Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 28


__ADS_3

Pria muda itu tengah serius di balik laptopnya. Sudah ada beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan. Setelah mengakhiri drama tadi pagi, sekarang ia harus memacu dirinya agar bisa fokus dengan pekerjaannya lagi.


Yang barusan terjadi bukan hal yang baru lagi untuknya. Menghadapi sang model yang selalu membuat masalah sudah ia lakukan berulang kali. Tapi, setiap ucapan yang ia lontarkan tak pernah masuk ke dalam pemikiran wanita itu. Entah harus seperti apa lagi ia membuatnya sadar dan mengerti.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, melewatkan waktu satu jam lebih dari ucapannya yang akan menghubungi Anin tadi pagi. Ponsel yang ada di atas meja langsung ia ambil untuk menghubungi istrinya itu. Menanyakan apa ia sudah sarapan atau sama sekali belum ia lakukan.


" Iya Shan", ujarnya mengangkat teleponnya. Suara Anin terdengar sedikit berbisik. Shan menebak kalau ia sedang berada di kelasnya.


" Apa kamu masih di kelas?"


" Hm iya, tapi dosenku sedang keluar" Tebakan Shan tak salah. Saat ini Anin masih ada jam kuliah. " Aku tadi sudah makan sepotong roti untuk sarapan. Kamu meneleponku untuk menanyakan itu kan."


" Kamu langsung sarapan karena takut aku menemuimu di sana?"


" Tidak, aku sarapan karena ada seseorang yang khawatir denganku yang kelaparan."


" Benarkah?"


" Hm, jadi jangan sok oke."


Shan tertawa karena ocehan Anin yang menyindirnya.


" Baiklah, kalau begitu aku tutup, belajar lah yang baik. Nanti aku akan menjemputmu."


" Kamu lupa, kalau hari ini aku akan pulang terlambat."


" Oh iya, hari ini kamu akan makan bersama dengan dosenmu. Maaf aku tidak ingat soal itu tadi."


" Tidak apa-apa. Jadi, nanti aku akan menghubungimu, kapan dan di mana, aku akan di jemput."


" Kamu ingin aku menjemputmu?"


" Tentu saja."


" Baiklah, aku akan menunggu."


" Shan, sudah dulu ya, dosen Anin sudah datang," ujarnya mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


Shan hanya memandangi ponselnya karena Anin yang tiba-tiba mematikannya.


" Baiklah, Anindira, aku senang mendengar mu mengatakan hal sederhana seperti itu, namun kamu tak pernah tahu kalau itu sangat berarti buatku."


Shan langsung tersentak begitu mendengar suara pintu terbuka, ia tahu betul siapa orang di balik pintu itu. Orang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia hanya tersenyum begitu melihat siapa gerangan yang datang terburu-buru itu.


" Ku dengar Mentari datang ke sini?" tanya Adrian sembari meletakkan sebuah minuman ke atas mejanya. Shan menyeringai mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Jauh-jauh ia sampai ke tempatnya hanya untuk menanyakan hal seperti itu.


" Cepat sekali berita itu sampai di telingamu," ujar Shan menghentikan aktivitasnya. Ia menatap serius lawan bicaranya itu.


" Apa yang tidak aku ketahui dengan cepat," ujarnya percaya diri. " Jadi apa yang di lakukannya di sini Shan? apa dia membuat kehebohan."


" Menurutmu?" tanya Shan balik seolah ia mempermainkan rasa penasaran sahabatnya itu.


" Kenapa jadi main tebak-tebak kan begini, membuatku kesal saja." Ingin rasanya Adrian memukul sahabat yang sedang mempermainkannya ini.


Shan tertawa puas sudah membuatnya temannya itu menjadi kesal.


" Dia bilang hanya bosan di rumah", jawab Shan pada akhirnya. " Makanya dia ke sini."


" Ya, salah satunya."


" Apa kamu sudah mengatakannya?"


" Mengatakan kalau aku sudah menikah?" Adrian pun mengangguk. " Tentu saja, untuk apa aku menyembunyikannya dari Mentari"


" Dan aku menebak, dia tidak percaya padamu."


