
“ Assalammualaikum”, ucap Anin memasuki rumah.
“ Waalaikumsalam.” Bunda menjawab salam dari Anin. “ Anin...”
“ Bunda,” sapanya menghampiri sang Bunda yang sedang menonton televisi.
“ Anin kangen sama Bunda,” ujarnya mulai manja.
“ Bunda juga kangen sama kamu, Nak,” timpal Bunda. “ Eh, tapi kamu kenapa sendiri? Shan mana?”
“ Shan masih kerja Bun.”
“ Oh, tapi kamu sudah minta izin sama dia kan kalau kamu ke sini.”
“ Ya begitu Bun.”
“ Begitu bagaimana!” Bunda langsung bangkit dari sofa. Anin kangen bukan main dengan reaksi Bundanya itu.
“ Bunda kenapa jadi gitu reaksinya, buat Anin kaget.”
“ Kamu kesini belum bilang sama Shan?” Anin menggelengkan kepalanya. “ Tuh kan kamu mulai bandel sama suami kamu.”
“ Ih Bunda, anaknya datang bukannya di sambut malah di omeli.”
“ Bagaimana Bunda mau menyambut kamu, kalau kamu diam-diam datang ke sini tanpa memberitahu Shan. Itu namanya kamu mulai tidak patuh sama suami.”
“ Ah Bunda ribet. Anin mau istirahat, numpang tidur doang malah di omeli habis-habisan.”
“ Anin....”
Anin berjalan tanpa mengubris panggilan Bundanya. Ia berjalan menuju kamarnya. Kamar yang masih sama saat ia meninggalkannya beberapa minggu yang lalu.
Tidak ada yang berubah dari kamar ini bahkan tampak lebih bersih dan rapi saat terakhir kali ia tinggalkan.
Anin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya sangat nyaman berada di kamarnya lagi. Menikmati ranjang empuknya seperti dulu.
Perlahan mata yang masih terjaga itu mulai terpejam. Menikmati tidur siangnya seperti dulu hingga terlelap tanpa ia ketahui sudah berapa lama ia menikmati tidurnya ini.
Anin tersentak dari tidurnya, entah sudah berapa lama ia terlelap. Anin mengerjap matanya dan samar-samar terlihat sosok bayangan seseorang dihadapannya.
Begitu penglihatannya mulai jelas, terlihatlah siapa sosok yang tadi ia lihat. Dan itu adalah Shan. Entah sudah berapa lama ia berada di sini sampai Anin terbangun dari tidur lelapnya.
“ Sudah bangun?”
“ Hm iya,” ujar Anin bangkit dari tidurnya. “ Kenapa kamu ada di sini?” tanya Anin heran.
“ Memangnya tidak boleh?” tanya Shan balik.
“ Bukan begitu,” jawabnya terbata. “ Hanya heran saja kenapa kamu bisa tahu kalau aku ada di sini.”
“ Kalau soal itu, Bunda yang memberitahu kalau kamu ada di sini. Makanya aku segera ke sini menemui kamu.”
“ Dasar Bunda tukang ngadu,” gumamnya.
“ Kamu lapar tidak?”
“ Tidak.”
“ Masih marah?”
__ADS_1
“ Iya.”
“ Apa kamu tidak percaya padaku?”
“ Memangnya aku harus percaya?”
“ Kenapa kita jadi adu argumen begini, tidak bisakah kita bicara dengan baik.”
“ Terserah...” ucap Anin memalingkan wajahnya.
Shan menghela napasnya.
“ Aku ingin bertanya sesuatu padamu?”
“ Tanyakan saja.”
“ Apa kamu sedekat itu dengan dosenmu?”
“ Ha? Dosennya yang mana?” Anin kebingungan dengan dosen yang dimaksud oleh Shan.
“ Dosen yang pernah mentraktirmu waktu itu. Apa kalian sedekat itu?”
“ Dia cuma dosenku. Apa salahnya kalau aku dekat dengannya, aku jadi tidak canggung kan kalau aku kesusahan dalam pelajaranku," jawabnya. " Apa jangan-jangan kamu sedang mencurigaiku.”
“ Aku bukan mencurigaimu. Lihatlah ini.” Shan menunjukkan ponselnya dan di dalamnya ada foto-fotonya bersama dengan Kemal. Anin sangat terkejut dengan keberadaan foto itu di dalam ponsel suaminya.
“ Kamu mencurigaiku sampai mengintaiku di kampus!” ujar Anin dengan suara agak tinggi.
“ Aku tidak melakukannya.”
