
Sekitar 45 menit waktu yang di butuh kan Shan dan Anin untuk sampai di kampusnya. Sekarang sudah pukul 8 kurang 15 menit dan Anin harus segera bergegas masuk kelas agar tidak ketinggalan ujian dari dosennya hari ini.
" Pulang jam berapa?"
" Jam tiga."
" Tunggu aku, aku akan menjemputmu lalu kita ke rumah sakit."
" Oke."
" Hati-hati."
" Iya, bye."
Sesaat Anin turun, mobil itu pun melaju meninggalkannya. Anin segera bergerak menuju kelasnya karena tak mau terlambat mengikuti ujian hari ini.
Di dalam kelas sudah ada teman-temannya dan ketiga sahabatnya yang sudah senyum-senyum tidak jelas, yang tentu saja Anin tahu arti dari senyuman yang tidak biasa itu.
" Tumben lama," celetuk Alex.
" Iya macet," dalihnya.
" Macet apa macet," ujar Yogi memanaskan pembicaraan.
" Berisik!" ujar Anin sambil menjulurkan lidahnya.
" Pagi semua," sapa sang dosen memasuki ruangan kelas.
" Pagi Pak."
" Hari ini kita ujian seperti yang sudah saya informasikan sebelumnya. Jadi tolong kerjakan dengan sebaik-baiknya."
" Iya Pak."
Ujian pun di mulai. Satu per satu kertas ujian di bagikan. Anin mengerjakan satu per satu soal yang tertera di sana. Walaupun sebelumnya ia tidak terlalu belajar karena akad nikahnya, tapi sedikit demi sedikit ia masih mengingat dan juga karena saat menuju ke kampus, ia sempat membaca materi yang pernah di ajarkan dosennya ini.
Tak terasa satu jam berlalu. Ujian pun usai. Kertas ujian sudah terkumpul di tangan sang dosen. Anin menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi. Ia lega ujian kali ini sesuai dengan harapannya.
" Gila, soalnya susah benar,"keluh Alex.
" Soalnya sih cuma di baca doang lex, jawabannya masih di awang-awang," celetuk Tasya sambil tertawa kecil.
" Dasar kamu, Tas."
" Nin, nanti pulang nongkrong yuk," usul Yogi yang mendapatkan persetujuan dari Alex dan Tasya.
" Iya Nin, hitung-hitung perayaan karena sudah sah," timpal Alex.
" Apaan sih, modus tuh namanya, mau makan gratis bilang," ujar Anin langsung menebak tepat sasaran. " Lain kali deh, hari ini Anin mau ke rumah sakit sama Shan."
" Untuk apa kalian ke rumah sakit?" tanya Tasya heran.
" Mau menjenguk papa, waktu nikah kan papa masih di rumah sakit. Jadi, ya harus ke sana menjenguk setelah nikah."
" Cie....sekarang papa dulu panggilnya om, peningkatan si Anin," celetuk Alex membuat Tasya dan Yogi malah tertawa.
" Jahat kamu Lex," celetuk Tasya memukul lengan Alex.
" Ledek terus, Anin sabar kok," oceh nya.
" Pokoknya kita tunggu makan besarnya, kapan pun, dimana pun,"ujar Alex.
" Iya, pada bawel deh semua," ujarnya bangkit dari tempat duduknya. " Anin mau ke perpustakaan, ada yang mau ikut?" Ketiga sahabatnya menggelengkan kepalanya. " Dasar, giliran di ajak ke perpustakaan pada nolak. Ya sudah, Anin pergi."
" Ya, hati-hati."
--------
__ADS_1
Anin mengambil satu per satu buku yang di anggapnya pas dengan tugas yang di berikan oleh dosennya yang akan kumpulkan minggu depan. Anin punya waktu sampai dua jam lamanya sebelum ia kembali berkutat dengan pelajarannya. Mata pelajaran selanjutnya tidak mengadakan ujian hanya melanjutkan presentasi yang sempat tertunda karena sang dosen ada urusan ke luar kota. Baginya itu bagus karena gilirannya tampil sudah berlalu, jadi dia hanya fokus dengan temannya yang akan tampil hari ini.
" Kenapa dosen yang satu ini rada ribet ya, terlalu perfeksionis," gerutunya pelan.
" Siapa?" Suara itu sontak mengagetkan Anin. " Siapa dosen itu?" tanyanya yang membuat Anin jadi serba salah.
" Pak Kemal, kenapa ada di sini?"
" Kenapa wajahmu jadi pucat begitu seperti lihat hantu saja."
" Bapak tiba-tiba muncul sih."
" Jadi saya buat kamu kaget?"
" Iyalah Pak, bikin kaget."
" Kalau begitu saya minta maaf."
" Tidak apa-apa Pak, saya juga cuma bercanda."
