Kenapa Jadi Begini Kisah ku

Kenapa Jadi Begini Kisah ku
Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Sebentar lagi akan kenaikan kelas, seluruh siswa akan libur selama dua Minggu. Namun Zia memutuskan untuk libur duluan ketimbang lainnya bersama Putu dan Ray. Ia sudah menjadwalkan perjalanan mereka, semua barang sudah dipersiapkan masing masing satu ransel.


Kamis pagi mereka akan berangkat dan serempak izin sekolah.


" Lah ini kenapa bertiga absen nya sama " ucap Bu susi walikelas mereka saat absensi.


Ia berpikir bila tidak sekarang kapan lagi, nanti setelah lulus pasti akan sibuk dengan urusannya masing-masing dan belum tentu ada waktu untuk pergi keluar.


Banyak ucapan terimakasih yang ia lontarkan pada Ray dan Putu karna mau menerima ajakan nya. Ia begitu bahagia karena ini bukan wacana forever.


Sepanjang perjalanan ia mengoceh saking bahagianya. Hingga ketika sampai di sana setiap tempat yang mereka kunjungi terkhusus Air terjun Klambu, Zia selalu mengambil foto. Entah itu berfoto-foto dengan Ray atau Putu , atau hanya sekedar foto dengan kuliner yang belum pernah ia cicipi dari kota asalnya.


" Jadi gays, sekarang aku lagi ada di Lombok. * Menarik tubuh Ray yang tinggi, dengan rambut hitam yang acak-acakan, aku sama Ray dan Putu, oy putu *teriak Zia yang memanggil Putu yang berdiri di warung jajanan khas Lombok. Jadi begitu ya Putu sibuk kuliner an , dan Ray sibuk temenin gua terus wkwkwkwkkwk " Zia tak sudah sudah membuat vlog perjalanan mereka selama di sana.


Zia selalu mengajak Mereka untuk berfoto, dan berulang kali meminta untuk di fotokan dengan gaya yang sama.


" Udah banyak fotonya anj, sama semua woy" protes Ray dengan wajah lusuh, bau keringat di tubuhnya terxium pekat karena berkeringat mengikuti kemauan Zia yang ingin selalu berfoto.


" Ala sayang, sini sini." Zia mengambil kamera nya dan fokus mengambil gambar di sekitarnya, sesekali ia juga mengambil foto Ray yang kesal karena dirinya. Wajah Ray cemberut selama diperjalanan menuju penginapan.


Dipenginapan


Zia membuka laptopnya dan melihat foto yang ia ambil lalu memindahkan nya . Ia tertawa kecil melihat semua gambar yang ia ambil dengan gaya yang sama, pantas saja bila Ray kesal dan cemberut. Saking lama nya menunggu data yang dipindahkan, ia ketiduran hingga pulas. Kopi panas di atas meja yang ia buat sebelum fokus memindahkan data pun sampai tidak jadi ia minum.

__ADS_1


Ting ...


Sayang, udah tidur belum?


Dring...dring ..dring....


Dring...dring..dring....


15 panggilan tak terjawab.....


...****************...


🍒🍒🍒


Waiter mengantar minuman ke meja 07, di meja itu ada Ray dan Putu yang sedang menunggu Zia. Ray dengan rambut klimis, kaos hitam di padukan dengan celana jins pendek membuatnya terlihat tampan dan menarik, Sedangkan putu dengan kaos hijau toska, celana jins pendek lengkap dengan kacamata nya. Membuat nya terlihat kalem. Saling beradu wangi parfum, Putu yang memakai parfum vanila kesukaan Zia, berharap akan di lirik Zia ketimbang Ray.


Putu yang selama ini memiliki perasaan kepada zia selau tidak memiliki tempat di hatinya. Apalagi Zia sudah terlalu dekat dengan Ray. Selalu juga terpatahkan dengan kehadiran lelaki lain di hidup Zia.


Ray memecah lamunan putu, dengan bertepuk tangan.


" Hoy, ngelamun aja. Mikir apa sih? " tanya Ray menyelidik


" Mana lagi nih bocah" sambil melihat jam tangan hitam nya yang sudah menunjukkan pukul 17:30 wib.

__ADS_1


" Janji jam 5 " tambah nya memprotes keterlambatan Zia.


" Dah lah, palingan macet. " Jawab Putu santai sambil menyeruput kopi hangat nya.


Zia akhirnya datang, angin yang mendadak datang membuat rambut nya terbang dengan elok nya, menyibak mata nya. Ia tertunduk sambil memasang jam tangan nya. Ia melambai kepada Ray dan Putu di ujung sana.


" Sorry ya telat, jam tangan nya susah banget di pasang dari tadi"


"Siii...."


"Sini" kata Ray menyela omongan Putu. ia memasangkan jam tangan di tangan putih nya Zia.


Putu yang mengigit bibirnya yang tipis itu, menghela napas karena ucapan nya di serobot oleh Ray. Ia kembali menyeruput kopi nya dan meletakkan gelas dengan kasar hingga ada percikan air yang tumpah.


" Aishhhh," kata Putu , kaos nya terkena tumpahan kopi milik nya


" Haduh, Putu kok bisa sih. Mbak mbak


*memanggil salah seorang waiter yang lewat, tolong ambilkan tisu ya" kata Zia cemas


" Sini, aku lap in. Lo sih, ngapa sih? segala tumpah " omel Zia kepada Putu sembari mengelap kaos putu.


Putu tersenyum dan melirik Ray dan menaikan alis tebal nya itu.

__ADS_1


__ADS_2