“ Lalu foto ini? dari mana kamu mendapatkannya”
“ Seseorang mengirimkan foto-foto ini. Aku tidak tahu dari siapa dan apa tujuannya. Tapi melihat kedekatan kalian....”
“ Anin, pelankan suaramu!”
“ Kamu tidak percaya padaku kan.”
“ Lalu apa kamu percaya padaku?”
“ Shan...”
“ Kenapa kamu jadi egois seperti ini. Apa kamu pikir aku tidak serius denganmu.”
“ Ya! Kenapa waktu itu kamu lebih memilih dia dari pada aku.”
“ Anin...”
“ Kamu tidak bisa menjawabnya kan? Itu karena kamu merasa bersalah.”
“ Ya, aku masih menyukainya, kamu puas! Bukankah kamu sama saja dengan dosen itu.”
“ Itu urusanku, aku suka atau tidak, itu urusanku.”
“ Anin!”
“ Apa!”
Shan terdiam sejenak.
__ADS_1
“ Kita selesaikan di rumah, tidak enak kalau di dengar Bunda."
“ Aku tidak mau.”
“ Kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan lagi.”
“ Ya!”
“ Terserah, lakukan apa yang kamu mau,” ujar Shan keluar dari kamar itu.
Shan terbawa emosi saat menghadapi Anin. Ia pun menyadari kesalahannya itu, tak seharusnya ia melawan emosi yang sedang menggebu di dalam diri istrinya. Seharusnya ia menjadi pendingin bukan malah semakin memanaskan suasana.
Shan kembali ke dalam kamar. Terlihat Anin menutupi dirinya dengan selimut. Ia tak mungkin mengajak Anin berbicara kembali karena itu akan memperkeruh suasana.
Ia pun kembali keluar dari kamar dan membiarkan Anin tenang.
Di bawah Bunda sedang duduk dengan teh hangat di atas meja. Ia menatap menantunya itu seraya tersenyum.
“ Duduklah Shan,” ujar Bunda.
“ Iya Bun.” Shan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bunda pasti akan mempertanyakan apa yang terjadi antara dirinya dan Anin. Shan yakin kalau Bunda mendengar pembicaraan mereka yang memanas itu.
“ Bunda bukan ingin mencampuri urusan rumah tangan kalian. Tapi, sebagai orang tua, Bunda hanya bisa memberikan nasihat padamu, Nak. Anin itu memang anaknya keras, jadi menghadapinya jangan dengan keras juga, kamu pasti tahu itu kan Shan.”
“ Iya Bun, Shan salah sudah keras pada Anin. Seharusnya Shan bisa bersikap lebih dewasa lagi padanya bukan dengan melawan kekerasan Anin.”
“ Bunda mengerti, jadi bersabarlah dengannya. Apa pun yang terjadi dalam hubungan kalian, jangan menjadi alasan melakukan hal yang akan merugikan kalian berdua.”
“ Iya Bun, Shan akan ingat nasihat Bunda.”
“ Ya sudah, biarkan Anin di sini dulu. Nanti kalau sudah tenang, Bunda sama Ayah akan mengantarnya pulang.”
“ Baik Bun. Kalau begitu Shan permisi pulang.”
“ Iya Nak.”
Bunda pun mengantarkan Shan sampai ke halaman. Saat Shan memasuki mobilnya, ada sebuah panggilan masuk, Shan pun segera mengangkatnya.
“ Iya Pak Udin,’’ ujar Shan begitu mengetahui siapa penelepon itu.
“ Tuan Shan, ada di mana?”
“ Saya lagi ada di rumah Bunda. Memangnya ada apa Pak?”
“ Tuan tiba-tiba pingsan.”
“ Apa! Papa pingsan.”
“ Iya Tuan, sekarang kami lagi ada di jalan menuju rumah sakit.”
“ Tolong jaga Papa, Pak Udin. Shan akan segera ke rumah sakit,” ujar Shan mengakhiri pembicaraan. Bunda yang mendengar pembicaraan itu langsung meminta konfirmasi apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
“ Papa pingsan Bun, saat ini Papa di bawa ke rumah sakit.”
“ Kalau begitu cepatlah ke sana. Bunda akan menyusul nanti.”
“ Iya Bun, Shan pergi ya.”
__ADS_1
“ Hati-hati di jalan.”
Shan pun melajukan mobilnya ke rumah sakit. Di sepanjang jalan Shan tak hentinya berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Papanya itu. Semoga sang Papa akan baik-baik saja, begitulah yang ia harapkan