Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 16


__ADS_3

Anin yang kembali masuk ke dalam ruangan pada akhirnya memang mendapatkan pertanyaan kemana Shan pergi. Sesuai permintaan Shan, Anin hanya menjawab apa yang Shan katakan padanya sebelum ia pergi tadi.


" Apa tadi sekretaris Reno datang menjemputnya?" tanya Adrian pada Anin.


" Iya kak," jawabnya.


Disti dan Adrian saling menatap, mereka seolah berkomunikasi hanya lewat tatapan mata dan saling mengerti dengan maksud masing-masing.


" Coba telepon Shan, aku takut terjadi sesuatu padanya", ujar Disti pada suaminya itu." Tidak biasanya Shan begini."


" Ya, aku akan menelepon anak itu."


" Hm..," angguknya.


Anin hanya melihat Adrian keluar dari ruangan. Ia pun menatap Disti yang kemudian tersenyum saat mendapati Anin menatapnya.


" Kamu khawatir?" tanyanya, Anin menggelengkan kepalanya. " Benar tidak khawatir?"


Anin terdiam sejenak.


" Apa ada hal yang serius?"


" Katanya tidak khawatir."


" Bukan begitu kak."


Disti tersenyum. " Semua baik-baik saja, tidak perlu khawatir."


" Benarkah?"


" Hm....," angguknya.


" Disti." Adrian tiba-tiba masuk dan memanggilnya. " Tetaplah disini, aku harus pergi."


" Ada apa?"


" Mentari membuat ulah lagi. Sekarang wartawan datang menyerbu ke rumahnya."


" Ya sudah, tolong jaga Shan, saat ini pasti kejadian itu akan mempersulitnya."


" Oke, aku pergi."


" Ya."


" Mentari," gumam Anin saat mendengar nama itu.


Disti menatap Anin yang raut wajahnya berubah begitu mendengar nama Mentari di sebutkan.


" Anin, Nak Disti, sini. Kenapa berdiri saja disana, ujar Bunda menyuruh mereka untuk duduk di kursi yang masih kosong.


" Iya Bunda," ujar Anin.


" Iya Tante," timpal Disti lagi.


-------


Shan dan sekretaris Reno menunggu di dalam mobil tak jauh dari rumah sang model terkenal itu. Shan mengamati sekumpulan wartawan yang sedang menunggu Mentari keluar dari rumahnya. Berkali-kali ia mengecek ponselnya hanya untuk sekedar melihat pesan masuk.

__ADS_1


Tak lama Mentari pun keluar, para wartawan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta klarifikasi dari berita yang sudah terlanjur menyebar itu. Terlihat Mentari hanya diam seribu bahasa melewati orang-orang yang berusaha menghalangi jalannya. Wanita cantik berusia 23 tahun itu masuk ke dalam mobil setelah di kawal beberapa pengawal.


Ia tersenyum kepada pria yang ada di sampingnya ini. Pria yang selalu membantunya di saat apa pun, yang selalu bersamanya di saat ia membutuhkannya. Pria yang tak pernah menyambut perasaannya bertahun-tahun, tapi ia selalu bahagia jika bersamanya.


" Terima kasih sudah datang membantuku," ujarnya lega.


" Ini untuk terakhir kalinya aku membantumu. Aku tidak main-main dengan ucapanku dan kamu tahu itu. Kalau kamu bermain api dengan suami orang lagi, aku tidak akan segan-segan mengeluarkanmu dari perusahaanku. Kamu tidak lupa kan, aku membuatmu menjadi seperti ini bukan untuk membuat masalah untukku."


" Shan.."


" Ini peringatan untukmu!"


Wajah Shan yang marah itu membuat Mentari menjadi takut. Ia sadar apa yang sudah di lakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Kariernya sebagai model besar bisa hancur dalam sekejap jika Shan tidak ada di sampingnya.


" Shan, jika saja kamu bisa membuka hatimu untukku, aku tidak akan seperti ini."


Shan hanya diam seribu bahasa. Ia tak ingin membahas apa yang di ucapkan Mentari padanya. Untuk sekian kalinya Shan lelah menjawab semua pertanyaannya itu.


" Aku hanya ingin perhatianmu Shan. Aku melakukan ini agar kamu peduli padaku, peduli dengan perasaanku. Aku tidak ingin hubungan kita hanya sekedar hubungan bisnis, aku ingin lebih Shan. Aku tidak menemukan pria yang bisa membuatku nyaman seperti ini kecuali kamu. Apa kamu tidak mengerti bagaimana perasaanku ini?"


" Mentari sudah cukup, aku tidak bisa menerima perasaanmu dan itu sudah berkali-kali aku ucapkan. Carilah pria yang bisa menerimamu dan memberikanmu kenyamanan. Hentikan skandal yang kamu lakukan ini hanya karena ingin perhatianku."


" Shan...."


