Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 33


__ADS_3

Anin merenggangkan tubuhnya setelah berjibaku dengan pelajarannya hari ini. Sejenak ia memandang keluar jendela dengan memangku tangannya di pipi. Pandangannya lurus ke depan, entah apa yang sedang dipikirkannya. Hingga ia pun tak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


“ Apa yang sedang kamu pikirkan?” Suara itu sukses membuat Anin tersadar. Pemilik suara yang sudah ada di sebelahnya.


“ Pak Kemal, maaf Pak, saya tidak tahu Bapak ada di sini.”


“ Tidak apa-apa, sepertinya banyak sekali yang kamu pikirkan.”


“ Tidak kok Pak.”


Sesaat mereka mengobrol ini dan itu. Dosen muda itu memang mendekati diri dengan mahasiswinya yang satu ini. Di mulai dari meminta bantuan hingga sering bertemu, ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan sosok mahasiswinya ini.


Obrolan itu akhirnya berlanjut hingga mereka keluar dari kelas. Topik pembicaraan pun lebih seputar perkuliahan sesekali di selipkan candaan supaya obrolan itu tak terkesan membosankan.


“ Oh iya, boleh saya bertanya sesuatu sama kamu?” ujarnya sedikit serius. Anin mengangguk karena ia berpikir ini ada hubungannya dengan perkuliahan.


“ Iya Pak, boleh.”


“ Pria yang menjemputmu semalam, dia itu siapa?”


“ Oh, Shan.”


“ Shan?” Anin mengangguk. “ Jadi pria itu bernama Shan.”


“ Iya, dia itu....”


“ Anin!!”


Anin menoleh begitu ia mendengar namanya di panggil. Terlihat Tasya berlari menghampirinya.


“ Ah, maaf Pak, saya tidak tahu Bapak ada di sini juga,” ucapnya meminta maaf begitu melihat dosennya.


“ Tidak apa-apa,” jawab sang dosen tersenyum. Tasya langsung tercengang dengan sikap dosennya yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.


“ Bapak senyum sama saya?”


“ Loh memangnya saya tidak pernah senyum sama sekali ya.”


“ Bu-bukan begitu Pak.”


“ Iya, saya mengerti, tidak perlu takut begitu.” Tasya pun hanya cengar-cengir karena ucapan dosennya itu. “ Ya sudah saya tinggal ya.”


“ Iya Pak,” seru mereka.


Tasya masih menatap kepergian Pak Kemal yang masih meninggalkan bekas di hatinya. Ia tersenyum sendiri sampai-sampai Anin jadi bingung dengan sikap sahabatnya ini.


“ Kenapa jadi senyum begitu?”


“ Tadi itu Pak Kemal kan?” Anin mengangguk dengan raut wajah bingung dengan pertanyaan Tasya itu. “ Dosen dingin , killer...”


“ Iya,” potong Anin. Tasya pun mencubit-cubit pipinya. “ Kenapa malah mencubit diri sendiri?”


“ Ternyata kenyataan bukan mimpi.” Ada rasa lega yang menyelimuti rasa penasarannya itu. “ Baru kali ini lihat Pak Kemal senyum, mimpi apa coba?”


“ Memangnya sedahsyat itu senyuman Pak Kemal ya?”

__ADS_1


“ Iya, bahkan lebih dahsyat dari letusan gunung berapi. Ini bisa di viralkan.”


“ Dengan judul senyuman dosenku yang manis.”


“ Ide yang bagus itu.”


“ Dasar, malah di bilang bagus lagi. Sudah-sudah ayo ke kantin, pengen makan sesuatu.”


“ Traktir ya.”


“ Iya-iya.”


-----


Di satu sisi Anin tak menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya. Seorang wanita yang diam-diam mengambil gambarnya berkali-kali.


“ Aku sudah menemukannya, akan aku kirim gambarnya padamu”, tuturnya mengakhiri pembicaraan di telepon.


Sang wanita masih memandangi Anin dan Tasya yang bercanda tawa sambil berjalan menuju kantin itu.


Ia mengirim semua gambar yang ia dapat ke seseorang yang memintanya memantau sang gadis.


------


“ Lapar atau doyan, neng.” Tasya menggelengkan kepalanya melihat makanan yang di bawa oleh Anin.


“ Lagi kaya,” ujarnya asal sambil membuka jajanan yang ada di atas meja.


Ia menikmati gigitan tiap gigitan makanan yang ada di tangannya. Sesekali ia mengecek ponselnya, melihat apa ada pesan yang masuk untuknya. Terdapat nama Shan di deretan pesan yang masuk di Whatsapp nya. Awalnya Anin enggan untuk membukanya namun rasa penasaran yang lebih besar dari pada gengsi, akhirnya ia membukanya juga.


