
Langit sudah berubah gelap saat Shan sampai di rumah. Ia memasuki rumah yang terlihat sepi itu . Terlihat Tuan Adi baru saja selesai makan malam. Shan mendekati Papanya itu dan duduk di dekatnya.
“ Papa sudah selesai makan?”
“ Sudah. Apa kamu mau makan? Biar Papa suruh Bi Ani siapkan untuk kamu.”
“ Tidak Pa,” ujarnya menggelengkan kepala. “ Shan masih kenyang.”
“ Apa pekerjaanmu berjalan lancar?”
“ Iya Pa.” Shan mengambil segelas air yang ada di atas meja lalu meneguknya. “ Apa tadi Papa makan sendiri?”
“ Iya, Anin sedang tidak enak badan.”
“ Ha?” Shan terperanjat. “ Anin sakit Pa?”
“ Kenapa malah Papa yang di tanya. Seharusnya Papa yang bertanya kenapa Anin tadi pulang sendiri.”
“ Tadi Shan masih ada hal yang harus diselesaikan.”
“ Sepenting apa Shan, sampai istri harus ditinggal.”
“ Itu..." Shan diam terdiam sejenak. " Tadi Shan bertemu dengan Nada, Pa."
“ Nada?”
“ Iya Pa.”
“ Pantas saja tadi waktu pulang wajah istrimu itu terlihat sedih. Tersenyum saja ia paksakan, ternyata kamu bertemu dengan Nada, pasti Anin tahu kan?”
“ Iya Pa, tadi Anin melihat kami.”
“ Shan, siapa sebenarnya wanita yang harus kamu dahulu kan? Anin atau Nada?”
“ Tentu Anin, Pa. Tapi, saat itu Nada mendesak ingin berbicara. Dia juga terlihat sangat tidak baik. ”
“ Apa lagi yang ingin Nada bicarakan? hubungan kalian sudah berakhir, kalau suaminya melihat kalian, akan tidak baik, Nak”
“ Shan tahu, Pa. Nada hanya membicarakan tentang masalah keluarganya. Suaminya berselingkuh dan sekarang ini Nada sedang hamil.”
“ Suaminya berselingkuh?”
“ Iya Pa.”
__ADS_1
“ Kenapa nasibnya jadi tidak baik seperti itu.”
“ Makanya Shan memberinya kesempatan untuk bicara. Paling tidak apa yang menjadi kekhawatirannya dapat ia keluarkan sehingga ia bisa sedikit lebih tenang.”
“ Papa mengerti, tapi bagaimana dengan perasaan Anin.”
“ Shan akan menjelaskan pada Anin, Pa. Apa pun yang terjadi nanti, Shan akan menghadapinya.”
“ Kalau begitu segera temui Anin, jelaskan padanya, jangan ada kesalah pahaman diantara kalian. Kalau Anin belum bisa menerima, kamu harus bersabar sampai ia mengerti.”
“ Iya Pa. Kalau begitu Shan temui Anin dulu.”
“ Iya, pergilah.”
Shan meninggalkan Tuan Adi yang masih menikmati teh hangatnya.
Shan sebenarnya agak khawatir dengan respon yang Anin berikan padanya nanti. Jika mengingat kembali bagaimana tatapannya saat itu, Shan semakin bersalah padanya. Apalagi saat Shan mengirim pesan padanya, tak ada jawaban darinya. Anin pasti sangat kecewa dengannya saat ini.
Shan membuka pintu kamar, terlihat Anin sedang berbaring diatas tempat tidur. Perlahan ia menghampiri istrinya itu. Menaiki tempat tidur dimana Anin berada.
Anin membaringkan tubuhnya kesamping. Shan tahu Anin tak benar-benar tidur.
“ Anin, mari kita bicara,” ujarnya sambil melihat reaksi dari Anin. Namun, Anin tak bergeming bahkan tak memberi respon apa pun. “ Apa kamu marah padaku?”
Shan pun memilih duduk di samping Anin yang masih diam membisu.
“ Wanita itu bernama Nada, dia adalah wanita dari masa laluku. Kamu juga pernah mendengar tentangnya kan?”
“ Dia menemuiku karena ingin berbicara denganku. Beberapa kali ia menghubungiku, tapi aku menolak untuk bertemu. Pada hari kamu melihatku dan Nada, aku tidak tahu kalau dia akan menemukanku disana.’
