Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 18


__ADS_3

Anin tampak gugup saat sudah berada di dalam ruangan Shan berada. Ia hanya menunduk sambil memainkan tangannya, tampak guratan kegelisahan dari bahasa tubuhnya itu. Padahal beberapa menit yang lalu nyalinya begitu membara, namun seketika ciut, begitu berhadapan dengan Shan.


Shan melirik Anin yang tak mulai bicara sejak ia duduk tadi. Sudah lima belas menit waktu yang mereka habiskan hanya untuk diam tak bersuara.


" Kenapa diam saja, bukankah kamu mau berbicara denganku?" celetuk Shan mengawali pembicaraan. " Bicaralah, bukankah itu tujuanmu datang kesini."


" Soal..." Anin tiba-tiba terdiam sejenak. Ia mencoba menenangkan dirinya.


" Soal pernikahan?" tebak Shan kemudian. Tebakannya itu memang tepat sasaran. Anin memang ingin mempertanyakan soal kejadian kemarin.


" Kalau kamu sudah tahu, tolong klarifikasi," ujar Anin menatapnya tajam.


" Klarifikasi?" Shan menekankan kata-kata Anin itu. " Apa yang harus aku klarifikasi? semua sudah jelas malam itu, bahwa aku akan menikahimu, Anindira Maheswari."


" Apa??" Keterkejutan Anin tak terbendung karena dengan mudahnya Shan mengucapkan kata-kata itu. " Aku tidak salah dengar, kan?"


" Tidak."


" Tapi...." Anin tak dapat melanjutkan ucapannya. Ingin sekali ia mencecar Shan dengan pertanyaan tentang wanita yang menjadi perdebatan mereka semalam.


" Apa yang membuatmu meragukan keseriusanku?" Sorot mata Shan berubah tajam saat mengeluarkan pertanyaan itu. Tak pernah Anin melihat wajah Shan yang begitu serius ini.


" Mentari". Terucap juga dari bibir Anin nama wanita itu. " Kalian bertengkar karena wanita itu lalu kamu tiba-tiba mengatakan akan menikah denganku. Apa kamu pikir aku ini hanya pelampiasan saja. Kalau kamu menyukainya, kenapa tidak berjuang saja mendapatkan restu dari Om."


" Siapa bilang aku menyukainya? Apa malam itu ada kata-kataku menyinggung soal itu?"


" Lalu kenapa kamu dan Om harus bertengkar karena wanita itu. Apa itu bukan sebuah bukti kalau kalian punya hubungan."


" Ha...." Shan menghela napas panjang. Sekali lagi gadis yang ada di hadapannya ini selalu membuat kesimpulannya sendiri yang terkadang membuatnya frustasi. " Anin... berhentilah. Bisakah kamu tidak membuat kesimpulan sendiri. Pada intinya kamu tidak ingin menikah denganku, kan?"


Deg!!


" Aku mengerti, kamu masih muda dan ingin menikmati masa muda mu. Tapi, sekali ini saja aku memohon padamu, bantu aku. Aku hanya punya satu orang tua dan saat ini sedang terbaring sakit. Aku hanya ingin melihatnya bahagia melihatku menikah, walaupun pernikahan ini terkesan terpaksa, aku tidak masalah sama sekali."


" Aku masih kekanakan, sering membuat orang kesal, tidak bisa memasak, hanya bisa menyusahkan. Apa tidak masalah untukmu?"


Shan tersenyum kecil.


" Tidak masalah," jawab Shan dengan tegas.


" Baiklah, aku punya tiga persyaratan untukmu."


" Katakan."


" Pertama, izinkan aku tetap kuliah."


" Oke."

__ADS_1


" Kedua, izinkan aku tetap bermain dengan teman-temanku."


" Oke."


" Ketiga, tidak ada....tidak ada..." Anin tampak gugup tak melanjutkan ucapannya dan hanya menundukkan kepalanya.


" Tidak ada hubungan suami-istri, itu maksudmu?" celetuk Shan yang membuat Anin sontak kaget. Anin menganggukkan kepalanya pelan tanpa melihat ke arah Shan. " Kenapa?"


" Jangan tanya lagi, aku tidak tahu harus menjawab apa," kilahnya tak ingin menjawab pertanyaan Shan.


" Terserah padamu saja," ujar Shan yang sebenarnya tak menjawab permintaan Anin yang terakhir tadi. " Agni dan Bimo akan menikah tak kurang dua minggu lagi, jadi kita akan menikah di hari itu juga."


" Kenapa secepat itu?"


" Tidak mungkin kita menunda lebih lama lagi, kita tidak tahu kondisi Papa selanjutnya. Lebih cepat lebih baik, tidak baik menunda niat baik."