Sedang apa?


" Kenapa tidak di balas?" tanya Tasya karena heran melihat Anin hanya meletakkan ponselnya begitu saja.


“ Bukan hal penting,” jawabnya sambil mengunyah.


“ Oh.”


5 menit kemudian, pesan di Whatsapp nya kembali masuk. Lagi-lagi dengan nama yang sama namun dengan isi yang berbeda. Terlihat rasa kesal mewarnai isi pesan itu.


Kenapa tidak membalas pesanku?


Lagi-lagi Anin mengabaikannya. Ia tak peduli dengan pertanyaan suaminya itu.


Kamu lagi apa Nin, sampai tidak bisa membalas pesanku?


Anin menghela napasnya.


“ Siapa sih tuh Nin? Dari tadi kamu abaikan terus.”


“ Shan.”


“ Kalian bertengkar?”


“ Tidak, cuma kesal saja.”

__ADS_1


“ Maksudnya?”


“ Lagi balas dendam, biar dia tahu bagaimana rasanya di tanya tapi tidak di jawab.”


“ Ha???” Rasa kaget itu pun berubah jadi tertawaan. Tasya tak mengira kalau Anin akan memperlakukan suaminya seperti itu. “ Kalian berdua ini benar-benar aneh.”


“ Siapa yang aneh! Dia tuh yang aneh.”


“Sama saja kelakuan kalian berdua. Mau sampai kapan kesalnya neng cantik?”


“ Jangan meledek deh “


“ Siapa juga yang meledek.”


Anin pun jadi kesal sendiri karena terus di goda oleh Tasya. Sahabatnya itu tak henti-hentinya menertawakannya.


“ Yang lagi kesal sama suaminya, romantis banget deh”, ocehnya sambil menyenggol lengan sang sahabat.


“ Apaan sih, romantis dari hongkong!” ujarnya kesal.


Tasya terkikik. “ Jadi pengen punya suami.”


“ Dasar!!!” Anin memukul Tasya sangkin geramnya karena kesal.


“ KDRT nih, lapor Komnas HAM ya. Halo Komnas HAM, saya dianiaya seorang istri yang lagi kesal sama suaminya.”


“ Tasya!” Anin pun merengek.


“ Dasar, kumat anak bungsunya.” Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Ni ya Tasya kasih nasehat. Anin tuh harusnya berubah, jangan suka ambekan, biarpun yang buat kesal itu kak Shan duluan. Memang kesal tapi kalau sikap kamu begitu, kapan selesainya? Mungkin ada sesuatu yang belum bisa kak Shan ungkapkan karena takutnya kamu salah paham. Lagi pula kak Shan kan sudah mulai merespons, tanya Anin ini itu, ada kemungkinan kak Shan mau membicarakan masalah itu kan?”


“ Sok tahu deh.”


“ Biarpun Tasya belum nikah, tapi kalau kasih nasehat sih paling jago. Percaya deh sama Tasya.”


Anin hanya memandang sahabatnya itu sambil memikirkan ucapannya barusan. Memang benar seharusnya ia tak mengabaikan semua pesan yang masuk dari suaminya tadi. Harusnya ia belajar lebih dewasa karena kini ia bukan anak kecil lagi.


Ia pun meraih ponsel yang ada di atas meja itu. Mengetik kata demi kata membalas pesan dari sang suami.


Maaf, baru membalasnya. Aku hanya kesal karena tadi pagi kamu mengabaikanku. Aku hanya ingin kamu merasakan hal sama denganku. Sekarang aku menyadari kalau seharusnya aku tidak melakukan hal seperti itu, maafkan aku, Shan.


Tak berselang lama, balasan pun ia terima.


Aku mengerti. Maaf sudah membuatmu kesal. Aku memerlukan waktu untuk mencerna semua yang terjadi sebelum kamu meminta jawaban atas apa yang kamu dengar pagi ini. Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Tolong jangan kesal lagi.


Baiklah, aku akan menunggu penjelasan darimu.


Terdengar suara embusan napas kelegaan darinya. Tasya pun turut senang karena sudah membuat sahabatnya itu tidak uring-uringan lagi.


“ Thanks ya.”


Tasya mengangguk lalu memeluk Anin erat.


Mereka pun melanjutkan acara makan yang sempat tertunda itu.


" Boleh tambah ya?"

__ADS_1


" Ambil deh sana."


Dengan girangnya Tasya mengambil makanan yang menjadi kesukaannya itu. Ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Filosofi yang di pegang teguh oleh para sahabatnya setiap kali mendapatkan traktiran.


__ADS_2