kita buka lembaran baru lagi, oke" sambung Ciko
Zia terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar respon Ciko. Air mata nya menetes, ia takut menjalani kembali. Ciko yang memantapkan untuk tidak menyakiti nya dalam hal apapun.
" ya udah kita balik " sambil menyeka air matanya.
" sudah ga usah nanggis, dasar bocil "
__ADS_1
" kita balik, kalau berakhir kembali. Maaf gua ga bisa lagi " tegas nya.
πΈπΈπΈ
Bukan sekedar perjalanan tapi mencari tempat yang aman dalam hangatnya pelukan
**********
" Hallo, kenapa Ray?" suara sengau terdengar dari ujung telfon
" kenapa mu, cerita lah zi. Jangan diam gini, aku ga ngerti bahasa diam mu, suara mu beda. Ga semua harus di pendam, kamu ka...."
Ucapan Ray di potong oleh Zia, meminta Ray untuk tidak marah kepadanya.
" Maaf ya, aku cuma jaga perasaan Ciko aja "
Ray menjelaskan hubungan virtual itu tidak mudah, terlebih ini belum pernah bertemu sama sekali. Tidak perlu terlalu berharap pada hubungan yang tak pasti, jangan terbelenggu dengan toxic relationship seperti ini. Harus kuat mental dalam hubungan model begini. Persahabatan mereka juga sudah lama, bukankah tidak adil rasanya mengakhiri komunikasi dengan orang yang nyata seperti kami, bukan dia yang tak pasti kebenarannya. Kamu sudah terlalu sering menangis karna hal begini, apa tidak bosan?. Bukan maksud mengatakan untuk memilih kami atau dia, aku cuma mau yang terbaik buat kamu sebagai teman.
Jadi semua ga perlu di pendam sendiri, nanti sakit ( kata Ray mencemaskan).
" udah ya, kita baikan. Jangan cuek lagi " imbuh Ray.
__ADS_1