
Anin masih terbelalak tak percaya melihat pakaian yang berserakan di lantai. Badannya pun remuk redam karena pergumulan mereka semalam.
Perlahan ia menggerakkan tubuhnya meraih pakaian yang ada di dekatnya, namun Shan dengan cepat menariknya kembali ke dalam pelukannya.
" Shan, ini sudah pagi, nanti kita terlambat," ujar Anin berbisik. Tak ada respons dari Shan, ia sangat lelap dengan tidurnya. " Shan."
" Kita libur saja," ucapnya tiba-tiba dan semakin mempererat pelukannya.
" Ha?"
Terdengar sayup-sayup suara dari luar sana menyebut nama mereka berdua. Ketukan pintu pun terdengar. Anin yang panik membangunkan Shan yang masih memejamkan mata itu.
" Shan, bangun. Mereka mengetuk pintu kamar kita."
" Hm."
Anin mendecap karena Shan tak kunjung bangun.
" Shan, Anin!" Giliran ruang kerja ini yang mereka ketuk. Suara Tuan Adi terus memanggil nama mereka.
Shan pun membuka matanya.
" Itu Papa," ujar Anin berbisik.
" Pakaianku?" tanya Shan.
" Itu," tunjuknya.
Shan pun mengambil pakaian itu, lalu memakainya.
Ia melirik ke arah Anin yang malah memalingkan wajahnya. " Kenapa malah memalingkan wajahmu."
" Itu karena.. sudah jangan banyak tanya, Papa terus manggil itu."
" Iya."
" Shan, terus Anin kayak mana?"
" Balut saja dengan selimut, lalu cepat ke sini."
" Iya, baiklah." Anin pun cepat-cepat membalut tubuhnya dengan selimut lalu mendekati Shan yang akan membuka pintu. " Anin di belakang ya?"
" Hm."
Shan pun membuka pintu itu. Terlihat Papanya menghela napas begitu sang anak membuka pintu.
" Jadi kamu di sini?"
" Iya Pa."
" Lalu Anin di mana? Papa ketuk pintu kamar kalian tadi, tapi Anin tidak ada."
" Anin..." Shan menoleh ke belakang.
" Pa," sapa Anin dari balik punggung Shan. Mertuanya itu sontak kaget dengan kehadiran Anin di balik punggung Shan. Mata elangnya pun mendapatkan sesuatu yang sangat membahagiakannya.
__ADS_1
" Cepatlah kalian mandi dan berpakaian lalu turun untuk sarapan."
" Iya Pa," seru mereka.
Tuan adi pun tersenyum begitu meninggalkan mereka. Shan dan Anin hanya saling memandang bingung karena senyuman sang Papa.
Saat Anin berbalik, ia pun langsung paham kenapa Papanya itu tersenyum seperti itu. Ternyata pakaiannya masih tergeletak di sana. Kemungkinan Papanya melihat dan susah menyimpulkan sesuatu di pikirannya.
------
Sarapan pagi ini di temani keheningan tanpa suara sedikit pun. Mereka hanya menikmati makanan yang terhidang di atas meja.
Anin yang tak tahan dengan situasi ini pun berinisiatif membuka pembicaraan untuk memecah keheningan yang terasa canggung itu. " Pa, tadi Ayah telepon, katanya akan kesini siang nanti."
" Iya, tadi Papa juga di telepon Ayah kamu, mereka mau main kesini katanya," ujar Tuan Adi. " Oh ya, apa kalian sudah menyiapkan rencana bulan madu kalian?"
" Sudah Pa, Shan pelan-pelan menyiapkannya," jawabnya dan Anin pun menganggukkan kepalanya.
" Baguslah, lebih cepat lebih bagus. Tapi, pagi ini Papa juga sangat senang."
" Apa yang membuat Papa jadi sesenang ini?"
" Ya, mengetahui kalau nanti Papa akan jadi kakek."
Anin pun terbatuk karena tersedak makanannya sendiri. Shan segera memberinya air dan mengelus punggungnya.
" Kamu baik-baik saja?" Anin hanya mengangguk dan Tuan Adi malah tersenyum melihat tingkah anak-anaknya ini.
Jelas saja Anin terkaget karena ucapan mertuanya itu. Ia pun sudah memprediksi apa yang akan terjadi kalau orang tuanya ke sini, ia dan Shan pasti jadi bahan gosip terhangat mereka.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Shan karena Anin diam saja sejak tadi.
