
Sebelum magrib, Shan sudah mengantarkan Anin pulang ke rumah dengan selamat , karena itu adalah pesan bunda dan ayah Anin padanya.
Anin melambaikan tangannya sesaat Shan melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya. Ia pun berbalik memasuki rumah yang ternyata sudah ada tiga orang pengintai yang menunggunya. Anin memanyunkan bibirnya karena ulah dari tiga orang kesayangannya itu.
" Cie...yang lagi kasmaran," celetuk Agni.
" Apaan sih kak Agni, siapa juga yang kasmaran, sembarangan deh."
" Anin malu ya," goda Agni lagi.
Anin tak menggubris celetukan kakaknya itu dan bergegas memasuki kamar. Sejenak Anin merebahkan tubuhnya di atas kasur karena tubuhnya sudah lelah. Niatnya yang ingin memejamkan mata, langsung ia urungkan saat bunda sudah berteriak menyuruhnya mandi karena sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang.
" Iya bunda, Anin mandi."
Dengan sisa kekuatan yang lebih di dominasi kemalasan itu, Anin pun masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Tak lama azan magrib pun berkumandang, Anin yang sudah berpakaian setelah habis mandi ala kadarnya tadi bergegas mengambil wudu kemudian melaksanakan salat 3 rakaat.
--------
Cklekk....
Terdengar suara pintu perlahan terbuka.
" A...nin...." Suara yang terdengar bisik-bisik itu membuat Anin ingin sekali menggoda kakaknya ini. " Kok sepi."Agni kebingungan karena ia tak melihat Anin ada di kamarnya.
" Kak Agni!!!" Anin mengagetkan Agni dari balik pintu.
" Anin....!!!!" teriak Agni karena sudah mengagetkannya. " Kakak kaget, tahu !!"
" Ya salah kakak sendiri kenapa mengendap-endap kayak pencuri."
" Kakak pikir kamu masih salat."
" Anin sudah selesai. Kakak mau apa coba ke sini?"
" Memangnya kenapa? tidak boleh?"
" Ya boleh, tapi Anin punya firasat tidak enak kalau kakak sudah ke sini."
" Suudzon sama kakaknya."
" Biasanya kan gitu."
" Jahat ya Anin sama kakaknya." Anin malah cengengesan melihat kakaknya kesal. " Wih....ponsel baru tuh", oceh Agni begitu melihat ponsel Anin tergeletak di atas tempat tidur. " Dari Shan?"
" Iyalah, mana sanggup Anin beli yang kayak gitu."
" Sudah bilang terima kasih kan?"
" Sudahlah kakakku sayang. Memangnya Anin sejahat itu."
" Ya kamu kan ada aneh-anehnya, di luar nalar pikiran orang normal."
" Ya ampun adiknya di kata-katai."
__ADS_1
" Jadi gimana hubungan kamu sama Shan?"
" Gimana apanya sih kak."
" Belum ada benih-benih?"
" Benih apa?" Anin terlihat kaget dengan ucapan Agni yang menggantung itu.
" Maksud kakak benih cinta loh dek, jangan mikir yang aneh-aneh deh."
" Kakak sendiri yang bicaranya aneh, malah Anin yang di salahkan."
" Lalu?"
" Apanya kak."
" Di jawablah dek pertanyaan kakaknya tadi."
" Itu terus deh pertanyaannya, apa kakak tidak punya topik lain."
Agni menghela napasnya. " Kamu sudah punya pacar ya Nin?"
" Ha???" Anin terkejut bukan main dengan ucapan Agni itu. Entah dari mana kakaknya bisa berpikir kalau ia sudah memiliki seorang kekasih. " Kakak bicara apa sih."
" Bimo bilang pernah lihat kamu jalan sama cowok."
" Ya tiap hari Anin jalan sama cowok."
" Bukan dua orang itu Nin, cowok yang lain."
" Ya cuma teman kali kak, Anin masih betah kayak gini."
" Ihh kak Agni ngomongnya kok gitu."
" Habis Anin bikin kakak kesal."
" Anin salah apa kak? Lagi pula Anin belum kenal Shan kayak kakak kenal dia. Anin juga tidak tahu kehidupan dia. Memutuskan suatu hubungan dengan seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan kakakku sayang."
