Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 10


__ADS_3

Shan tengah berdiri mengamati Disti yang sibuk dengan pekerjaannya itu. Disti memang perancang busana handal dengan kemampuannya yang sudah tidak di ragukan lagi. Ia bisa saja membuka butik sendiri dan meninggalkan perusahaan saat namanya susah meroket. Tapi, Disti memilih untuk tetap tinggal dan membesarkan perusahaan ini bersama dengan suami dan sahabatnya ini.


Shan, Adrian dan Disti sudah bersahabat sejak sekolah menengah. Walaupun mereka terpisah karena melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda namun pada akhirnya mereka bisa bersama karena memiliki visi yang sama.


Disti dan Adrian sudah menikah selama dua tahun. Mereka memang sudah menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih cukup lama. Shan merupakan satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana perjalanan hubungan mereka hingga sekarang. Sebaliknya Disti dan Adrian tahu betul bagaimana kehidupan Shan. Hubungan asmaranya hingga masalah yang ia hadapi selama ini.


Disti menahan senyumannya karena menyadari kehadiran Shan yang mengamatinya. " Apa aku terlihat seksi saat bekerja?" celoteh Disti yang di barengi senyuman dari Shan.


" Ya. Kamu puas dengan jawabanku?"


" Tentu," ujar Disti bangga. " Lain kali bawalah gadis kecil yang sering kamu bicarakan itu."


" Untuk apa?"


" Tentu saja berkenalan, apa lagi yang kamu harapkan."


" Kamu pikir aku percaya."


" Aku tidak peduli."


" Aku tahu."


" Pokoknya aku tunggu kamu membawanya ke sini."


" Kenapa kamu tertarik dengannya?"


" Karena dia tidak tertarik denganmu, jadi aku ingin berteman dengannya."


" Ha.....kamu ini temanku atau bukan?"


Disti tertawa.


" Shan, apa kamu tahu berita Nada sudah menikah?"


" Ya, aku mendengarnya."


" Dia menikah dengan seorang pengusaha. Apa kamu tahu siapa pengusaha itu?"


" Ya, orang yang mengajak kerja sama dengan kita, Anthony, benarkan."


" Adrian sampai khawatir denganmu begitu tahu tentang berita itu."


" Aku tidak apa-apa, lagi pula kerja sama itu juga tidak akan terealisasi. Adrian juga menolak."


" Bukan karena masalah pribadi kan?"


" Apa kamu meragukan kami?"


" Sedikit."


" Baiklah nyonya Adrian."


Disti tak tahan menahan tawa karena ucapan Shan itu.


" Shan....aku serius mengenai itu. Bawalah dia ke sini."


" Apa kamu sedang bersekongkol dengan Papa?"


" Aku bukan bersekongkol dengan Om, aku serius."


" Aku tahu kalian menaruh perhatian dengan hubunganku. Tapi, aku juga tak ingin memaksa Anin. Papa juga mengenal Anin, dia tahu bagaimana anak itu."


" Tapi Shan...."


" Aku mengerti, lain kali aku akan mengenalkannya pada kalian."


" Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku hanya bisa menunggu kapan kamu membawanya."


" Oke."


" Tuan, ponsel Anda terus berdering," ucap Reno yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


" Kamu meninggalkan ponselmu lagi, dasar kebiasaan, ujar Disti geleng-geleng kepala.


" Aku lupa membawanya," ujar Shan meluruskan. " Halo Agni."


" Shan, kamu ada dimana sekarang?" tanya Agni dari ujung telepon.

__ADS_1


" Aku sedang ada di kantor. Memangnya ada apa?"


" Anin belum pulang dari tadi, padahal ini sudah mau magrib, dia tidak biasa begini. Teman-temannya tadi bilang kalau mereka tidak bersama hari ini. Ponsel Anin juga tidak aktif, sekeluarga jadi khawatir. Kami sedang mencarinya di kampus, apa bisa kamu membantu Shan."


" Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga."


" Terima kasih Shan."


" Ya."


" Ada apa Shan?" tanya Disti sesaat Shan menutup teleponnya.


" Anin belum pulang dari kampusnya, keluarganya khawatir."


" Anin, gadis kecilmu itu?"


" Ya."


" Pergilah Shan, mereka membutuhkanmu."


" Ya, aku pergi dulu Dis. Tolong beritahu Adrian mengenai pertemuan hari ini, dia saja yang memimpin."


" Oke."


" Reno, siapkan mobil."


" Baik Tuan."


Di perjalanan, Shan terus mencoba menghubungi ponsel Anin tapi tidak tersambung sama sekali. Ponselnya benar-benar tidak aktif.


Hujan pun sudah turun dengan derasnya hingga menghambat laju mobil mereka.


Agni terus memberi kabar pada Shan yang masih dalam perjalanan. Terakhir Anin terlihat di dalam perpustakaan, begitulah informasi yang Shan dapat dari sahabatnya itu.


" Tuan.'


" Ya."


" Bukankah itu Nona Anin."


Shan mendekati wanita yang tengah duduk di dalam halte bus itu. Ia tampak menggigil kedinginan, mengusap-usap tangannya agar tetap hangat.


" Anin..." Gadis itu tampak bingung mendengar suara seseorang memanggil namanya.


" Shan." Anin langsung menghambur memeluknya. Tubuhnya bergetar karena dinginnya malam ini.