" Baiklah, aku mengerti," ujar Anin pada akhirnya.


" Shan!" Terdengar suara wanita berteriak memanggil namanya. Anin dan Shan tampak kaget dengan kedatangan orang itu. " Anin," ujarnya memeluk Anin begitu melihat gadis yang tengah duduk itu.


" Kak Disti."


" Sedang apa kamu di sini?" tanyanya penuh semangat.


" Itu...." Anin melirik ke arah Shan lalu tersenyum pada Disti.


Anin mengangguk.


" Lalu kesimpulannya apa?"


" Kami akan menikah di hari yang sama dengan pernikahan kakaknya Anin," ujar Shan yang membuat Disti sedikit terkejut.


" Benarkah?" Disti memandang Anin berharap akan mendapat jawaban darinya. Anin mengangguk pasrah. " Wah....". Disti memeluk Anin senang. " Apa kamu di paksa oleh pria itu," tunjuk Disti yang tentu saja membuat Shan terkejut.


" Hei!!! Apa aku ini seperti penjahat di mata kalian," protes Shan.


" Ya," ujar Disti yang membuat Shan tak bergeming. " Dengarkan aku, kalau Shan berbuat jahat padamu, bilang saja padaku, aku akan membuat perhitungan dengannya, mengerti!"


" I....iya kak, aku mengerti."


Shan hanya menghela napas melihat tingkah sahabatnya ini. Ia tampak gembira begitu mendengar Anin akan menikah tapi di sisi lain ia malah sinis padanya. Shan memang sudah terbiasa dengan sikapnya yang aneh ini, ia juga tak bisa mengatakan apa-apa lagi kalau Disti sudah mengeluarkan suaranya.


Disti tertawa bahagia begitu mendapatkan izin membawa Anin bersamanya. Baginya Anin adalah aset berharga, model yang sudah ia patenkan untuk memakai rancangan terbarunya nanti.


Ia sudah terpikat pada pandangan pertama dengan gadis manis itu. Ia berpikir kalau Anin beda dengan model yang selama ini bekerja sama dengannya apalagi dengan wanita yang paling di hindari nya untuk bertemu yaitu Mentari. Ia tak menyukai wanita yang sudah berpengalaman dalam bidang model itu. Segala sesuatu padanya, tak satu pun ia suka.


" Kak Disti...." Anin terlihat ragu untuk keluar dari ruang ganti pakaian. " Apa bagus?" tanyanya tak percaya diri memakai pakaian yang Disti berikan padanya.

__ADS_1


" Sempurna", jawabnya tersenyum.


" Benarkah?"


" Tentu, untuk apa aku berbohong."


" Soalnya Anin takut mengecewakan kakak."


" Bagus kok," ujarnya yang membuat Anin menyunggingkan senyuman.


" Terima kasih kak."


" Anin ..."


" Ya, kak."


" Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


" Tentu."


" Apa kamu yakin menikah dengan Shan. Aku tahu kedatanganmu kesini bukan sekedar menyetujui pernyataannya semalam. Pasti ada sesuatu kan yang membuatmu ragu."


Sejenak Anin terdiam, ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan Disti yang tiba-tiba itu. Baginya menikah dengan Shan hanya untuk membahagiakan orang tua. Mengenai perasaan, ia tak yakin apa memiliki rasa pada pria itu.


" Anin....," panggil Disti karena melihat Anin melamun. " Kalau tidak mau cerita, ya sudah tidak apa-apa, jangan melamun begitu."


" Ah, maaf kak," ujar Anin kaku.


" Ya sudah."


" Kak, apa Shan bisa Anin percaya?"


Disti tersenyum begitu mendapatkan pertanyaan itu dari bibir Anin. " Apa kamu ragu padanya?" Anin mengangguk pelan. " Kenapa?''


" Mentari."


" Mentari.... , Shan dan Mentari tidak mempunyai hubungan apa-apa. Kalau kamu mau tahu kenapa Om dan Shan bertengkar malam itu, semua itu karena Om tidak menyukainya. Mentari selalu membuat masalah buat Shan, sampai pernah menemui Om dan membuat keributan. Maka dari itu, Om menekankan pada Shan seperti apa hubungan mereka karena selama ini Shan selalu membantunya."


" Apa mungkin Shan menyukainya."


" Tidak."


" Tidak?"


" Shan tidak pernah menyukainya. Kamu tahu pasti siapa yang di sukai Shan, hingga dia terang-terangan menyatakan hal yang penting pada malam itu."


Anin terdiam mendengar pernyataan Disti itu, karena ucapannya itu Anin tahu pasti jawabannya.

__ADS_1


" Aku."


__ADS_2