" Wah....". Agni terkesima dengan ucapan adiknya itu. " Sejak kapan kamu sebijak ini menanggapi sebuah hubungan?"
" Sejak Anin melihat hubungan teman-teman Anin yang kadang galaunya bikin Anin pusing."
" Ya ampun jadi gara-gara itu ya?" Anin mengangguk. " Kakak pikir, adik kakak sudah setingkat lebih cerdas.'
" Ihh...kak Agni!!!" Agni tertawa puas melihat reaksi adiknya yang kesal itu. " Sudah deh sana keluar, Anin lagi banyak tugas, jangan ganggu Anin lagi."
" Kakak di usir nih?"
" Iya lah."
" Ya sudah. Selamat mengerjakan tugas nyonya Shan."
" Iih kakak!!!!"
Agni dengan langkah seribunya meninggalkan Anin yang sudah sangat kesal padanya karena terus di goda dengan selalu mengaitkannya dengan Shan.
__ADS_1
" Sebal lihat kak Agni." Ia terus mengomel sambil membuka laptopnya. " Untung tugas sudah di cicil dari kemarin kalau tidak bakalan kena omel besok sama pak Kemal."
Jari jemari Anin dengan lenturnya mengutak atik laptopnya sambil mendengarkan alunan musik yang berasal dari ponsel barunya itu. Sesekali bibirnya bergerak mengikuti lirik lagu kesukaannya itu.
Sementara referensi buku yang ia pakai sudah berserakan di atas tempat tidurnya. Kalau tidak berantakan rasanya ia tidak akan puas, seperti ada yang kurang. Kurang terlihat kalau ia sedang sibuk.
Suara alunan musik itu tiba-tiba mengecil karena sebuah pesan yang masuk. Anin memandangi ponselnya ini, melihat siapakah gerangan yang mengirimkan pesan untuknya.
" Shan," ucapnya saat mengetahui nama sang pengirim.
Hai Nin
Hai
Belum tidur?
Belum, Anin masih berkutat sama tugas, besok mau di kumpul. Jadi, kayaknya Anin bakalan bergadang. Shan belum tidur juga?
Belum juga, masih sibuk sama kerjaan kantor
Oh begitu
Tugasnya seperti apa? biar Shan bantu supaya Anin jangan bergadang
Tidak apa-apa, Anin bisa kok, malah merepotkan nanti. Shan juga masih sibuk sama kerjaan kantor, kan?
Iya, tapi kalau Anin tidurnya kemalaman, besoknya malah kesiangan bangunnya
Tenang saja ada alarm alami kok yang bakalan banguni Anin. Malah lebih ampuh ketimbang alarm yang ada di dunia ini
Alarm alami????
Iya, suara teriakan bunda 😁
😂😂 Dasar kamu Nin, kalau bunda tahu dia bisa marah loh
Ya jangan di bilanglah, Shan gimana sih
Iya...iya oke
Ya sudah ya Shan, Anin mau lanjut kerjain tugas biar lebih fokus
Oke, kalau bisa jangan terlalu malam istirahatnya
Anin usahakan, bye Shan
Bye...
Anin menghela napasnya sesaat mengakhiri membalas pesan dari Shan. Sebenarnya ini untuk pertama kalinya mereka saling membalas pesan, padahal Shan dan Anin sudah memiliki nomor ponsel masing-masing sejak Agni tunangan. Itu pun penuh drama untuk mendapatkan nomor ponsel cinderella satu ini. Kalau tidak ada campur tangan bunda, Shan tidak akan mendapatkan nomor ponselnya itu.
Anin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Ia terlihat serius menatap layar laptopnya itu. Anin berusaha agar bisa menyelesaikan tugasnya tidak lebih dari jam 12 malam.
Sesekali ia menutup mulutnya karena menguap. Ia sebenarnya sudah sangat mengantuk, terlebih ia sudah beberapa jam di luar rumah bersama dengan Shan, tentu saja ia sudah sangat lelah.
" Ahhh....akhirnya selesai juga," ujarnya sambil merenggangkan tubuhnya yang sudah kaku itu.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat sedikit, walaupun melewati target awal tapi setidaknya ia tidak harus tidur lebih malam.
Anin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama-sama dengan bukunya yang masih berserakan. Ia tak peduli lagi dengan buku-buku itu karena baginya merebahkan tubuh dan memejamkan mata adalah prioritas utama saat ini.