Ketika Cinta

Ketika Cinta
Bab 36


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Anin dan Shan menemui sang Papa di ruang keluarga. Terlihat Tuan Adi tengah membaca sebuah buku. Ia sangat fokus dengan bacaannya sampai tidak menyadari kehadiran kedua anaknya.


“ Papa serius sekali,” seru Shan menghampiri Papa nya itu. Ia dan Anin duduk tepat di dekatnya. Tuan Adi menyunggingkan senyuman karena melihat mereka yang semakin dekat.


“ Ada apa Shan, Anin? Sepertinya serius sekali.”


“ Pa, Shan ingin mengatakan sesuatu.”


“ Apa itu? Katakan saja, Nak.”


“ Shan dan Anin sudah membicarakan hal itu. Kami sedang berusaha memahami situasi kami sekarang ini, memang tidak mudah Pa, tapi inilah proses yang harus kami lalui. Masalah pasti akan datang, namun bagaimana kami menyelesaikannya, mudah-mudahan kami bisa melewatinya. “


“ Iya, Pa. Anin sudah tahu apa yang Papa katakan tadi pagi. Anin mengerti kenapa Papa menguji kami dengan pertanyaan seperti itu. Memang tidak akan mudah bagi kami menjalaninya, tapi kami akan berusaha untuk tetap bersama apa pun yang akan terjadi nanti. Bukan sebuah janji, namun ikatan ini memang harus di jaga sampai kapan pun.”


Tuan Adi sedikit terkejut dengan ucapan kedua anaknya ini. Entah bagaimana ia harus mengekspresikan kebahagiaannya melihat anak dan menantunya ini bisa satu tujuan.


“ Papa turut senang kalian bisa bersama. Orang tua seperti kami hanya menginginkan kebahagiaan anak-anaknya. Papa minta maaf karena membuat kalian jadi berpikir keras, Papa sempat khawatir kalau sampai kalian bertengkar. Ternyata syukurlah kalian malah semakin dekat seperti ini. “


“ Papa tidak perlu khawatir lagi, Shan dan Anin pasti baik-baik saja.”


“ Ya, Papa percaya pada kalian,” ujar Tuan Adi.


“ Pa , kami mau meminta ijin pada Papa. Shan dan Anin akan pergi berbulan madu, kapannya belum pasti, tapi kami pasti akan pergi secepat mungkin.”


“ Kalian mau pergi kemana?”


“ Norwegia, Swiss.”


“ Eropa, tempat yang bagus. Kalian bersenang-senanglah di sana. Jangan pikirkan siapa yang akan menjaga Papa, ada Mama dan Papa nya Anin. Cepatlah kalian pergi, nikmati liburan kalian.”


“ Iya Pa, Shan akan urus secepat mungkin.”


“ Ya sudah, Papa mau istirahat, kalian juga istirahat sana.”


“ Biar Anin bantu Papa.”


“ Tidak sayang, Papa bisa sendiri. Kalau mau bantu Papa, berikan Papa seorang cucu secepatnya. Papa sudah tidak sabar menjadi seorang kakek.”


“ Iya Pa,” ujar Anin terbata.


“ Sudah-sudah kalian ke kamar, istirahat.”


Shan dan Anin pun mengangguk.

__ADS_1


Tuan Adi pun berjalan menuju kamarnya. Anin yang sempat terkejut mendengar permintaan sang mertua, jadi terdiam mematung. Shan berdiri di belakangnya segera menyadarkan sang istri dari lamunannya. Ia tahu apa yang sedang di pikirkannya.


“ Tidak usah di pikirkan ucapan Papa tadi. Jangan jadikan beban.”


“ Tapi, bukankah itu impian setiap orang tua, menjadi seorang kakek dan nenek.” Ia memandangi perutnya. “ Apa Anin akan hamil?” tanyanya yang membuat Shan malah terkaget.


“ Ha?”


“ Shan ingin anak laki-laki atau perempuan?”


“ Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya memeriksa dahi sang istri. “ Tidak panas, tapi kenapa bicaramu jadi aneh.”


“ Anin sehat!” ujarnya memukul Shan. “ Dasar! Padahal tadi Anin sudah beri kesempatan, tapi Shan malah begitu.”


“ Ha? Jadi tadi Anin....”


“ Kesempatan sudah di tutup. Anin mau tidur.”


“ Anin!!” Shan mengejar Anin yang sudah berjalan terlebih dahulu. “ Kesempatan kan bisa datang dua kali, masa iya cuma sekali saja.”