“ Aku bukannya tidak berusaha untuk menghindarinya, bukan karena aku masih ada perasaan padanya, tapi aku merasa tidak ada yang harus kami bicarakan lagi, terlebih masalah kehidupannya. Namun, melihatnya bersikeras memohon padaku, aku tidak bisa menolaknya.”
“ Suaminya berselingkuh dan kami mengenal siapa wanita yang bersama dengan suaminya itu. Nada sangat depresi dengan kenyataan yang harus dihadapinya, terlebih dengan wanita yang bersama dengan suaminya. Ia bisa saja meninggalkan suaminya, namun bayi yang ada dikandungannya membuatnya tak bisa berpikiran seperti itu.”
“ Nada sangat bingung harus bagaimana. Apa harus memberitahu suaminya atau memilih merawat anaknya seorang diri. Maka dari itu, ia butuh teman untuk bercerita.”
“ Apa dia akan meninggalkan suaminya?” Akhirnya Anin memberikan respon dari balik selimutnya.
“ Aku tidak tahu, tapi aku sudah memberi saran padanya untuk memberitahu tentang kehamilannya. Suaminya punya hak untuk tahu tentang anaknya. Selanjutnya hanya dia yang tahu apa yang terbaik untuknya.”
“ Hm..”
“ Masih marah padaku?”
__ADS_1
“ Hm.”
“ Anin..”
“ Kenapa harus kamu, Shan. Apa dia tidak memiliki teman untuk bercerita selain dirimu?”
“ Aku tidak tahu, mungkin karena kebiasaan dulu yang masih ia ingat. Nada adalah sahabat Disti, tapi untuk mencurahkan segala kegundahannya, hanya aku yang bisa membuatnya nyaman.”
“ Begitu?”
“ Anin jangan salah paham. Aku tidak punya perasaan apa pun lagi padanya. Hari ini aku bersamanya, murni karena ingin membantunya saja, tidak ada yang lain selain itu.”
“ Hm.”
“ Tidak ingin melihatku?”
Anin terdiam.
“ Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu mau menerimaku lagi.”
Shan pun beranjak dari tempat tidur. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sesaat ia menoleh ke belakang, melihat apakah Anin berubah pikiran, namun harapan tinggallah harapan. Anin masih dalam posisi yang sama dan tidak merubah posisinya sedikit pun.
Shan menghembuskan napas panjang saat berada di depan kamar. Anin benar-benar marah padanya, namun ia pun tak ingin memaksakan kehendaknya. Yang Shan ingin Anin benar-benar memahami dengan sendirinya tentang penjelasannya barusan.
Malam ini ia pun harus menghabiskan waktunya sendiri di ruangan kerja. Tak ada Anin disampingnya, membuatnya kesepian. Kali ini ia harus tidur tanpa Anin di ruangan ini. Suasana yang tidak di sukainya.
“ Inikah yang kamu harapkan Shan, “ gumamnya.
-----
Anin menatap Shan yang tengah tidur di atas sofa. Memandangi wajah suaminya saat tertidur lelap. Shan terlihat sangat tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Sebenarnya Anin sangat kasihan dengan Shan yang harus tidur di tempat ini, namun masih ada rasa kecewa yang Anin rasakan.
“ Aku benar-benar marah dan kecewa padamu.” Suara Anin terdengar parau. “ Bukankah kamu yang menyuruhku untuk menunggu? Lalu saat aku menunggu, kamu menyuruhku untuk menemuimu. Di saat aku menemuimu, kamu malah menyuruhku untuk pergi. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, melihatmu bersama dengan wanita yang pernah berarti di dalam hidupmu?”
“ Aku takut. Takut kalau kamu akan pergi meninggalkanku. Aku terdengar tidak mempercayai suami sendiri kan? Aku juga tidak mengerti. Yang ada dipikiranku, kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku? Apa dia belum bisa kamu lupakan, Shan?”
Anin masih memandang Shan yang tertidur. Ia pun tersenyum menyeringai.
“ Lagi pula kenapa juga aku marah. Hubungan kita hanya sebatas ini saja kan. Ya, seharusnya aku tidak boleh marah. Aku... bodoh sekali kan. Istrimu ini masih sangat kekanakkan.”
Anin pun beranjak meninggalkan Shan di sana.
“ Selamat malam Shan, tidurlah dengan nyenyak.”
__ADS_1