
" Bagaimana makan siangnya? menyenangkan?" tanya sang suami mengenai makan siangnya bersama dengan dosennya tadi.
" Menyenangkan, aku suka makanannya, sangat enak," jawabnya.
" Benarkah? apa lain kali kita makan di tempat itu juga?"
" Tidak!" Shan terkejut dengan jawaban Anin yang tiba-tiba berteriak itu. " Maksudku, aku suka makan kemana pun kamu membawaku, jangan membawaku ke tempat orang lain."
Shan menghela napasnya. Tak mengira kalau Anin akan mengatakan hal seperti itu padanya.
“ Oh iya, Papa akan pulang hari ini.”
“ Ah iya, apa kita akan menjemput Papa?”
“ Ya, tapi kita akan pulang dulu. Memang terlalu terburu-buru, tapi hari ini juga aku akan membawamu pulang ke rumah kita. Aku sudah meminta izin pada Ayah dan Bunda. Mereka mengizinkan kita untuk pulang.”
“ Benarkah? Ya sudah kalau begitu, Anin akan membereskan pakaian yang akan di bawa.”
“ Tidak apa-apa kan?”
“ Ha? Kenapa Shan berkata seperti itu?”
“ Karena aku takut kamu belum siap.”
“ Memangnya aku menikah denganmu sudah siap? Belum kan, tapi aku menjalaninya saja. Aku hanya perlu adaptasi di dunia yang baru saja aku masuki. Bukankah cincin di jari manis ini sebuah bukti?” Anin menunjukkan jari manis yang sudah terisi cincin itu. “ Anin sebagai istri dan Shan sebagai suami, aku benar kan?”
“ Kenapa hari ini kamu jadi manis sekali.”
“ Aku memang manis kan,” timpalnya menyombongkan diri. Tertawa itu pun pecah dan membuat suasana semakin menyenangkan.
Mobil itu berhenti tepat di sebuah pekarangan rumah. Keduanya memasuki rumah itu dan mendapati kedua orang tua mereka tengah duduk menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Bunda langsung membatu anak bungsunya itu mengurusi keperluan yang akan dibawanya ke rumah barunya nanti.
Tak henti-hentinya sang Bunda memberikan petuah kepada Anin sebagai seorang istri dan juga anak. Sebuah perasaan baru yang tiba-tiba hinggap di hati seorang Anin. Meninggalkan kedua orang tuanya untuk pertama kalinya kemudian memasuki kehidupan yang benar-benar baru baginya. Ada sedikit rasa tak ingin melepaskan tangan yang sudah membesarkannya ini. Tangan yang selalu ada di saat apa pun dan tak pernah lelah menggenggamnya erat. Air mata yang tak ingin di perlihatkan akhirnya harus jatuh perlahan dari kedua matanya. Bunda yang sejak tadi menahan akhirnya harus melepaskan semua yang ada di hatinya. Di peluknya anak kesayangannya ini, anak yang selalu ia belai lembut, namun kini harus ia relakan bersama dengan pria yang sudah mengikatnya dengan janji sehidup semati.
“ Anin minta maaf ya Bunda.” Begitulah ucapannya yang keluar dari bibirnya. Bunda hanya bisa mengangguk sambil mengecup kening sang bungsu.
“ Sudah, jangan menangis lagi. Nanti Bunda malah tidak rela kamu pergi.”
“ Anin sayang Bunda.” Peluknya lagi.
“ Iya, Bunda juga sayang Anin, Ayah, Kak Agni juga sayang sama kamu. Baik-baik di sana Nak, jangan bertengkar kalau pun bertengkar jangan pernah tinggalkan rumah, bicarakan baik-baik. Bagaimana pun sekarang Shan adalah surga untuk Anin bukan Bunda lagi.”
“ Iya Bunda, Anin akan selalu ingat.”
“ Anak Bunda pintar”, ucapnya tersenyum. “ Ya sudah selesaikan kemas bajunya, Bunda mau mengemasi makanan untuk kalian bawa nanti.”
“ Iya Bunda.”
Anin mengambil satu demi satu pakaian dan barang yang akan di bawanya kemudian ia susun dengan rapi di dalam koper yang cukup besar itu. Sangkin seriusnya Anin bahkan tak sadar kalau Shan tengah memperhatikannya dari balik pintu. Begitu ia mengetuk pintu, barulah Anin mengetahui keberadaan suaminya itu.
“ Serius sekali,” ujarnya duduk di hadapan sang istri.
__ADS_1
“ Anin bingung mau bawa pakaian sama barang yang mau Anin bawa.”
“ Bawa saja yang Anin butuh kan kalau nanti ada barang yang Anin mau, kita bisa beli.”
“ Terlalu boros.”
“ Hm??”
“ Mubazir, tidak boleh “
Shan seketika tertawa karena celetukan istrinya ini. “ Baiklah.”
Begitu selesai dengan berbenah, mereka pun berpamitan pada sang Ayah dan Bunda. Anin tak henti-hentinya memeluk kedua orang tuanya ini. Dengan air mata yang masih berlinang, ia meminta izin untuk pulang ke rumah.
“ Shan, titip salam sama Papa kamu. Kemungkinan besok Ayah sama Bunda ke rumah untuk menjenguk.”