Anin malah tersenyum senang karena mendengar suara rengek kan dari sang suami. Ini untuk pertama kalinya ia melihat Shan seperti itu. Ada kesenangan tersendiri melihat Shan seperti itu padanya, Anin merasa menjadi sangat dekat dengan sang suami.


------


Shan melirik ke samping, Anin masih terlelap tidur di sana. Ia segera mengecek ponselnya itu, sudah ada 2 kali panggilan tak terjawab.


Shan tak percaya dengan apa yang di lihatnya ini, nama Nada lah yang menghubunginya. Ia tak mengerti mengapa wanita itu tiba-tiba menghubunginya setelah bertahun lamanya.


Sekali lagi panggilan dari Nada kembali masuk, tapi Shan tidak memedulikannya dan hanya menatap layar itu. Sesaat kemudian Shan pun mematikan ponselnya dan kembali tidur memeluk sang istri.


------


Pagi pun menjelang. Anin dan Shan sudah bersiap untuk beraktifitas hari ini.


Shan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan masuk ketika Shan menghidupkan kembali ponselnya. Masih dengan nama yang sama dengan si penelepon semalam. Shan hanya menatap ponselnya tanpa membuka pesan yang masuk itu. Ia terlihat ragu untuk membukanya karena berpikir untuk apa orang tersebut menghubunginya bahkan mengirimkannya sebuah pesan.


“ Kenapa menatap ponselmu seperti itu?” Celetuk Anin heran melihat Shan hanya menatap layar ponselnya. “ Apa ponselmu rusak?”


“ Tidak, ponselku baik-baik saja.”


“ Lalu?”


“ Hanya sebuah pesan masuk, tapi aku ragu untuk membukanya.”

__ADS_1


“ Kenapa? Memangnya pesan dari siapa sampai kamu ragu untuk membacanya?”


“ Dari orang masa lalu.”


“ Wanita yang pergi meninggalkanmu itu?” Shan mengangguk. “ Kenapa dia mengirimkanmu pesan?”


“ Aku tidak tahu, aku sendiri merasa heran karena dia tiba-tiba menghubungiku padahal ia sudah lama menghilang.”


“ Bukalah, mungkin ada sesuatu yang dia ingin sampaikan.”


“ Tapi.”


“ Shan, dia tidak mungkin menghubungimu kalau tidak ada yang mendesak atau penting.”


“ Apa kamu tidak marah?”


“ Aku tidak akan marah kecuali kamu bermain di belakangku. Kalau sampai aku tahu, aku akan menghajarmu sampai babak belur, aku ini tidak main-main.”


Seketika Shan tertawa.


“ Aku mengerti, lagi pula mana mungkin aku berani.”


“ Baguslah,” ocehnya membanggakan diri. “ Ya sudah ayo pergi, nanti terlambat.”


“ Iya, turunlah dulu, nanti aku akan menyusul.”


“ Oke, jangan lama.”


“ Hm Iya.”


“ Shan.” Tiba-tiba Anin mengecup pipi suaminya. Shan terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Anin padanya. “ Cepatlah,” ujarnya berbisik lalu benar-benar pergi meninggalkannya.


“ Dasar.” Shan menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah sang istri yang menggemaskan.


Ia pun kembali menatap ponselnya dan memutuskan untuk membuka dan membaca pesannya itu.


Shan, ini aku Nada. Aku tidak tahu apa kamu masih menyimpan nomor ponselku atau tidak, tapi aku sedikit senang karena nomor ponselmu ini masih sama. Aku minta maaf sudah mengganggumu selarut ini dan tiba-tiba saja muncul setelah lama menghilang.


Aku tidak tahu harus berbicara dengan siapa lagi selain dengan dirimu karena sejak dulu aku merasa tenang setelah berbicara denganmu. Akhir-akhir ini banyak masalah yang menimpa diriku, rumah tanggaku perlahan hancur saat aku mengetahui kalau suamiku sedang berselingkuh. Aku tahu ini bukan urusanmu, tapi aku hanya ingin berbicara sedikit denganmu. Kalau kamu ada waktu, tolong hubungi aku dan kita bertemu kembali.


Shan menghela napasnya. Setidaknya ia merasa lega mengetahui kalau sang mantan pujaan hati baik-baik saja walaupun kehidupan pernikahannya sedang mengalami masalah. Ia tak mungkin merespons permintaan Nada tanpa persetujuan Anin, Shan tak ingin terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


Shan menatap poto pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Ia tak boleh memulai kalau tidak ingin terkena masalah.

__ADS_1


Pada akhirnya Shan pun mengabaikan pesan itu kemudian bergegas turun menemui Anin yang sudah menunggunya.


__ADS_2