" Ya, kamu tahu kan dia bagaimana."


" Maka dari itu aku tidak suka kamu membantunya terus menerus. Dia jadi kelewatan batas."


" Hm ya."


" Aku sudah pernah bilang kan berhati-hati dengannya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan di lakukannya. Kesampingkan rasa kasihan, dia bukan orang yang sama lagi. Sudah ada contoh bagaimana hubunganmu dan Nada kandas kan."


" Aku tahu."

__ADS_1


" Aku bertemu dengan Nada kemarin. Dia menanyakan kabarmu."


" Oh ya, untuk apa dia menanyakan kabarku?"


" Aku juga tidak tahu, lagi pula aku bertemu dengannya juga karena kebetulan bertemu dengan Anthony."


" Ohh."


" Tapi aku rasa Nada tidak bahagia, ada raut tidak nyaman terpancar di wajahnya."


" Itu adalah keputusan yang ia ambil, menikah dengan seorang playboy seperti Anthony. Aku dulu sudah memberikan waktu untuknya, namun ia memilih untuk pergi."


" Aku tahu. Aku bicara begini bukan untuk membuatmu mengingatnya lagi, tapi setidaknya kita dulu pernah berteman dekat dengannya."


" Lagi pula aku sudah ada Anin, membahas wanita lain membuatku tidak nyaman."


" Dasar budak cintanya Anin."


" Sepertinya kamu membicarakan dirimu sendiri."


" Cih..., dasar."


Wanita yang mereka bicarakan itu bernama Nada Saraswati, nama yang pernah terpatri di hati Shan. Berkenalan dan menjalani hubungan begitu lama, namun tak menjamin akan bersamanya sampai akhir. Dia yang selalu membuat hari-hari Shan penuh dengan kebahagiaan, pada akhirnya orang yang membuat kepahitan di dalam hidupnya.


Nada merupakan teman Disti saat duduk di bangku Menengah Pertama. Mereka berteman sangat dekat sangkin dekatnya mereka sudah seperti layaknya saudara. Dimana ada Nada di situ ada Disti, begitu pun sebaliknya.


Shan menyukai Nada pada pandangan pertama saat ia tak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe. Kala itu ia akan bertemu dengan Disti dan Adrian di tempat yang sama, namun yang terjadi Shan malah bertemu dengan Nada. Ternyata di balik semua itu kedua pasangan itu lah yang ingin mempertemukan Shan dan Nada.


Dari sebuah ketidaksengajaan lahirlah sebuah hubungan yang sangat spesial di antara mereka. Hubungan itu terjalin sangat lama dan saat itu Shan berpikir akan melanjutkan hubungannya dengan Nada ke jenjang pernikahan. Tapi, manusia hanya bisa berencana namun Tuhanlah yang mempunyai kuasa. Sebuah bencana terjadi dan entah bagaimana itu bermula.


Sebuah kesalahpahaman tak berkesudahan, sebuah ketidakpercayaan yang selalu hinggap di hati Nada membuat hubungan mereka akhirnya retak dan berakhir. Walaupun mereka sudah tahu siapa dalang di balik semua itu, namun hubungan yang sudah terlanjur hancur itu tak bisa di kembalikan seperti semula karena hati yang sudah membeku.


Sejak itu, tak ada kabar dari Nada, hingga suatu hari secara tak sengaja Shan mendengar kalau pujaan hati yang pernah singgah di kehidupannya itu menikah dengan seorang pengusaha sukses namun di kenal playboy.


Kecewa, mungkin sedikit mengusiknya karena dulu ia punya rencana besar dalam hubungan mereka. Namun, kekecewaan itu tak lantas membuatnya berlarut-larut karena mengenal sosok Anin.


Anin lah yang sudah membuatnya melupakan kepahitan dalam hubungannya dulu. Mengenalnya membuat Shan seperti bernapas kembali. Wanita yang kini sudah menjadi istrinya dan akan selalu jaga sampai kapan pun.

__ADS_1


__ADS_2