
Pagi-pagi sekali Shan dan sekretarisnya Reno sudah berangkat menuju kantor. Seperti biasa sebelum sampai di sana, rutinitas setiap pagi yang ia lakukan adalah mengunjungi kampus Anin. Shan akan menunggu di dalam mobil sampai ia melihat sang gadis pujaan, Shan hafal betul pukul berapa gadis itu tiba di sana. Bersama siapa dan melakukan apa.
Reno, selaku sekretaris tahu betul dengan kebiasaan bos nya ini. Sesaat ia pulang dari Paris dan menetap di sini, hal pertama yang di lakukannya adalah mencari Anin di kampusnya. Dari dulu sampai sekarang pun masih ia lakukan demi melihat gadis pujaannya itu.
" Tuan, apa kita berangkat sekarang?" tanyanya karena mereka sudah melewatkan sepuluh menit sejak Anin memasuki kampusnya.
" Oke, kita berangkat," ujar Shan.
Mobil itu pun melaju meninggalkan tempat itu. Mobil yang di kendarai Reno ini melaju menyusuri jalanan yang cukup ramai di pagi hari ini.
Raut wajah Shan begitu serius menatap layar laptop yang berada di pangkuannya. Sesekali ia mengernyitkan dahinya menandakan ada sedikit masalah.
" Reno, apa Adrian sudah menghubungimu?"
" Sudah Tuan, tadi Tuan Adrian mengirimkan pesan dan menyuruh kita agar segera datang. Sepertinya Nona Disti sedang dalam mood yang tidak baik terkait model yang kita usulkan padanya."
" Benarkah, kita lihat bagaimana reaksi Disti begitu melihatku. Tolong cepatlah."
" Baik Tuan."
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Hingga tak terasa mereka telah tiba di perusahaan itu.
Begitu Reno membuka pintu kantor bosnya. Terlihat wajah-wajah penuh ketegangan menyertai kedatangannya. Orang yang di sebut-sebut namanya sejak tadi pun sudah memandanginya dengan tatapan penuh amarah.
" Disti duduklah, apa tidak lelah berdiri seperti itu," celetuk Shan mencairkan ketegangan.
" Shan, kamu tahu kan aku tidak suka dengan usulan mu itu. Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku yang akan mencari model untuk rancangan ku selanjutnya."
" Aku tahu."
" Lalu kenapa kamu lakukan ini padaku, ha!"
" Tanyakan saja suamimu."
" Hei Shan kenapa kamu bawa-bawa aku ke dalam masalah ini," protes Adrian cepat.
" Sayang apa ini juga ulah mu?"
" Aku tidak melakukannya, kamu harus percaya pada suamimu ini. Kamu tahu kan Shan seperti apa, dia selalu membawaku kalau sudah menyangkut masalahmu."
" Shan!!!"
Shan tertawa mendengar teriakan kekesalan Disti itu.
" Kamu memang keterlaluan Shan," hardik Disti.
" Maafkan aku Dis, seharusnya kamu berterima kasih padaku sudah membantumu mencarikan model yang kamu harapkan."
" Aku tidak suka dengan model-model yang kamu pilih itu."
__ADS_1
" Bagaimana dengan Mentari? dia model yang lagi naik daun."
" Apa!!!" Disti semakin meradang. Shan dan Adrian saling menatap. Ingin rasanya Adrian memberi pelajaran pada Shan karena sudah membuat masalah padanya juga. " Aku sudah bilang kan jangan menyebut nama wanita gila itu."
" Sayang." Adrian memeluk dan menenangkan istrinya yang sudah dalam puncak amarah. " Tidak ada yang bisa menggantikan model pilihanmu nantinya, aku berjanji. Aku akan menjahit mulut Shan supaya dia tidak menyebut nama itu lagi, oke sayang." Adrian menatap istrinya dalam mengisyaratkan apa yang di katakannya pasti akan ia penuhi.
" Oke." Seketika Disti menjadi tenang. " Pokoknya aku tidak mau tahu ya Shan jangan usik masalah model lagi, itu sudah jadi urusanku, ingat itu!".
" Oke," ujar Shan mengalah.
Brakkk.....
Pintu itu pun tertutup dengan kerasnya membuat si empunya kantor hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Kamu ini Shan, apa tidak bisa jangan membuat kegaduhan dengan Disti. Kamu tahu dia bagaimana, kan?"