" Kenapa kamu ada di sini? orang rumah mencarimu. Mereka khawatir karena kamu menghilang."


" Anin kecopetan, tas dan ponsel juga hilang. Tidak tahu harus bagaimana, Anin bingung Shan."


Shan menghela napasnya. Ia tak bisa memarahi gadis yang masih memeluknya ini.


" Sekarang Anin sudah aman, jangan takut lagi."


" Iya."


" Ayo kita pulang. Mereka pasti sangat khawatir."


" Hm, Anin kangen Bunda."


" Iya."


Shan pun membawa Anin ke dalam mobil. Di sepanjang jalan hujan tak kunjung reda.


Shan sudah memberi kabar kepada keluarga Anin. Mereka pun lega mendapat kabar kalau Anin baik-baik saja.


Anin terlihat memejamkan matanya. Shan tersenyum memandang wajah Anin yang tertidur itu. Perlahan Shan menaruh kepala Anin di pangkuannya agar ia nyaman saat tidur.


Gadis galak ini tiba-tiba seperti kucing yang sangat manis. Melihatnya ketakutan seperti tadi membuat Shan sesaat terkejut. Anin yang ia kenal selalu ceria, cerewet berubah seketika.


Shan mengelus lembut rambut panjangnya itu. Tak pernah terpikirkannya Anin akan bersamanya seperti ini. Ada kebahagiaan tersendiri menjadi orang pertama yang menemukannya. Ia bisa melihat sisi lain dari gadis yang ada di pangkuannya ini.


" Tuan, kita sudah sampai," ujar Reno memarkirkan mobilnya.


" Tolong buka kan pintunya."


" Tapi di luar masih gerimis Tuan."

__ADS_1


" Payungi saja kami, keluarganya pasti sangat khawatir."


" Baik Tuan."


Reno pun turun dengan payung di tangannya. Ia membuka pintu itu lalu perlahan Shan keluar dengan menggendong Anin.


Agni yang menunggu di depan pintu langsung histeris memanggil bunda dan ayah begitu melihat Shan dan Anin.


Bunda tak henti-hentinya mengucap syukur karena anak gadisnya ini baik-baik saja.


" Anin baik-baik saja tante. Dia hanya kelelahan," ucap Shan menenangkan tantenya itu.


" Iya nak terima kasih sudah menemukan Anin," ujar bunda berterima kasih. " Ayo Shan bawa Anin ke kamarnya."


" Iya Tante."


Shan pun membawanya ke kamar dan membaringkan Anin di tempat tidurnya. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Anin. Dinding bercat putih dan tak ada pernak-pernik berlebihan di dalam sini. Hanya ada beberapa poto yang menempel di dinding.


Ada satu poto yang sangat menarik perhatiannya. Frame poto yang berada di atas meja riasnya. Senyuman yang terukir begitu manis terlihat. Hingga Shan tak sadar ia ikut tersenyum melihat gadis itu.


" Apa yang kamu lihat Shan?" Suara Agni mengejutkan Shan yang langsung meletakkan frame poto itu.


" Kamu mengagetkan saja," protes Shan.


Agni hanya tersenyum menanggapi ucapan Shan itu.


" Terima kasih sudah menemukan Anin, Shan."


" Ya, lagi pula tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya kan."


" Iya, memang sudah seharusnya," ucap Agni tersenyum.


" Aku harus kembali ke kantor, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


" Apa harus seperti itu Shan. Pakaianmu juga basah, sekretarismu juga. Seharusnya kalian istirahat."


" Tadi aku meninggalkan pekerjaanku, tidak mungkin aku mengabaikannya lagi. Soal pakaian tidak perlu khawatir. Kami punya pakaian ganti."


" Oh begitu, baiklah Shan, berhati-hatilah."


" Oke. Selamat malam."


Shan pun meninggalkan kediaman keluarga Anin. Reno melirik tuannya dari spion, ia terlihat tak nyaman dengan pakaian yang sudah basah itu.


" Tuan, sebaiknya tuan istirahat saja."


" Tidak bisa, Adrian sudah menunggu di sana. Setelah sampai di sana gantilah pakaianmu juga."


" Baik Tuan."


Mobil yang di kendarai Reno itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak berselang lama mereka pun sampai di sana.


Di dalam kantornya, Adrian sudah menunggunya dengan beberapa dokumen yang tersusun rapi di atas meja.


" Shan apa kamu baik-baik saja?"


" Ya, hanya pakaianku saja yang basah. Aku akan menggantinya, tidak perlu khawatir."


" Apa kamu yakin dengan dokumen-dokumen ini?"


" Ya aku akan melihatnya sekarang juga."


" Kamu selalu saja memaksakan dirimu, Shan."


" Apa Disti sudah pulang?"


" Ya tadi aku sudah mengantarnya pulang. Dia juga marah padamu karena harus lembur. Seharusnya kamu menjaga kesehatan."


" Kamu atau Disti?"


" Disti lah."


" Baiklah aku percaya."


" Ini hasil dari pertemuan tadi, aku sudah membuat rangkumannya". Adrian memberikan sebuah dokumen padanya. Shan mengambilnya dan mulai mempelajari apa yang ada di dalam sana. Ia membuka lembar demi lembar dokumen itu.


Mereka tampak sibuk hingga tak terasa malam semakin larut.

__ADS_1


__ADS_2