
"Hallo pah"
"Ada apa ma?"
"Irma menyebut nama Vino pagi tadi, seperti nya bedebah itu menganggu nya."
"Baik ma, papa mengerti. Semua akan beres"
Sia menutup telfon, ia mengepal tangan nya menahan amarah.
Kejadian yang menimpa putrinya di masa lalu menjadi perhatian untuk nya, tidak mau bila anggota keluarga lain tertimpa masalah seperti Zia kala itu.
...****************...
🍒🍒
Disekolah....
"Daa pa" Zia melambai ke ayah nya
Hari ini ia tidak terlambat ke sekolah, malahan cukup pagi untuk memulai. Pikiran nya melayang teringat Ciko yang sudah lama tidak di beri kabar.
Peristiwa demi peristiwa yang terjadi cukup menekan dan menjadi beban dalam pikirannya.
Ding
Dong
Bel sekolah berbunyi, Ray dan Putu sudah terlebih dahulu ada dalam kelas, ketika Zia masuk mereka berdua menatap nya tetapi tidak seperti sebelumnya tatapan itu hanya terlihat sendu. Rona keceriaan menghilang dari sorot mata keduanya, Zia langsung duduk di kursi, tidak berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
Kecanggungan jelas terlihat dari ketiganya, padahal kemarin seakan sudah sepakat untuk tidak berharap apapun kepada Zia. Namun kejadian di lapangan ternyata di luar dari jangkauan.
Bu susi masuk kedalam kelas, di tangan kanannya terdapat seberkas kertas dan buku yang didekap olehnya.
"Selamat pagi, anak-anak!"
Senyuman ramah Ibu Susi ditunjukkan pada anak-anak, dan ia berdiri menghadap murid-murid yang sedang berlarian menuju kursinya masing-masing.
Kehadirannya sepertinya membuat para murid terkejut dan panik.
"Pagi, Bu!" Semua murid menjawab hampir bersamaan.
"Bagus, apa kabar hari ini? Kalian masih semangat untuk sekolah, bukan?" tanya Ibu Susi yang sedang beranjak ke tempat duduknya.
"Semangat, Bu!"
"Baik buk"
"Kelompok pertama, Tara, Boni, dan Gina"
"Kelompok ke dua, Ray,Putu dan Zia"
"Kelompok ketiga Vina,Aldo dan Sara"
'Kenapa harus sama Ray, gabung juga lagi sama Zia huuft' Batin Putu yang tidak ingin sekelompok dengan mereka.
"Baiklah sekarang berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing ya. Bisa kalian buka halaman 76 di baca lalu diskusikan oke" perintah Bu Susi
Hampir 15 menit Zia, Ray dan Putu hanya diam, belum ada sesiapapun yang berani memulai bicara untuk membahas materi mereka hanya membolak-balik buku.
__ADS_1
Saat membalikkan halaman, tangan Zia menyentuh pena dan terjatuh. Ketika ia ingin mengambil, bersamaan pula dengan Ray yang mau mengambil pena tersebut, sehingga kepala mereka bertabrakan satu sama lain.
"Aw.. " memegang keningnya
"Kata orang kalau kepala kita saling berbenturan, harus benturkan lagi biar anak nya gak Siam"
"Ngarang aja kamu"
"Entah tuh, dasar blok. Mitos doang itu, gak usah aneh-aneh" ucap Putu spontan
Lalu membuang muka kembali saat Ray melihat ke arah nya, Zia tersenyum melihat kejadian barusan.
"Astaga, sudah lah. Jangan pada diam, kita baikan bisa?"
"Hmmm, aku sih bisa. Entah sih Putu"
Bu Susi beranjak dari kursinya, ia berdiri melihat kelompok Zia hanya mengobrol saja.
"Ray, jangan ngobrol saja. Ayo kerjakan!!!
"Baik buk"
"Gimana putu?"
"Ya bisa sih, oke deh. Lagian sekarang kita harus kerja kelompok bukan bahas ini oke"Ucap Putu
Waktu pembelajaran terus berjalan, setiap murid saling berdiskusi untuk mendapatkan jawaban dari tugas kelompok yang di berikan Bu Susi.
Akhirnya mereka bertiga pun bisa seperti semula, berinteraksi dengan baik kembali walaupun masih dengan bekas luka yang terpendam.
__ADS_1