
Langit sudah mulai berganti warna, namun orang yang di tunggu sejak tadi tak kunjung datang. Anin sangat khawatir dengan pertemuan Shan dan Anthony. Ia takut terjadi sesuatu di antara mereka. Terlebih ia pernah mendengar kalau Anthony orang yang sangat temperamental. Ter bayangkan sudah hal yang negatif di pikirannya.
Tak henti-hentinya Anin melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Ia sangat cemas karena Shan sama sekali belum memberinya kabar.
“ Nyonya, mau bibi buatkan sesuatu?” Anin terkejut mendengar suara Bi Ani yang tiba-tiba itu. “ Bibi lihat Nyonya dari tadi mondar-mandir di depan pintu, Nyonya seperti mengkhawatirkan sesuatu.”
“ Terima kasih Bi, tapi Anin tidak selera apa pun saat ini. Malam sudah semakin larut tapi Shan belum pulang juga.”
“ Sebentar lagi Tuan pasti sampai Nyonya.’’
“ Iya Bi, entah kenapa Anin jadi cemas.”
Sayup-sayup terdengar suara mobil yang sudah ia kenal dengan baik memasuki halaman rumah. Anin segera bangkit dari tempat duduknya lalu berlari menuju depan rumah. Bi Ani pun tersenyum lalu meninggalkan majikannya itu berdua saja.
Terlihat Shan keluar dari mobilnya. Anin begitu senang melihat suaminya itu. Sangkin senangnya, tanpa komando ia langsung memeluk Shan. Tak ayal Shan begitu terkejut dengan pelukan istrinya yang tiba-tiba ini.
Untuk pertama kalinya Shan mendapatkan pelukan dari Anin setelah sekian lamanya.
“ Kenapa lama sekali? Apa kamu tidak tahu aku menunggu dengan cemas di sini.” Anin mulai mengomel.
“ Maaf, sudah membuatmu khawatir.”
“ Lagian kenapa tidak menghubungiku, aku sangat takut terjadi sesuatu pada kalian di sana.”
“ Aku terburu-buru karena ingin segera bertemu denganmu. Tapi, aku malah membuatmu cemas.”
“ Shan...” Anin menghambur memeluknya kembali. “ Apa semua baik-baik saja.”
“ Hm, semua baik-baik saja.”
“ Apa Anthony.....”
“ Ssst...” Shan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Anin. “ Kita tidak usah membahas itu lagi. Aku sudah mengatakan semuanya padanya. Kita hanya bisa berusaha membantu tapi pada akhirnya merekalah yang menentukan.”
“ Baiklah.”
“ Oh ya, rencana bulan madu yang sudah kita rencanakan sudah selesai di urus. Seminggu lagi kita akan berangkat.”
“ Benarkah?”
__ADS_1
“ Hm,” angguknya.
Anin tersenyum.
“ Aku pikir kita tidak akan pernah pergi karena terlalu banyak yang terjadi di kehidupan kita akhir-akhir ini. “
“ Aku tidak mungkin melupakan rencana kita itu, lagi pula almarhum Papa sangat menginginkan kita pergi.”
“ Ya.” Anin langsung menunduk menatap perutnya. “ Aku juga menginginkannya.”
“ Ha?” Shan terkaget. “ Menginginkan apa?”
“ Ah, tidak. Aku hanya asal bicara saja.”
“ Oh.”
Anin tersenyum kecil.
“ Sudah larut malam, waktunya istirahat.”
“ Hm,” angguk Anin.
“ Aku ganti pakaian dulu, kamu berbaringlah duluan.”
“ Ya.”
Shan mendekatinya dan memandangi wajah damai sang istri yang sedang tertidur itu.
“ Dia pasti lelah menungguku tadi,” ujarnya tersenyum.
“ Anin, aku berharap tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita. Tetap seperti ini, bersama seperti ini. Kelak aku ingin menjadi orang tua seperti orang tua kita. “
“ Selamat malam, mimpi yang indah.”
*****
Shan terbangun dari tidurnya yang baru berjalan kurang lebih satu jam itu. Ia terbangun karena ponselnya yang terus berdering itu. Terpampang nama Reno di sana. Tak biasanya sekretarisnya itu menghubunginya di saat jam istirahatnya.
“ Reno, kamu tahu ini jam berapa?”
__ADS_1
“ Maaf Tuan sudah mengganggu jam istirahat Anda.”
“ Ya sudah, katakan ada apa?”
“ Saya mendapatkan kabar dari manajer Nona Mentari.”
“ Hm, lalu ada apa?”
“ Nona Mentari kecelakaan.”
“ Apa? Kecelakaan?”
“ Iya Tuan, tapi bukan itu masalah terbesarnya.”
“ Kamu ini bicara apa Reno! Kenapa berbelit-belit. Apa Mentari baik-baik saja atau lukanya parah?”
“ Hanya luka kecil Tuan, tapi ada seorang wanita paruh baya yang menyerangnya di rumah sakit ini.”
“ Ha?”
“ Sepertinya wanita ini adalah istri dari seorang pria yang pernah dekat dengan Nona.”
“ Astaga...kenapa jadi rumit begini.”
“ Tuan, apa yang harus saya lakukan?”
“ Tidak perlu melakukan apa pun, perhatikan saja apa yang terjadi di sana.”
“ Apa Tuan akan datang?”
“ Ya, aku akan datang bersama dengan Anin.”
“ Baik Tuan.”
Sambungan telepon itu pun putus. Anin yang terbangun dari tidurnya karena suara dari Shan yang sedang menelepon itu hanya menatapnya bingung.
“ Kamu akan ikut bersamaku, kan?” Anin mengangguk. “ Aku tidak ingin sendiri ke sana.”
“ Aku akan menemanimu.”
__ADS_1
“ Aku senang mendengarnya. Aku akan menyelesaikan ini secepatnya. Aku berharap Mentari bisa mengambil hikmah di balik semua ini. Ini mungkin hasil dari perbuatan yang ia lakukan selama ini.”
“ Aku juga berharap demikian.”