" Aku tahu. Aku hanya mengusulkan namanya saja."
" Tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana hubungan Disti dengan Mentari. Lagi pula untuk apa kamu menyebut nama itu."
" Secara personal aku juga tidak ingin, tapi secara keuntungan perusahaan, mungkin bisa di pertimbangkan."
" Sejak kapan kamu hanya memikirkan keuntungan saja."
" Baiklah, aku hanya asal bicara saja. Aku juga tidak ingin."
" Ingat Shan, Mentari bisa jadi masalah di perusahaan jika dia ada di sini."
" Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi."
" Oke." Shan mengangguk menyetujui. " Oh ya aku sudah mempelajari dokumen yang kamu kirim itu. Apa kamu tidak melihat kejanggalan di sana?"
" Ya, tapi yang paling menonjol adalah tiba-tiba mereka ingin bekerja sama dengan kita. Kamu tahu kan Anthony seperti apa."
" Hm, ya. Dengan perusahaan sebesar itu siapa yang akan menolak bekerja sama."
" Kita yang akan menolaknya."
" Kamu yakin?"
" Se yakin dengan pemikiranmu."
" Baiklah. Lagi pula saat ini kita harus berkonsentrasi dengan rancangan Disti selanjutnya."
" Ya, semua orang menunggu itu. Dan aku peringatkan padamu, Shan, jangan lagi mencari model untuknya."
" Oke tuan Adrian, aku tidak akan mengganggu mood istrimu."
" Terima kasih tuan Shan sudah mau mendengarkan permintaan sahabatmu ini."
__ADS_1
" Tidak masalah".
" Bagaimana dengan gadis kecilmu itu? apa berjalan lancar?"
" Tidak seperti yang di harapkan."
" Apa kamu akan menyerah?"
" Apa aku harus?"
" Setidaknya kamu jangan terfokus dengan dia saja. Apa kamu pikir dia punya pemikiran tentang pernikahan?"
" Tidak."
" Kalau begitu menyerah lah, carilah wanita yang sepadan denganmu. Om sudah mulai sakit sakittan, tentu dia ingin melihatmu menikah."
" Aku tahu tapi aku tidak menemukan seseorang yang bisa mengalihkan pandanganku. Mungkin aku harus lebih berusaha lagi."
" Kamu yakin? bagaimana dengan Mentari, dia menyukaimu dari dulu."
" Apa kamu sudah tidak waras, kenapa kamu sebut nama Mentari. Dia hanya rekan kerja dan tak akan pernah lebih."
“ Bagaimana dengan Nada?”
“ Aku dan Nada sudah tidak punya hubungan sejak lama dan kamu tahu itu. Dia yang memutuskan dan aku sudah melupakannya."
“ Apa kamu sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya?"
“ Ya."
“ Kamu yakin, Shan?”
“ Bisakah kita tidak membahas hal itu lagi. Aku rasa membahas hal yang sudah berlalu sangat tidak berguna. Dia adalah masa lalu dan akan tetap begitu."
" Baiklah, aku tidak akan membahas dia lagi. Aku hanya berharap kamu segera mendapatkan wanita yang baik untukmu."
" Ya setidaknya Disti harus menyukainya."
" Kenapa Disti?"
" Soalnya istrimu itu selalu cerewet dengan wanita yang dekat denganku. Dia itu selalu bilang kalau instingnya tidak akan pernah salah kalau sudah menyangkut wanita yang mendekatiku. Istrimu itu benar-benar aneh."
Adrian tertawa terbahak dengan ucapan sahabatnya itu. " Kalau itu aku angkat tangan Shan."
" Ha...kamu ini."
Memang benar Disti selalu cerewet siapapun wanita yang dekat dengan Shan. Sebagai sahabat ia ingin yang terbaik untuknya, apa lagi setelah hubungan Shan dan Nada kandas. Nada yang memilih pergi meninggalkan Shan. Kini keberadaannya pun tak di ketahui.
Shan sudah melupakannya dan sekarang ia hanya fokus dengan pekerjaan. Di tambah lagi mencari cara bagaimana seorang Anin bisa menerimanya.
__ADS_1
Gadis kecil itu sudah mengalihkan dunianya yang monoton ini. Ada irama yang lain yang sudah Anin selipkan di kehidupannya.