
Bibir nya kaku, sedikit gemetar mendengar suaranya. Bayangan masa lalu seakantergambar jelas didepan retinanya. Kenangan dan kata manis waktu itu teringat jelas, pergi tanpa kata menjadikan pelampiasan tak terduga. Seperti numpang menyalurkan hasrat demi mempertahankan prinsip bahwa bukan ia yang salah tapi dia.
Lalu malam ini mendadak menanyakan kehidupan pribadi tanpa rasa bersalah. Tidak terdengar nada suara penyesalan, seperti tidak terjadi apa apa di antaranya.
" Aku dan Ray, untuk apa kau menanyakan nya."
" Jawab saja, tidak perlu tau apa alasan nya."
" aku tidak memberikan mu hak untuk tahu hubungan aku dengan Ray. "
" Masih tidak berubah kamu."
" Tidak perlu menyalahkan, lihat dirimu janga terlalu sibuk dengan hidup orang lain"
Tut....tut...tut.....
Zia mematikan telfon begitu saja, ia sama sekali tak Sudi memberitahu Vino, rasa sakitnya dulu masih belum hilang. Malah seolah kembali tanpa rasa penyesalan. Begitu menyebalkan.
...****************...
" Bangs*t lah, liat aja lu Ray. Bantu teman gak bisa " Kesal Putu karena tawaran nya di tolak Ray.
Berpikir ini bukanlah urusan nya, untuk apa ia terlibat dalam perasaan Putu.
Setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, Ray dan Zia semakin dekat. Mereka sudah saling memaafkan satu sama lain.
Tetapi tidak dengan hubungan Zia dan pacarnya. Ciko mengacuhkan nya, menyudutkan Zia dengan keterbukaan nya dengan lelaki lain. Ia terjebak dalam situasi yang sulit, hubungan toxic yang ia jalani menyiksanya, kesepian selalu melekat.
__ADS_1
Ciko tetap kukuh belum bisa menemui, padahal Jambi dan Bandung tidak lah jauh. Terlalu takut menghadapi kenyataan bila bertemu dengan Zia. Membuat menanggis setiap hari dengan obral janji.
Perasaan nya begitu besar kepada Ciko, namun begitulah gadis ini barulah anak kemarin sore, masih senang nya jalan kesana kemari tanpa aturan yang melekat, dalam pikirannya tertanam ( aku lebih lama kenal mereka ketimbang kamu ).
Sampai di titik, kalau ada yang dekat kenapa yang jauh. Kalau ada yang mudah kenapa yang sulit, tidak mau merepotkan diri lagi.
Akan ku akhiri dengan nya
...****************...
🍒🍒🍒
Sabtu, demam
Malam ini akan ada acara di rumah Zia, orangtua nya mengundang rekan bisnis nya untuk datang membahas sesuatu hal.
Tok..tok...
*Masukkk aja
Irma menghampiri ponakannya yang tengah duduk di dekat jendela menatap jalanan dengan datar.
" Kamu kenapa, malam ini ada acara di rumah. Kamu siap siap yah" Kata Irma yang melihat Zia dengan tatapan heran tapi tetap harus menyuruh nya bersiap.
Ia hanya mengangguk tanpa bicara, saat Zia mandi. Irma sudah menyiapkan dres berwarna navi untuk di kenakan Zia malam ini.
__ADS_1
Zia yang keluar kamar mandi sambil menghanduki rambut panjang nya . Terbelalak melihat dress navi sudah ada di kamar nya.
Ia memanggil Irma untuk bertanya. Kenapa ia harus memakai pakaian seperti ini. Karena ini bukan lah gaya berpakaian Zia.
Tapi apa boleh buat Irma sibuk menyiapkan perjamuan malam ini.
" Seperti mau lamaran saja, padahal hanya rekan bisnis papa " gumam nya sambil memakai dress itu didepan kaca.
Senyum nya mengembang, memuji dirinya terlihat anggun memakai dress navi itu. Seketika ia bersemangat, melupakan rasa tidak enak badannya itu.
" tapi pakai sepatu mana yah " melihat ke arah rak sepatu dan memilih-milih yang menurut nya cocok di pakai perjamuan nanti malam.
"Oh ini saja " memakainya dengan bahagia. Merasa anggun bila dipadukan dengan dress nya.
...****************...
🖤🖤🖤
20:00 wib , di ruang tamu
Semua terpukau melihat Zia memakai dress navi itu, dari tangga ia terlihat anggun dengan rambut hitam panjangnya. Senyum yang mengembang membuat sesiapapun akan jatuh hati melihat nya.
Vino terpaku melihat Zia, tidak menyangkal kecantikan wanita yang sempat ia tiduri saat itu.
Tunggu
Kenapa malah berpikir demikian?
__ADS_1