
Seminggu setelah kepergian Tuan Adi, Shan dan Anin masih dengan diam yang sama sejak pertengkaran mereka waktu itu. Tak ada lagi canda tawa yang dulu pernah hadir di hari-hari mereka.
Shan masih dengan kesibukan yang sama dan Anin masih berkutat dengan kegiatan kuliahnya.
Akhir-akhir ini Anin memang terlihat sibuk bahkan sering pulang sore hari. Sedangkan Shan selalu pulang malam saat Anin sudah tertidur lelap. Tak ada komunikasi lagi di antara mereka.
Saat Anin terbangun di pagi hari, saat itu Shan sudah tak terlihat. Terkadang Anin mencarinya di ruang kerja memastikan apakah Shan sudah pergi atau masih tertidur di sana.
" Bi Ani," sapa Anin menuruni tangga.
" Nyonya," sahut Bi Anin tersenyum.
" Masak apa Bi? Biar Anin bantu."
“ Tidak usah Nyonya, biar Bibi saja,” ujar Bi Ani tersenyum padanya. “ Hari ini Nyonya tidak kuliah?" tanyanya sambil memotong cabai yang ada di atas meja.
“ Iya Bi, hari ini lagi libur, jadwal kuliah kosong,” jawab Anin mengambil segelas air.
“ Oh begitu, pantas saja Tuan Shan.....” Anin memandang Bi Ani yang tiba-tiba terdiam sambil menutup mulutnya.
“ Ada apa Bi?” tanya Anin sangat penasaran dengan perkataan Bi Ani barusan.
“ Tidak ada apa-apa Nyonya. Bibi cuma asal bicara saja,” jawabnya gelagapan.
“ Oh.” Anin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Shan sudah pergi ya Bi?”
“ Sudah dari tadi Nyonya. Tuan pergi pagi-pagi sekali, malah Tuan tidak sempat sarapan sangkin terburu-burunya.”
“ Oh.”
Anin terdiam sejenak seperti sedang ada yang mengganggu pikirannya. Ia berpikir apa Shan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pergi terlalu pagi lalu kembali ke rumah larut malam. Ia tak memikirkan kesehatannya lagi.
“ Nyonya,” panggil Bi Ani, namun Anin tidak bergeming. “ Nyonya,” panggilnya sekali lagi. Anin pun tersadar dari lamunannya itu.
“ Ah, iya Bi,” sahut Anin. “ Maaf Bi, Anin malah melamun.”
“ Nyonya baik-baik saja?”
“ Iya Bi.”
Perhatian mereka pun teralihkan dengan suara bel yang menderu. Anin segera bergegas membuka pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, terlihat sosok wanita cantik berdiri di hadapannya.
“ Anda cari siapa?” tanya Anin. Anin memandang wanita itu, ia sangat asing dengan sosok yang ada di hadapannya ini.
“ Apa kamu istrinya Shan?” tanyanya penuh semangat. Anin pun terkejut dengan pertanyaannya itu.
“ Iya, saya istrinya Shan,” jawab Anin. “ Kalau boleh tahu, Anda siapa?”
“ Oh ya perkenalkan nama saya Nada.”
Seketika Anin terkejut. Wanita yang selama ini sering ia dengar namanya dan pernah menjadi penyebab pertengkaran antara ia dan Shan, kini ada di hadapannya.
“ Maaf, tapi Shan tidak ada di rumah,” ujar Anin tanpa basa-basi.
“ Tapi, aku tidak mencari Shan. Aku ingin bertemu denganmu. Selama ini aku ingin sekali berbicara denganmu.”
__ADS_1
“ Denganku?”
“ Iya, denganmu. Apa kamu punya waktu untuk berbicara denganku?”
Sejenak Anin termangu, berpikir apakah ia harus menyetujui permintaannya ini.
“ Kalau begitu masuklah,” ujar Anin pada akhirnya.
“ Tidak, jangan di sini. Mari kita bicara di luar.”
“ Tapi...” Anin memandangnya sejenak lalu melihat perut buncitnya yang samar-samar terlihat. Ia menghela napas. Ia pun tak bisa menolak ajakan Nada. “ Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar.”
“ Oke,” ujarnya tersenyum.
*****
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai ini. Tak ada pembicaraan yang hadir di antara mereka. Sunyi senyap tanpa ada diiringi suara musik atau apa pun.
Anin masih menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dibicarakan olehnya nanti.
Wanita yang ada disamping-Nya ini memang sangat cantik. Tak pelak Shan pernah sangat menyukainya. Ia juga sangat bersahaja dengan gaya bicaranya yang lembut. Andai saja tak ada insiden di antara mereka, mungkin saja anak yang ada di kandungannya itu adalah anak Shan dan mereka hidup dengan bahagia.
