
πππ
Irma meninggalkan ruang kerja penuh kecemasan, ia tahu betul kakaknya bisa nekad berbuat apa saja untuk mencapai tujuan, Ia *******-***** jemari sesekali memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan menggigit nya.
Mondar-mandir Irma memikirkan hal ini, perasaan nya bergejolak, terlihat keningnya yang mengkerut karena pusing dengan keadaan yang membingungkan.
Suara air hujan masih terdengar jelas, seperti alunan musik mengisyaratkan kecemasan Irma pagi ini. Ia berjalan menuju kasur nya kembali, merebahkan tubuh mungilnya, sesekali ia menghela nafas dan memilih tidur untuk menenangkan pikirannya.
****************
Klek
Zia menutup pintu kamar, tubuhnya masih melekat pada pintu itu. Mata nya terlihat kebingungan setelah mendengar percakapan orang tuanya dengan Irma.
Kenapa mereka menyebut nama bedebah itu, tidak cukupkah kejadian masa lalu meninggalkan luka. Untaian kata-kata kasar sangatlah cocok untuk Vino, rasa kecewa yang di alami orang tua Zia sudah tidak bisa tergambar lagi.
Benar, ia tidak memberitahu semua kepada orangtuanya. Namun Yung dan Sia juga bukan lah anak kemarin sore hingga tidak mengerti masalah putrinya.
Zia memutar mata malas memikirkan Vino yang di sebut-sebut mereka. Tapi ia masih curiga dengan keadaan yang terjadi. Terenyuh sesaat mengingat kenangan pahit bersama Vino. Lalu ia menggelengkan kepalanya, menutup mata untuk menghilangkan ingatan kelam tersebut.
Zia meraih handphone nya, ia mencari kontak Ray dan menghubungi nya.
Dring ..
Dring ..
Dring ..
Tidak ada jawaban dari Ray, berkali-kali sudah ia menghubungi sahabatnya itu.
"Kemana sih, tumben banget gak pegang hp" gumam nya sedikit kesal.
Karena tidak ada jawaban sama sekali, ia memilih duduk di dekat jendela memperhatikan hujan yang masih mengguyur kota. Sesekali mengigit bibir bawahnya melepas kecemasan. Isi kepala seolah berpikir dan berpacu mencari sebab pembahasan kedua orangtuanya.
'Sebenarnya apa yang mereka bahas' Batin Zia dalam hati
...****************...
πΆπΆπΆ
Tubuh tinggi dengan perut six pack keluar dari kamar mandi, handuk yang menutupi setengah bagian tubuhnya tak lekat dari pandangan. Ray menatap diri nya di depan cermin.
"Hmm, bagaimana bisa Zia tidak menyukai ku. Secara aku ini tampan dan humoris haha, astaga" ucap nya memuji dirinya sendiri
Tangan kekar nya mengambil handphone yang dari tadi di atas kasur, mata nya terbelalak melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Zia. Sontak ia langsung menghubungi pujaan hatinya kembali.
Dring..
__ADS_1
Dring..
Dring..
"Hallo, ada pa Zi?" tanya Ray penasaran
"Kemana saja, tumben banget gak pegang hp jam segini"
"Baru selesai mandi, tadi pengen aja rubah jadwal nge-gym. Ada apa?"
"Ada hal yang ingin aku bahas, kita vcall saja ya. Capek aku pegang telfon, karena ini akan lama"
Dreeggr.
Panggilan beralih ke mode video, Zia menatap tubuh Ray yang atletis itu. Ia mengalihkan pandangannya meminta Ray untuk segera berpakaian.
"Oh bentar, tunggu ya jangan di matikan!"
"Iya, ya sudah sana"
Beberapa saat kemudian, mereka melanjutkan obrolan yang terjeda tadi.
"Ada apa? Penting kah?"
"Aku mau tanya, paman mu yang bernama Vino tinggal dimana?"
"Astaga Ray, ya gak lah" ucap Zia sambil mengingat-ingat masa lalu nya.