" Ternyata kamu bisa bercanda juga."
" Ya bisalah Pak."
Sang dosen pun tersenyum kecil. " Kenapa sendirian? Teman kamu yang lain mana?"
" Mereka lagi ada urusan lain Pak."
" Ohh, jadi di antara kalian berempat, cuma kamu yang serius sama tugas yang saya berikan."
" Bukan begitu Pak, mungkin mereka sudah selesai, cuma saya yang belum."
" Oh, begitu.'
" Bapak lagi cari buku juga?"
" Iya, kebetulan saya lihat kamu serius sekali dengan buku-buku kamu ini, makanya saya menghampiri kamu."
" Oh ya, bagaimana dengan permintaan saya waktu itu, apa sudah kamu pikirkan kapan waktu yang tepat?"
" Ah itu Pak, tidak perlu kok, serius deh Pak."
" Saya lebih serius Anin."
" Ha??"Anin jadi serba salah dengan situasinya saat ini. Di satu sisi, pria ini adalah dosennya, di sisi lain ia belum membicarakan hal ini pada suaminya.
" Kapan?" tanyanya serius
" Mungkin besok Pak," jawab Anin terbata.
" Besok?"
" Iya."
" Baiklah, jadwal saya juga tidak terlalu padat besok."
" Gawat, gimana minta izinnya sama Shan ya," gumamnya.
" Anin..."
" Iya Pak," sahutnya tersadar dari lamunannya. " Maaf Pak."
" Kenapa minta maaf memang kamu salah apa?"
" Iya sih Pak," ujarnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
" Ya sudah, saya tinggal ya. Jangan lupa besok."
__ADS_1
" Iya Pak."
" Semangat tugasnya."
" Iya Pak," ujar Anin tersenyum. " Hati-hati Pak."
" Oke."
" Duh, kenapa Pak Kemal jadi bicara santai gini ya, sama yang lain bicaranya formal. Apa mungkin.....Ah, tidak..tidak mana mungkin. Jangan yang aneh-aneh deh, dasar bodoh," gumamnya sambil menggerutu.
------
Anin berjalan menyusuri lorong kampus setelah selesai dengan buku-buku yang ada di perpustakaan. Tasya sudah meneleponnya , mengingatkannya kalau sebentar lagi akan masuk.
Sebelum masuk ke kelas terlebih dahulu ia menyempatkan diri ke kantin untuk sekedar membeli air mineral. Sebenarnya dia agak lapar, tapi waktu tidak mencukupi untuk dirinya memakan sesuatu di sana. Jadilah dia hanya membeli air dan beberapa permen untuk di kunyah nya.
Setelah membayar, Anin bermaksud kembali ke kelasnya. Namun di tengah perjalanan, ada seorang wanita yang menyapanya. Sebenarnya Anin tak mengenal wanita yang ada di hadapannya ini, tapi entah kenapa ia tahu nama Anin.
" Ada apa?" tanya Anin sedikit canggung.
" Maaf ya, pasti kamu kaget tiba-tiba aku memanggil namamu padahal kita tidak saling kenal."
" Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"
" Aku Kania. Boleh bicara sebentar tidak?"
" Mau bicara apa? soalnya aku ada mata kuliah hari ini"
" Cuma sebentar kok, boleh ya?"
" Ya sudah, mau bicara apa?"
" Kamu punya hubungan apa sama Pak Kemal?"
" Ha????" Anin sontak kaget dengan pertanyaannya itu. Entah apa maksud dari pertanyaan yang di lontarkan nya itu padanya.
" Maksudnya apa ya? Hubungan apa? "
" Iya, soalnya akhir-akhir ini aku lihat kalian terlihat dekat, jadi aku ingin tahu hubungan kalian seperti apa."
" Kami tidak sedekat itu, hanya hubungan biasa saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Pak Kemal adalah sepupuku, jadi aku ingin tahu hubungan kalian bagaimana".
" Aku mahasiswi dan Pak Kemal adalah dosen, hanya sebatas itu, tidak ada yang lain."
" Kamu yakin?"
" Tentu saja."
" Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas waktunya. Sekali lagi aku minta maaf."
" Tidak apa-apa, tidak masalah."
" Kalau begitu saya permisi."
" Iya silahkan."
Anin masih tak percaya dengan kejadian hari ini yang menimpanya. Sangat aneh menurutnya, mengapa semua tentang sang dosen muda di kampusnya, padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa.
Anin merogoh tasnya karena ponselnya terus berdering. " Tasya," gumamnya saat melihat nama Tasya di layar ponselnya.
" Iya Tas."
" Dimana? kok lama? cepat masuk."
" Iya iya bentar."
__ADS_1
Tut!
Ponsel itu mati. Anin pun bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.