
Di dalam kamar hanya menatap langit-langit, melihat lampu kamar yang terang. Lalu memiringkan tubuhnya ke arah jendela, terlihat hujan deras mengguyur. Tidak tampak senyum ataupun kesedihan, hanya datar memperhatikan rintikan air hujan.
Dring
Dring
Dring
Sudah beberapa hari terakhir, Zia menghindari Ciko. Semua panggilan tidak pernah di jawab atau sekedar memberikan pesan-pesan singkat kepadanya, masih berkecimpung dalam keraguan. Membiarkan diri untuk istirahat tanpa berpikir akan terjadi perdebatan diantara mereka.
Menurutnya menghindar dan menghilang sejenak adalah cara terbaik untuk fokus mengambil tindakan ke depannya di hubungan ini.
Arya, Ciko, Arya, Ciko
"Sangat membingungkan,"
Jgeerrr
"ASTAGA"
Berlari menuju jendela dan menutup gordennya. Hujan begitu deras, Ray dan Putu yang belum lama pergi tak kunjung memberikan kabar di grub.
"Sudah sampai belum gays"
Kalau di pikir-pikir, kenapa hubungan mereka menjadi renggang seperti ini, apa hanya karena aku. Seperti nya aku harus menjelaskan supaya mereka tidak berharap lebih kepada ku. Lagipula mereka tahu aku menjalani hubungan dengan orang lain, tetapi kenapa masih saja menaruh perasaan pada ku.
...****************...
Ting..
__ADS_1
Satu pesan WhatsApp masuk di handphone Irma, ia mengecek nya. Pesan itu dari nomor tidak di kenal
"97, siapa yah. Hmm aku balas saja mungkin klien"
klik.klik..klik
"Ini dengan siapa?"
"Ini Vino"
Apa, Vino. Bagaimana dia bisa mendapat nomor ku. Kami saja tidak pernah bertukar kontak, mencurigakan.
"Ada apa?, darimana kamu mendapat nomor ku"
"Tidak penting, Sabtu malam aku ingin mengajak mu makan malam. Tidak ada penolakan, ada urusan pekerjaan yang harus aku bahas dengan mu!"
huffft
"Baik bapak investor yang terhormat"
Irma langsung melempar handphone nya ke ranjang, wajah nya terlihat kesal menahan amarah.
"Seenaknya saja membuat aturan, TIDAK ADA PENOLAKAN. Nyenyenye dasar cowok sialan" umpat Irma
"Sudahlah, aku lelah. Lebih baik aku tidur tanpa memikirkan manusia itu" merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Irma langsung mematikan lampu kamar nya, terlihat cahaya remang-remang menyinari setiap sudut kamar. Jam demi jam berlalu, mata Irma tak kunjung terlelap, sudah beberapa kali ia berusaha memejamkan mata namun tetap nihil.
Pikiran nya melayang memikirkan kejadian sore tadi. Untuk pertama kalinya ada pria yang berani mencium nya dengan spontan.
__ADS_1
"Astaga, ini kenapa jadi gak bisa tidur sih. Haah, Vino sialan. Capek banget, ayo dong menghilang dari pikiran ku" keluh Irma sambil mengibaskan tangannya.
...****************...
🔥🔥🔥
Matahari menyingsing, terlihat indah. Irma menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Mata nya masih berat, ia berjalan terhuyung-huyung karena kurang tidur.
"Benar-benar sialan" umpat Irma sambil berkaca
Setelah selesai bersiap, Irma turun ke bawah. Bergabung bersama Zia dan orangtuanya.
"Selamat pagi"
Sontak mereka bertiga terkejut melihat wajah Irma yang tidak segar, kelopak matanya begitu sayu menahan kantuk. Sia mempersilahkan duduk dan meminta untuk segera menyantap sarapannya.
...****************...
Yung bersiap mengantarkan Zia ke sekolah, ia mencium kening istrinya dan masuk ke dalam mobil, di iringan dengan Zia yang memeluk Sia lalu pergi menuju ke arah sekolah.
Lambaian tangan Sia masih tampak hingga ujung komplek sebelum pembelokan. Senyum nya tampak manis dari kejauhan.
"Aduh, ah malas banget" ucap Irma sambil merapikan map yang di bawa nya
"Kamu kenapa? lesu sekali, padahal sudah sarapan"
"Capek kak, gak bisa tidur semalaman. Gara gara Vino sialan, kesal banget tau" ucap nya spontan
"Vino"
__ADS_1
Irma menutup mulutnya, lalu tersenyum tipis dan masuk ke dalam mobilnya. Ia segera berpamitan dengan Sia, tanpa menghiraukan deretan pertanyaan yang di lontarkan oleh kakak nya.
Kenapa dia bisa sebut Vino, kesal? kesal kenapa. Harus diselidiki ini, bedebah sialan itu sangat menganggu.