
Dengan kecepatan maksimum, Shan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit. Begitu mendengar berita Tuan Adi yang pingsan, Shan begitu mencemaskan keadaannya itu.
Terlihat Bi Ani, Pak Udin diluar sana. Mereka tampak terisak dan saling menguatkan. Shan masih berpikiran positif dengan tangisan dua orang paruh baya itu. Namun, saat mereka menghampirinya, Shan mulai goyah.
“ Tuan....” Bi Ani menunjuk kearah ruangan tempat Tuan Besarnya itu di rawat.
Shan menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin mempercayai apa yang menjadi biang kesedihan mereka. Ia melihat ke arah Papanya itu di rawat, sudah ada Reno, Disti dan Adrian berada di dalam sana. Mereka pun terlihat dengan sikap yang sama, menangis dengan tersedu, apalagi begitu melihat Shan.
“ Shan.....” Disti datang memeluknya. Ia menangis di pelukan sahabatnya itu, ia tak bisa menahan kesedihan yang mendalam kehilangan salah satu orang yang paling di sayanginya.
“ Kenapa menangis?” Pertanyaan itu tak sadar keluar dari bibir Shan. “ Apa ada yang membuatmu sedih?” Pertanyaan yang dilontarkannya itu malah membuat orang-orang disekitarnya bertambah sedih.
Shan pun tak kuasa menahan tangis begitu melihat kain putih yang menutupi seluruh tubuh sang Papa. Air mata itu meluncur dengan mulus di kedua pipinya. Ia tak menyangka akan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.
“ Papa.” Shan mendekati tubuh Tuan Adi yang sudah tidak bernyawa itu. “ Pa...”
“ Shan.” Adrian mencoba menenangkannya. “ Om pasti sudah tenang disana, ikhlaskan Shan...”
Ikhlas memang paling tepat untuknya saat ini. Walaupun kedengarannya mudah namun tak segampang itu menjalaninya. Shan tentu saja mengikhlaskan kepergiaan Papanya, tapi hati dan air matanya masih menyisakan kesedihan mendalam.
Jenazah Tuan Adi segera di bawa pulang setelah menyelesaikan beberapa prosedur. Di rumah sudah ada Anin dan keluarganya serta para pelayat yang telah mengetahui tentang berita itu. Shan turun dari ambulans dan Anin pun datang menghampiri dan memeluknya. Ia menangis di pelukan sang suami, tak menyangka kalau Papa mertuanya itu akan meninggalkannya begitu cepat.
Suara lantunan ayat suci Alquran berkumandang dari para pelayat untuk mendoakan Tuan Adi. Shan dan Anin duduk di hadapan jenazah dengan air mata yang masih mengalir. Para pelayat tak hentinya memberikan ucapan berbela sungkawa untuk mereka.
__ADS_1
Sorotan mata Shan menatap wajah Papanya untuk terakhir kali. Selama ini hanya Papanyalah satu-satunya keluarga yang ia punya setelah kematian Mamanya beberapa tahun yang lalu. Kini dengan kepergian sang Papa, ia tinggal seorang diri.
Pemakaman dilaksanakan hari ini juga. Shan dengan pandangan kosongnya masih menatap jenazah Tuan Adi. Tubuh yang sudah berbalut kain putih itu perlahan memasuki liang lahat yang sudah dipersiapkan. Satu demi satu tanah menutupi lubang tempat peristirahatan terakhir orang yang paling disayanginya itu.
Serangan jantung, begitulah dokter menyatakan penyebab kematian Tuan Adi. Saat sampai dirumah sakit nyawanya tidak dapat terselamatkan lagi. Tak ada yang tahu mengapa Papanya bisa sampai pingsan. Saat Pak Udin memanggil Tuannya itu di kamarnya, tak ada sahutan dari dalam sana. Pak Udin yang cemas lalu mendobrak pintu itu dan di dapatinya Tuannya tergeletak di lantai.
Pak Udin segera memanggil Bi Ani yang sedang bersih-bersih. Syukurnya pada saat itu ada Reno di rumah karena memang ingin bertemu dengan Tuan Besarnya itu. Dengan cepat mereka membawa Tuan Adi ke rumah sakit, tapi memang takdir sudah berkata lain, Tuan Adi sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
“ Anin”, panggil Bunda. Anin pun menghampiri Bundanya yang memanggilnya itu.
