
Shan menggenggam tangan Anin dan membawanya entah kemana. Anin hanya mengikuti langkah kaki Shan kemana pun ia membawanya. Senyuman terukir indah di bibirnya saat ini. Pria yang ada di hadapannya ini begitu nyata di hadapannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Padahal Shan sudah mempunyai rencana hari ini untuk bertemu dengan Anthony. Tapi, baginya berbaikan dengan Anin adalah prioritas yang paling penting. Tak ada yang bisa menghentikan niatnya ini.
“ Shan, aku tidak melakukan apa-apa!” teriak Anin yang membuat langkah mereka terhenti. “ Aku tidak peduli lagi mau kamu percaya padaku atau tidak. Tapi, aku tegaskan padamu, aku tidak melakukan apa pun padanya!”
“ Aku percaya!” Sontak Anin menatap Shan. “ Aku percaya padamu. Kamu bukan orang yang akan melakukan hal itu padanya. Sejak awal aku percaya padamu.”
Anin terbelalak.
“ Shan....”
“ Maafkan aku karena pernah mengucapkan hal yang tidak pantas padamu. Padahal aku yang dulu pernah mengatakan kalau akan menjaga hubungan kita, tapi aku pula yang ingin mengakhirinya. Membuatmu menangis, membuatmu seorang diri, aku benar-benar bukan suami yang baik.”
“ Shan, aku juga bukan istri yang baik. Meragukan kesetiaanmu, tidak menurutimu dan egois padamu. Aku minta maaf. Aku sungguh ingin memandang wajahmu seperti ini lagi. Aku sangat merindukanmu”
Shan sangat senang mendengar perkataan sang istri . Ia pun mendekati Anin lalu memeluknya.
“ Aku juga merindukanmu. Rindu suara tawamu, manjamu, marahmu, aku sangat merindukan itu semua.”
Anin begitu bahagia mendengar ucapan Shan itu. Ia pun mendekapnya erat.
“ Aku bertemu dengan Nada.”
Sontak Shan melepaskan pelukannya dan menatap Anin.
“ Kamu bertemu Nada?” Anin mengangguk. “ Bagaimana bisa?”
“ Dia datang ke rumah. Awalnya aku pikir Nada datang mencarimu ternyata dia datang untuk bertemu denganku.”
“ Kenapa dia mencarimu?”
“ Dia datang untuk menjelaskan apa yang terjadi pada kalian saat di kafe waktu itu. Dia juga menjelaskan kalau di antara kalian tidak ada hubungan apa pun lagi. Semuanya sama dengan penjelasanmu waktu itu. Hanya berteman tidak lebih dari itu.”
“ Itu memang benar. Seperti itu lah kenyataannya.”
“ Aku tahu.”
“ Lalu kenapa waktu itu aku merasa kamu meragukanku?”
“ Karena aku...tidak suka saat kamu bersama dengan wanita lain apalagi dengan wanita yang dulu pernah sangat kamu sayangi. Aku takut kalau kamu akan meninggalkanku.”
Shan tersenyum.
“ Kenapa kamu berpikiran seperti itu. Aku memang dulu sangat menyukainya tapi sekarang hanya kamu yang ada di hatiku.”
Anin menganggukkan kepalanya. “ Maaf Shan kalau aku bersikap seperti itu padamu.”
“ Sudahlah jangan mengingat hal itu lagi, sekarang kita membuka lembaran baru. Menorehkan setiap goresan kebahagiaan, ya, hanya kebahagiaan, tidak ada yang lain.”
“ Iya.”
“ Anin, aku harus bertemu Anthony hari ini.”
“ Anthony?”
“ Ya, sepertinya aku akan menyinggung Nada dan Mentari di pertemuan kali ini.”
__ADS_1
“ Apa itu tidak apa-apa? Bagaimana dengan perusahaan nanti?”
“ Tidak apa-apa, tidak akan ada yang terjadi nanti.”
“ Lakukan yang menurutmu benar. Aku akan mendukungmu.”
“ Terima kasih,” ucap Shan. “ Anin, maukah kamu menungguku? Aku akan segera pulang.”
“ Tentu, aku akan menunggumu.”
“ Terima kasih,” ujar Shan membelai lembut rambut Anin.
Setelah berpamitan dengan sang istri, Shan bergegas menemui Anthony di tempat yang sudah mereka sepakati. Shan memang berniat untuk bertemu dengannya, selain untuk membicarakan bisnis yang ditawarkan olehnya, di samping itu Shan akan menyinggung Nada kali ini padanya. Tak ada pilihan lain selain membantu Nada kali ini, ia tak ingin temannya itu menderita lebih dalam lagi.
“ Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ujar Shan begitu sampai di tempat tujuan. Anthony memang sudah tiba terlebih dahulu dari pada Shan.
“ Tidak apa-apa, aku juga baru saja sampai. Silakan duduk.”
“ Terima kasih.”
“ Bagaimana dengan pekerjaanmu? Berjalan lancar?”
“ Ya, biasa saja. “
“ Begitu?”
“ Hm.”
“ Baiklah.”
“ Karena aku tertarik dengan caramu menjalankan perusahaanmu, lagi pula kamu pasti menyadari bagaimana terkenalnya seorang Shan.”
“ Aku? Terkenal?”
“ Ya, apa kamu tidak tahu itu?”
“ Aku bahkan tidak tertarik.”
“ Benar-benar seorang Shan,” ujarnya. “ Baiklah, aku tidak akan berbasa basi lagi. Aku akan mengatakan hal yang ingin aku sampaikan padamu mengenai pertemuan kita ini. “
“ Silakan saja.”
“ Aku ingin bekerja sama denganmu, terutama bisnis fashion mu.”
“ Kamu tertarik dengan fashion atau dengan model di tempat kami.”
“ Bukankah itu dua hal yang tidak terpisahkan.”
“ Aku mengerti dengan maksudmu.”
“ Baguslah kalau kamu mengerti.”
“ Mentari.” Anthony sedikit terkejut dengan nama yang di sebutkan oleh Shan. “ Melihat reaksimu, sepertinya aku benar.”
“ Siapa yang tidak tertarik padanya, dia cantik dan seksi. Setiap pria akan senang bila bersama dengannya.”
“ Melebihi bersama dengan istrimu?”
__ADS_1
“ Apa maksud dari arah pembicaraanmu ini, Shan?”
“ Tidak ada, aku hanya asal bicara saja.”
“ Apa kamu sedang menginterogasiku?”
“ Apa kamu merasa seperti itu?”
“ Ini urusan pribadiku, tidak ada hubungannya denganmu.”
“ Tapi, kamu bermain-main dengan model di perusahaanku. Kalau skandal ini sampai naik ke permukaan, bukan hanya kamu yang merasakannya tapi juga perusahaanku. Aku sudah memperingatkan Mentari untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi, tapi sepertinya dia tidak mengindahkan peringatanku.”
“ Kamu mengancamku?”
" Aku bukan mengancammu tapi memperingatkanmu dengan siapa kamu sedang bermain api. Mentari tidak akan mendekatimu kalau ia merasa kamu tidak mempunyai keuntungan untuknya."
" Apa maksudmu?!"
" Kamu pasti sudah tahu track record seorang Mentari. Apa itu tidak bisa menjadikan sebuah peringatan untukmu?"
" Itu adalah masa lalunya dan urusannya."
" Lihatkan. Ternyata mengatakan ini dan itu padamu hanya buang-buang waktu saja karena pada akhirnya kamu tidak akan percaya padaku begitu saja."
" Shan, bisakah kita kembali ke topik awal."
" Aku menolaknya," tegas Shan.
" Berikan alasan kenapa kamu menolak."
" Karena sejak awal aku tidak tertarik menjalin kerja sama denganmu, apalagi kerja sama kali ini lebih kepada urusan pribadi. Kalau kamu ingin bersama dengannya, silakan saja, tapi jangan libatkan perusahaanku."
" Kamu menolaknya lagi. Sungguh sangat mengecewakan. Kamu menyia-nyiakan investasi besar ini."
" Tidak masalah." Shan segera berdiri dari tempat duduknya. " Aku permisi, maaf sudah mengecewakanmu," ujar Shan berlalu.
Sesaat Shan berhenti lalu membalikkan tubuhnya.
" Anthony apa kamu tahu?"
" Tahu apa?"
" Ini memang bukan urusanku tapi aku rasa, aku perlu mengatakannya. Nada yang merupakan istrimu adalah temanku. Dan saat ini dia tengah hamil."
" Apa?! hamil?"
" Tampaknya sampai detik ini Nada tidak memberitahukannya padamu. Bukan karena dia tak ingin tapi dia takut dengan reaksimu yang akan menolaknya. Dan lagi dia juga tahu hubunganmu dengan Mentari."
" Apa?"
" Kalau kamu ingin menyelamatkan pernikahanmu sebaiknya kamu cepat mencarinya, aku takut dia akan menghilang dari hidupmu."
Shan menatapnya tajam lalu beranjak pergi.
Dengan mengatakan hal itu, Shan merasa sangat lega. Memang keputusannya untuk membeberkan semua kepada Anthony sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk temannya itu.
Shan berharap akan ada kebahagian menyertai Nada kelak. Bagaimana pun Nada berhak mendapatkan kedamaian dalam hidupnya.
__ADS_1