" Reno berhenti di sini!" titah Shan.


Reno pun menghentikan mobil sesaat tuannya itu memerintahkannya.


" Shan, kamu mau kemana?" tanyanya panik karena Shan membuka pintu mobil.


" Antarkan Mentari ke hotel untuk beristirahat, usahakan tidak ada orang yang tahu dimana dia tinggal."


" Shan...."


" Beristirahatlah," ujar Shan menutup pintu mobil.


Mobil itu kemudian melaju meninggalkannya sendiri di jalan yang sunyi itu. Shan melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Malam semakin dingin menusuk tulang di tambah dengan turunnya rintik-rintik hujan membuat malam semakin dingin.


Shan menunggu di sebuah halte, berteduh dari hujan yang tak deras itu. Berkali-kali ia memeriksa ponselnya, berharap orang yang di nantinya akan segera datang.


" Apa kamu perlu tumpangan?" celetuk seseorang dari balik jendela mobil.


" Cihhh....kenapa kamu lama sekali. Aku hampir mati kedinginan di sini," ujar Shan begitu tahu siapa pemilik mobil itu.


" Masih hampir kan, belum mati," ocehnya lagi.


" Kamu ingin sekali aku mati."


" Benar sekali tuan Shan."


" Benar-benar teman yang baik."


Adrian tertawa puas menggoda sahabatnya ini.


" Lalu kemana kamu membawa Mentari?"


" Aku menyuruh Reno membawanya ke sebuah hotel agar dia bisa beristirahat beberapa hari ini. Aku ingin dia merenungi apa yang sudah terjadi."

__ADS_1


" Cihhh....kamu masih baik saja dengannya. Padahal dia sudah berkali-kali membuat masalah."


" Aku hanya teringat dengan masa lalu nya yang kelam itu. Bagaimana susahnya ia hanya untuk sekedar makan, membiayai adik-adiknya dan merawat orang tuanya yang sakit-sakitan. Kamu tahu kan berapa biaya untuk merawat orang tuanya yang sakit?"


" Ya aku tahu, tapi kamu juga harus tegas dengan perilakunya itu. Semenjak ibunya yang sakit meninggal, ia menjadi orang yang tidak bisa di tebak. Aku hanya memperingatkanmu untuk berhati-hati dengannya."


" Aku tahu, aku juga sudah memberikan ketegasan untuk kariernya, ini untuk terakhir kalinya aku membersihkan semua skandal yang ia buat kali ini. Aku tidak ingin ada masalah besar terjadi lagi. Aku hanya ingin fokus dengan kesehatan Papa."


" Baguslah kamu memang harus melakukannya demi hidupmu, perusahaan dan Om."


" Ya, aku mengerti."


" Tadi aku mendapatkan telepon dari Disti. Katanya Om sudah sadar."


" Benarkah?"


" Ya, dia juga mencarimu."


" Kalau begitu cepatlah ke rumah sakit."


" Siap tuan Shan."


------


Setengah jam kemudian Shan dan Adrian tiba di rumah sakit. Mereka bergegas memasuki ruangan itu. Terlihat sang Papa sudah membuka matanya. Shan benar-benar sangat bersyukur melihat Papanya sudah sadar kembali.


" Lihatlah anak itu, "celetuk Papanya begitu melihat anak satu-satunya itu sudah mulai berkaca-kaca. " Dari mana saja kamu ini, meninggalkan Om dan Tante mu di sini."


" Maaf Pa, tadi ada urusan mendadak."


" Urusan apa Shan, Mentari?" celetuk om Adi.


" Pa...."


" Siapa Mentari?" tanya Bunda. Anin langsung menyenggol Bundanya lalu menggelengkan kepalanya agar tidak mengatakan apa pun lagi. " Maaf Di, tiba-tiba aku bertanya."


" Tidak apa-apa Renita, jangan sungkan seperti itu."


" Pa, hubungan kami hanya bisnis," timpal Shan yang tidak ingin ada kesalahpahaman.


" Tapi Papa tidak menyukainya, dia selalu membuat masalah. Dia bukan wanita yang tepat untukmu."


" Kami tidak punya hubungan apa-apa, Pa."


" Lalu mengapa kamu selalu peduli padanya. Apa itu bukan bukti hubungan kalian!"


" Kami hanya berteman Pa, tidak ada hubungan yang lain."


" Apa buktinya Shan..."


" Di, jangan terlalu keras, ingat kesehatanmu," ujar bunda menyela.


Shan menghela napasnya. Ia melirik Anin, mau tak mau ia harus melakukannya agar Papanya percaya padanya.


Shan menarik tangan gadis itu tanpa aba-aba. Menggenggam tangannya erat.


" Aku akan menikahi Anin," ucap Shan dengan tegas.

__ADS_1


Sontak saja semua mata tertuju pada kedua sejoli itu, mereka tercengang dengan ucapannya barusan.


__ADS_2