“ Kita disini saja ya,” ujarnya tiba-tiba. Anin hanya mengangguk seraya tersenyum.
Mereka pun sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Anin dan Nada turun bersamaan lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam restoran tersebut.
Seorang pegawai tersenyum saat mereka memasuki tempat itu. Dengan ramah ia mempersilahkan mereka duduk lalu memberikan menu untuk mereka pesan.
Setelah memilih beberapa menu. Sang pegawai pun pergi meninggalkan mereka berdua. Di saat itulah Anin mulai merasa waswas dengan pembicaraan yang akan di mulai ini.
“ Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku?”
“ Tentang Shan, aku ingin berbicara mengenai Shan padamu.”
“ Shan...”
“ I-ya. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman karena membicarakan tentang suamimu.”
“ Tidak apa-apa, katakan saja.”
“ Kamu..., apa kamu tahu kalau aku dan Shan dulu pernah punya hubungan serius?”
“ Aku tahu. Aku juga tahu kalau kalian pernah bertemu beberapa waktu lalu.”
“ Kamu tahu? Apa Shan yang memberitahumu?”
“ Bukan, bukan Shan yang memberitahuku, tapi aku melihat kalian berdua dengan mata kepalaku sendiri.”
“ Jadi, kamu ada disana?”
“ Ya dan Shan tahu kalau aku ada disana, tapi dia memilihmu ketimbang aku.”
“ Aku minta maaf. Waktu itu aku yang memaksanya untuk memberikan waktu padaku untuk bicara padanya. Tolong jangan salah paham.”
“ Sudahlah, itu tidak penting lagi. Sekarang katakan saja apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan padaku.”
__ADS_1
“ Anin, Aku dan Shan tidak memiliki hubungan apa pun, kami hanya berteman. Hubungan itu hanya masa lalu dan tetap akan seperti itu. Aku hanya merasa nyaman jika bersama dengannya, maka dari itu aku memintanya untuk memberikan aku waktu untuk berbicara dengannya. Aku punya sedikit masalah dengan rumah tanggaku, aku hanya ingin sedikit nasihat darinya. Tidak ada hal lain selain itu. Kalau saja aku tahu kalau pertemuan itu malah menyakiti kalian, aku tidak akan memaksakan kehendakku. Aku minta maaf Anin.”
“ Aku tahu tentang cerita itu, Shan sudah menjelaskan semuanya padaku. Apa yang terjadi padamu, apa yang kalian bicarakan, aku sudah tahu.”
“ Benarkah, syukurlah, aku lega. Aku sekarang semakin yakin kalau Shan benar-benar menyukaimu, dia sangat takut kalau kamu nantinya salah paham.”
“ Menyukai-Ku?”
“ Iya, kenapa kamu malah kaget seperti itu? Pasti Shan sudah pernah menyatakan perasaannya padamu, kan.”
Anin mengangguk.
“ Jangan-jangan kamu ragu padanya?”
Anin terdiam.
“ Anin, jangan seperti itu. Shan serius dengan perasaannya padamu, jangan ragukan itu. Shan tipe orang yang hanya akan menyukai satu orang wanita saja. Tidak ada lagi perasaan apa pun terhadapku, perasaannya hanya untukmu saja.”
“ Hanya untukku?”
“ Hm,” ujar Nada mengangguk. “ Anin, bukankah kamu juga menyukai Shan?”
“ Aku?”
“ Iya, kamu.”
Anin seketika salah tingkah mendapatkan pertanyaan itu.
“ Kalau kamu menyukainya, jangan sia-siakan perasaanmu itu. Nanti kamu menyesal.”
“ Menyesal?”
“ Ya.”
Anin terdiam sesaat. Memikirkan semua yang telah diucapkan oleh Nada padanya. Semua perkataannya begitu membekas dihatinya.
“ Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Aku akan mengantarkanmu pulang.”
“ Tidak, aku bisa pulang sendiri.”
“ Apa kamu yakin?”
“ Iya.”
“ Baiklah. Aku mengucapkan terima kasih padamu karena sudah mau berbicara padaku.”
“ Tidak perlu seperti itu. Aku juga sangat berterima kasih padamu karena sudah mengatakan semuanya padaku.”
“ Iya, kalau begitu aku pamit.”
“ Iya, hati-hati di jalan.”
Nada pun mengangguk dan tersenyum.
Ia pun pergi meninggalkan Anin sendiri di tempat itu. Anin masih termangu memikirkan tentang Shan. Hatinya bercampur aduk memikirkan semua yang ia dengar hari ini.
__ADS_1