" Aku tidak apa-apa," jawabnya seadanya. " Fokus saja menyetir Pak sopir."
Shan tersenyum menyeringai. " Siap Nyonya," celetuknya yang membuat Anin jadi tertawa. " Begitu dong senyum, dari tadi cemberut terus, calon ibu tidak boleh cemberut."
" Is, Anin belum hamil. Masa iya bisa hamil secepat itu, baru juga semalam." Anin langsung menutup mulutnya karena ucapannya tidak terkontrol. Anin memalingkan wajahnya karena malu sedangkan Shan malah terkekeh mendengar ucapan polos istrinya.
Mobil yang melaju itu pun akhirnya berhenti di depan gerbang kampus. Anin membuka seatbelt yang melekat di dadanya lalu mengambil tas yang ia taruh di belakang kursi.
" Anin pamit Shan," ujarnya memandang Shan.
" Iya, belajar yang baik ya calon ibu."
" Siap, calon ayah."
Mereka pun tertawa karena candaan mereka itu.
" Anin, turun ya."
Shan mengangguk.
" Eh, tunggu." Anin pun berbalik dan tiba-tiba Shan mengecup dahinya. " Hati-hati."
" Iya."
__ADS_1
Anin pun turun dari mobil itu dengan senyuman yang masih merekah di bibirnya. Ia masih berdiri menunggu sampai mobil itu melaju meninggalkannya.
Ia terus memandang dan memegangi perutnya seakan di dalamnya ada si jabang bayi. " Ibu," ucapnya tersenyum.
Anin kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Seperti biasa sudah ada ketiga sahabatnya yang menyambutnya dengan senyuman.
" Wah, kayak ada yang beda sama kamu, Nin," celetuk Yogi yang membuat Anin bingung.
" Beda apa? biasa saja," jawabnya.
" Anin!" Tasya tiba-tiba memanggilnya dengan suara agak tinggi. Anin, Yogi dan Alex kaget seketika melihat Tasya seperti itu. " Ayo ikut sebentar," ujarnya menarik tangan Anin.
" Ada apaan sih Tas." Anin kebingungan dengan tingkahnya itu. Tapi, Tasya tidak mengatakan apa pun padanya.
Sampailah mereka di toilet kampus. Anin jadi tambah bingung kenapa Tasya membawanya ke toilet padahal dia sama sekali tidak ingin kesana.
" Kenapa kita kesini? kamu sakit perut?"
" Bukan," jawabnya. " Coba lihat sekitar leher kamu."
" Ha?" Anin pun memeriksa keadaan lehernya di kaca. Ia pun menyadari sesuatu yang membuatnya jadi malu. Sebuah tanda yang di berikan oleh Shan malah terlihat mencolok dan Anin tidak menyadarinya sama sekali. " Kenapa bisa begini," keluhnya mencoba menutupinya dengan rambut.
" Masa kamu tidak tahu sih."
" Mana mungkin aku tahu, Shan melakukannya..." Anin menutup mulutnya dan merutuki dirinya karena keceplosan. Tasya malah tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini.
" Sini, pakai foundation biar ke tutup," ujarnya mengambil benda itu di dalam tasnya. " Untung cuma aku yang lihat, kalau yang lain pada lihat, sudah jadi bahan ejekan kamu, Nin."
" Tasya, terima kasih," ucapnya memeluk Tasya.
" Is, Anin, apaan sih." Tasya malah geli sendiri mendapatkan pelukan mendadak dari Anin. " Memangnya sudah malam ke berapa?"
" Per-ta-ma," ujar Anin terbata.
" Ha? kamu baru kasih jatah pertama kali sama Kak Shan?" Anin mengangguk. " Gila kamu Nin, jahat banget sama suami sendiri. Untung Kak Shan sabar."
" Bukan gitu."
" Kalau aku jadi kamu, sudah aku kasih waktu menikah. Tapi, salut juga sama ketahanan Kak Shan." Tasya memandangi Anin. "Jangan gitu lagi, kalau nanti dia di sambar orang gimana coba."
" Tasya jangan gitu."
" Bisa takut juga, sudah jatuh cinta Neng."
" Entahlah."
" Is, dasar!"
" Sudah ayo ke kelas, nanti malah di kira kita telat."
" Iya ayo."
" Sudah tidak kelihatan lagi kan?" Anin menunjukkan bekas yang sudah tertutup itu.
" Iya."
__ADS_1