"Aku kira!, dia tinggal bersama ku sekarang. Mendadak sih, karena sebelumnya dia itu tidak pernah mau bersama kami, lebih suka sendiri dalam segala hal." jawab Ray menerangkan.
"Hm, perusahaan orang tua kita bekerjasama, kedudukan paman mu sebagai apa di perusahaan ayah mu Ray?"
"Em, dia itu direktur utama di perusahaan ayah ku, tapi dia mengelola cabang. Sama seperti Tante Irma lah kan dia pegang cabang juga kan zi."
"Tante itu, bukan pegang cabang, perusahaan itu sudah di berikan untuknya. Cuma kerjasama tetap berlanjut dan saling bertautan."
"Emang ada apa sih?"
"Tidak ada aku hanya ingin menanyakan hal itu"
"Sebentar, tapi kenapa mendadak begini. Oiya beberapa hari lalu aku juga melihat paman Vino pergi di malam hari, ya maksud aku dia gak biasanya keluar jam segitu"
Setelah pernyataan Ray mereka tidak membahas mengenai Vino lagi.
Beberapa menit kemudian Zia menutup telfonnya, ia teringat bahwa malam itu melihat Irma memakai dress merah favoritnya.
'Atau jangan-jangan mereka bertemu di malam itu' Batin Zia menduga-duga.
__ADS_1
...****************...
Semilir angin masih terasa sejuk setelah hujan reda, jam menunjukkan pukul 15:00 wib. Seorang wanita dengan rambut acak-acakan keluar dari kamarnya, dengan mata masih mengantuk ia turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air.
Pandangan nya tertuju ke setiap ruangan di rumahnya, ia tidak melihat siapapun. Suasana rumah sepi tiada suara terdengar.
Irma mengangkat pundaknya dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air.
Ketika ia duduk di kursi makan, mata nya melihat ke arah kolam berenang. Di sana ada Zia yang sedang mengayunkan kaki jenjangnya di dalam air kolam.
Andai dulu ia tidak pergi begitu saja, mungkin tidak akan sebenci ini aku padanya
"Hoy" suara Irma mengejutkan Zia yang tengah melamun di pinggir kolam. Irma menawarkan segelas air untuk nya. Ponakan nya itu hanya menggeleng dan bermain kembali dengan air.
"Melamun kan apa? Segala cari tempat sepi atau bagaimana?" tanya Irma yang langsung ikut duduk di pinggir kolam.
"Vino!" jawab Zia spontan.
"Uhuk..huk..." Irma tersedak air minum setelah mendengar jawaban dari Zia. Ia mengelap air yang membasahi bibir tipisnya.
" Vino, kok bisa kepikiran sama Vino?"
"Tidak ada, lupakan saja lah Tan. Ku dengar dari Ray, beberapa hari lalu tante bertemu dengan Vino kah?"
Irma mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tidak menatap lagi ponakannya.
"Kenapa tan? Zia hanya tanya bukan ada maksud apa-apa" ucap Zia memperjelas.
"Emm, ah ya, kemarin kami memang bertemu. Ada urusan kerjaan yang harus di bahas"
"Urusan kerjaan, yakin Tan. Bukankah soal pernikahan kalian"
Deg
Glek
Irma mematung, ia menelan saliva nya, tidak tahu dan juga binggung harus menjawab apa lagi. Lagipula dari mana Zia tahu mengenai pernikahan nya dengan Vino.
Zia yang melihat tantenya memasang wajah tegang hanya tertawa. Ia menepuk pundak Irma untuk bersikap santai.
"Lupakan, saran aku saja ya Tan. Vino itu berbahaya, tidak perlu masuk kedalam kehidupan nya. Apalagi menjalin asmara dengan dia, amit-amit deh" ucap Zia sambil memegang dadanya.
Ia hanya meringis menatap Zia, dia sendiri juga masih tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Vino. Terlebih Yung dan Sia tidak menyetujui hubungan ini.
Irma pergi meninggalkan Zia menuju ke kamarnya.
'Kenapa jadi ribet begini sih, kalau aku tidak segera menjawab bisa gawat perusahaan kami. Lebih baik aku minta saran dengan kak Yung saja' Batin Irma resah.
__ADS_1