“ Iya Bunda,” jawab Anin dengan wajah yang masih sembab.
“ Shan dimana?”
“ Di kamar Bun.”
“ Iya Bun,” ujarnya mengambil nampan yang berisi gelas dengan air yang terisi didalamnya dan piring yang berisi nasi dan beberapa lauk dari tangan Bundanya.
Memang sejak dari rumah sakit sampai selesai pemakaman, Shan tidak makan atau minum apa pun. Tak berselera, itulah yang ia katakan saat Bunda menyuruhnya untuk makan. Ia malah langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Kehilangan seseorang yang ia sayang membuatnya belum bisa berpikiran seperti biasanya. Ia hanya ingin sendiri dengan kenangan bersama dengan orang tuanya yang terkadang hadir di pikirannya.
Anin membuka pintu kamar perlahan, terlihat Shan masih terbaring di atas tempat tidur. Ia berjalan menuju ke arahnya, diletakkannya nampan itu di atas meja di dekat tempat tidur.
“ Shan....,” panggilnya lembut. Shan tidak menjawab apa pun dari panggilannya itu. Ia masih tak bergeming dari posisinya. “ Bangunlah, aku membawakanmu makanan. Sejak tadi kamu belum makan apa pun.”
__ADS_1
“ Letakkan saja, nanti akan aku makan,” ujarnya.Namun, Anin tak bergeming dari duduknya dan ia pun masih berada di samping Shan.
“ Shan..” Anin tak berhenti memanggil namanya. “ Shan...” Suaranya mulai terdengar lirih. Shan melihat ke arahnya dan langsung bangkit memeluk sang istri. Anin memeluknya balik dengan lebih erat.
Shan terdengar terisak. Suami yang ia kenal sangat kuat kini terlihat rapuh karena kehilangan Papa tercinta. Anin mengusap punggungnya lembut mencoba menenangkannya.
Shan sudah terlihat tenang. Anin mengambil piring yang ada di atas meja lalu menyendokkan nasi serta lauk ke dalamnya. “ Makanlah Shan.” Shan hanya menatapnya. “ Aku tahu saat ini kamu tidak berselera, tapi kumohon sedikit saja. Papa pasti tidak mau melihatmu dengan keadaan seperti ini. Kita harus kuat, Shan, itulah yang Papa inginkan.”
Akhirnya Shan pun luluh dengan ucapan Anin padanya. Ia membuka mulutnya menyambut makanan yang di sodorkan oleh Anin. Perlahan ia kunyah makanan itu walau susah.
Anin menatapnya sedih. Ia pun merasa sangat bersalah padanya karena sebelumnya sudah membuatnya marah dan kecewa. Tidak mempercayainya bahkan tidak mendengarkan ucapannya lagi.
“ Maafkan aku,” ujar Anin tiba-tiba. Shan menatapnya bingung.“ Aku malah bertengkar denganmu dan bahkan belum memberikan Papa kebahagian.”
Shan membelai lembut rambutnya. “ Jangan bicara seperti itu, bukankah tadi kamu bilang kalau Papa tidak mau melihat kita seperti ini, Papa ingin melihat kita kuat, benarkan?” Anin menganggukkan kepalanya. “ Bagaimana kalau kita keluar?”
“ Apa tidak apa-apa? Lebih baik kamu istirahat saja Shan.”
“ Tidak apa-apa. Akan lebih baik kalau aku keluar dan mencari angin. Lagi pula di luar masih ada tamu kan.”
Anin mengangguk.“ Baiklah, kalau itu mau kamu,” ujarnya. “ Ayo kita keluar.”
Shan dan Anin pun keluar dari kamar. Di bawah masih ada keluarga, teman dan beberapa pelayat. Shan menghampiri mereka dengan ketengaran yang ia punya. Anin merasa sedikit lega dengan kondisi suaminya yang berangsur membaik.
__ADS_1
Mereka sedikit terkejut dengan suara yang sedikit gaduh di luar sana. Nampak seorang wanita masuk ke dalam rumah. Ia melihat kesana kemari mencari seseorang yang ia cari. Tak lama ia menghampiri seorang pria lalu memeluknya.
“ Shan,” isaknya . “ Aku turut berduka cita atas meninggalnya Om Adi,” ujarnya. Shan langsung melepaskan pelukannya itu. Sedangkan Anin masih terdiam terpaku memandang mereka berdua dengan tatapan kebingungan.