“ Iya Bunda, nanti Shan sampaikan sama Papa.”
“ Ya sudah, hati- hati di jalan.”
Setelah berpamitan, mobil itu pun melaju menuju rumah sakit. Anin sibuk dengan ponselnya karena bertelepon dengan Kakaknya. Ia berpamitan melalui sambungan telepon karena sang Kakak sedang berbulan madu ke Bali. Sudah dua hari sejak kepergian mereka menikmati bulan madu yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari itu.
“ Sudah ya Kak, selamat menikmati bulan madunya,” ujarnya mengakhiri sambungan telepon itu. Sesaat ia menghela napas, sedikit merasa lega karena sudah memberikan kabar tentang kepindahannya ini.
“ Bagaimana mereka di sana?” tanya Shan memulai percakapan.
“ Tentu saja menyenangkan, namanya juga bulan madu,” jawabnya.
“ Ha?” Akhirnya Anin sadar dengan ucapannya barusan, ia langsung gelagapan dengan pertanyaan dari Shan itu. “ Anin Cuma dengar kok, orang-orang bilang begitu. Anin cuma menyampaikan apa yang Anin dengar.”
“ Oh, begitu?”
“ Ya,” jawabnya cepat.
Shan menyunggingkan senyuman karena jawaban sang istri yang terkesan asal itu.
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan. Sang Papa sudah menunggu mereka bersama dengan Adrian dan Disti. Shan memang menyuruh kedua pasangan itu untuk menemani sang Papa karena takut ia akan terlambat sampai di sana. Mereka pun sudah menyiapkan semua yang di perlukan untuk membawa orang tuanya itu pulang.
Tuan Adi yang memang sudah tidak sabar untuk pulang tak henti-hentinya tersenyum karena bahagia. Ia sudah membayangkan akan bersama dengan kedua anaknya nanti. Rumah akan terasa lebih hidup karena hadirnya sang menantu.
“ Dokter, saya mengucapkan banyak terima kasih karena sudah merawat Papa, ” ucapnya tulus pada dokter yang selama ini merawat Tuan Adi.
“ Tidak perlu sungkan begitu Shan, sudah kewajiban saya merawat pasien dengan baik.”
“ Tetap saja saya harus mengucapkan banyak terima kasih pada dokter.”
“ Sudah yang penting sekarang Papa kamu sudah membaik. Saya selalu mengingatkan agar kamu lebih menjaga Papa kamu lebih ekstra.”
“ Baik dokter, saya akan melakukan apa yang dokter katakan.”
“ Baiklah, kalau begitu saya permisi.”
__ADS_1
“ Silakan dokter.”
“ Shan, ayo, Papa sudah menunggu”, ujar Anin memanggilnya.
“ Oke.”
--------
Jalanan tak begitu ramai malam itu. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Di sana sudah menunggu Bi Ani dan Reno. Mereka menyambut kedatangan Tuan besarnya itu dengan suka cita.
“ Tuan, selamat datang di rumah. Tuan juga kelihatan sangat segar,” ujar Bi Ani bahagia
“ Terima kasih Bi. Saya juga sudah rindu dengan masakan Bibi.”
“ Nanti saya masak kan makanan kesukaan Tuan.”
“ Iya Bi.”
“ Tuan, saya antarkan ke kamar?” Reno menawarkan dirinya untuk mengantarkan sang Tuan besar ke kamarnya .
“ Terima kasih Reno, maaf sudah merepotkanmu.”
“ Tidak sama sekali Tuan.”
“ Oh ya Shan, bawa Anin ke kamar. Sudah malam, kalian juga harus istirahat.”
“ Iya Pa,” jawab Shan. “ Apa kalian akan menginap di sini?” tanyanya pada Adrian.
“ Tidak, kami harus pulang,” jawab Adrian.
“ Tunggulah sebentar ada yang harus aku bicarakan pada kalian berdua.”
“ Baiklah.”
Shan mengantarkan Anin ke kamar. Sesaat Anin tercengang dengan kamar suaminya ini. Kamar yang luas dan sangat tertata dengan rapi. Bahkan lebih rapi di banding dengan kamarnya di sana.
“ Aku harus menemui Adrian dan Disti. Kamu istirahatlah.”
“ Iya.”
Pintu itu pun tertutup setelah Shan keluar meninggalkannya di kamar.
“ Wah, ini kamar tiga kali lebih besar dari kamar Anin. Kenapa kamarnya seluas ini, jadi minder sendiri karena ternyata Shan lebih rapi dari pada Anin sendiri," celetuknya.
Anin mengambil sebuah kaos dan celana sebagai baju tidurnya malam ini. Rasanya ia sangat lelah dengan rutinitasnya yang super duper padat. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk ini. Tak lupa ia menyetel sebuah musik dari ponselnya agar tidak terlalu kesepian di kamar seluas ini.
Anin terperanjat ketika suara pintu berbunyi. Ia spontan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang ada di sana. Shan seketika tersenyum dengan ulah istrinya ini.
Ia pun menaiki ranjang itu perlahan demi perlahan. Anin yang ada di balik selimut sudah gelisah tak karuan dengan setiap gerakan Shan yang mendekatinya.
“ Anin, apa kamu mau tahu bagaimana itu bulan madu?”
__ADS_1